Sebelumnya : Hunter x Hunter Chapter 142
"Pertama-tama, aku akan menjelaskan caraku memasang bom pada tubuh kalian" Lelaki bomber itu bersiap untuk menjelaskannya dari awal. "Aku memiliki suatu kemampuan yang disebut sebagai Countdown. Dengan mengucapkan suatu kata kunci sambil menyentuh bagian tubuh dari targetku yang hendak aku ledakan, bom akan terpasang dan siap untuk diledakan. Dan, kata kuncinya adalah Bomber"
"!!!?" Orang-orang mulai ingat. Tanpa mereka curigai, lelaki itu memang pernah menyentuh mereka sambil mengatakan Bomber.
Misalnya saja saat menyentuh pundak lelaki berkulit hitam sambil berkata, "Kelihatannya Bomber muncul lagi" Atau saat secara akrab menyentuh Poorhatto sambil berkata, "Hati-hati dengan Bomber, jangan biarkan dia menghancurkan semangatmu"
"Untuk menjinakannya, kalian harus menyentuhku sambil berkata, Bomber tertangkap. Tapi seperti yang kalian lihat tadi,aku punya kemampuan lain, yaitu teknik yang disebut sebagai Little Flower. Aku akan menggunakan teknik ini untuk menghentikan kalian menjinakan bom itu. Tapi kalau masih ingin mencoba, waspadalah"
"???"
Bom-bom yang di dalamnya terdapat penghitung mulai bermunculan di bagian-bagian tubuh orang-orang kelompok itu. Ada yang di bahu, ada juga yang di kepala, bermacam-macam.
"I-Ini!!?"
"Hei, apa ini!!?"
"Di dadaku juga!!"
"Kelihatannya sudah bekerja" Ucap lelaki Bomber. "Kalian pasti berpikir kalau aneh kan, kenapa aku harus menjelaskan kemampuanku seperti ini? Tapi sebenarnya, itu adalah untuk mempermudah prosesnya. Menjelaskan semua kemampuanku pada target, itu adalah syarat yang harus aku penuhi untuk memulai hitungan mundur bom itu" Jelasnya.
"Kau hanya menunggu hari dimana semua kartu dari anggota berkumpul" Ucap lelaki berkulit hitam.
"Mungkin jika aku menunggu lebih lama dan kita mendapat kartu yang lebih banyak, penantang lain akan bermunculan" Ucap Bomber. Kemudian, "Baiklah, sekarang aku akan menawarkan sesuatu pada kalian. Bagaimana kalau kalian menukar sembilan puluh kartu kunci yang kalian miliki dengan nyawa kalian? Yah, karena aku yang memiliki sembilan dari itu, berarti delapan puluh satu. Kalau kalian melakukannya, aku akan memberitahu cara lain untuk menjinakan semua bomnya. Santai saja, diskusikanlah disini. Pertukaran akan di lakukan di Kastil tua Battera. Ya, lokasi game stationnya. Cukup satu orang, siapa saja boleh"
"Apa kau gila!?" Ucap Poorhatto. "Kalau kami hanya perlu menangkapmu dan mengucapkan kata kunci itu, kenapa kami harus sampai melakukan pertukaran?"
"Apa kau pikir kau bisa kabur dari sini!?" Tambah anggota lain. "Jangan pikir kau bisa kabur dengan mudah dari sini"
"Heh, Book" Bomber itu mengeluarkan buku penyimpanannya.
"Sial!!" Salah seoranga anggota hendak menghentikannya namun ia tak bisa. Akhirnya, sang bomberpun berhasil melakukan apa yang diinginkannya, "Aktifkan kartu Leave!!!! Hahaha, semoga kita bisa berjumpa lagi"
Bomber itupun meninggalkan game dengan kartu sihir yang digunakan untuk keluar dari Greed Island itu.
"Cih, dia keluar dari permainan ini!!"
"Ayo gunakan Leave juga dan kejar dia, masih belum terlambat!!"
"Tunggu!! Jika kita keluar, kita akan kehilangan semua kartu sihir kita!!"
"Tentu saja yang akan mengejar akan mengumpulkan kartu sihirnya terlebih dahulu ke orang lain"
"Tapi, bagaimana kalau dia tetap bisa kabur dari kita di luar permainan? Kita tetap akan kehabisan waktu dan mati"
Para anggota kelompok yang mana di dalam tubuhnya sudah terpasang bom waktu itu saling berdebat.
"Lebih baik kita berikan saja ..."
"Bodoh!!! Apa jaminannya kalau dia akan menjinakan semua bomnya walau kita memberi semua kartunya!!?"
"Tenanglah ..." Ucap salah seorang anggota pendahulu.
"BUkan ide bagus untuk mengikutinya dengan banyak orang. Apa kalian lupa alasan kita berkumpul disini!? Itu adalah karena kita menyadari kalau kemampuan bertarung kita sangat kurang. Sekali keluar, dia mungkin akan bergabung dengan temannya yang sesungguhnya. Dan dari apa yang kita lihat, sekali dia berhenti berpura-pura, dia menjadi petarung yang sangat hebat. Apa ada dari kalian disini yang yakin bisa mengalahkannya?"
"Ku kira tidak. Orang itu sangat ahli" Ucap lelaki berkulit hitam.
"Dapat menciptakan enam puluh bom sekaligus, dan bukan hanya bom biasa melainkan bom yang bisa mengakibatkan cidera yang parah dan juga memiliki sistem waktu. Kekuatan, manipulasi, materialisasi. Untuk bisa menyeimbangkan kombinasi dari tiga tipe nen itu, dan sikap percaya dirinya itu, bahkan jika kita menyerangnya secara bersama-sama, dia akan menyerang balik dengan Little Flower"
"Sial, padahal sedikit lagi ..."
"Orang yang cukup menakutkan. Dia pasti sudah merencanakan ini sejak lima tahun yang lalu" Ucap lelaki berkulit hitam.
"Dia memburu pemain lain di permainan menggunakan nama Bomber agar dia bisa menyebutkan kata kuncinya ke banyak orang tanpa keanehan sama sekali"
"Dia membunuh pemain hanya untuk itu!?"
"Hanya itu? Kau bercanda? Lima Puluh Milyar sedang dipertaruhkan disini"
"!!?" Anggota lain menyadari suatu keanehan pada proses hitung mundur di bom.
"Tunggu dulu! ANgkanya berubah dengan kecepatan yang berbeda"
"Benar!"
"Hei, punyaku hitungannya lebih cepat dari punyamu!"
"Ada apa ini?"
"Apa ada yang tahu kenapa?"
"Poorhatto, tolong beritahu nomorku, cukup angka terakhir saja" Pinta lelaki berkulit hitam, karena bomnya terletak di bagian yang angkanya tak bisa ia lihat. Kemudian, Poorhattopun memberitahu.
"Sembilan ...
Delapan ...
Tujuh ...
Enam ..."
"Detak jantung" Ucap lelaki berkulit hitam.
"Eh?"
"Hitungan mundur bom ini sesuai dengan detak jantung. Jika kau terlalu kaget atau bergerak terlalu banyak, irama jantung akan semakin cepat dan begitu juga dengan hitungan mundurnya. Hitungan mundur dimulai dari enam ribu"
"Dengan kecepatan normal, hitungan itu akan mencapai nol dalam waktu sekitar satu jam"
"Apa yang bisa kita lakukan dengan mengetahui itu? Tidak ada!!" Ucap anggota lain.
"Jangan terlalu banyak bereaksi, atau kau akan mati lebih cepat" Ucap lelaki berkulit hitam.
"Dan, kita perlu mencapai satu keputusan. Untuk menyerahkan kartu, atau bertarung dengannya"
"Ku rasa kita harus menyerahkan kartunya"
"Ya"
"Kau berkata begitu karena hadiahmu kecil!!" Ucap seorang anggota pendahulu.
"Seharusnya aku bisa mendapat empat milyar, sial ..."
"Apa gunanya uang itu jika kau mati? Mau berpesta di akhirat?"
"Apa!? Kau ..."
"Hentikan, kau hanya akan mempercepat hitungannya saja"
"Apa kita benar-benar tak bisa melakukan apa-apa!?"
"Hitungan Jisper sudah dibawah tiga ribu lima ratus ..." Salah seorang anggota pendahulu meneteskan air mata. "Tidak ada waktu lagi untuknya. Ku mohon, serahkan kartu-kartunya ..."
Di kastil tua Battera, ruang game, lelaki Bomber sudah menunggu. Dan kemudian, seseorang yang menjadi wakil dari mereka keluar dari game itu, lelaki yang ternyata adalah Poorhatto.
"Mengejutkan, aku pikir Nikkess yang akan datang kemari"
"Aku juga kaget, aku kira akan ada lebih dari satu orang disini" Ucap Poorhatto.
"Hm? Begitukah?"
Ternyata tak hanya satu, ada dua rekan bomber berdiri di belakang Poorhatto.
"Yah, aku bisa mengerti kalau kau tak bisa merasakan kehadiran mereka. Mereka berdua memang memiliki kemampuan yang sudah tak perlu diragukan lagi. Konyol. Tapi bolehkah aku mengambil cincinnya sekarang?"
"..." Poorhatto terdiam.
"Ada apa?"
"Kami masih belum bisa memberikannya padamu. Atau lebih tepatnya, kami tidak setuju. Terutama Nikkess, dia mau menggunakan Archangel's Breath pada Jisper yang sekarat"
"Lucu sekali, apa aku harus kesana dan membunuhnya? Cepat kembali dan bawa sisa kartu kunci itu"
"Kalau begini, bisa gagal" Ucap Poorhatto.
"Apa?"
"Semua orang lebih cerdik dari kelihatannya. Jika kita bisa mencapai suatu keputusan sebelum waktunya habis, semua akan mati, dan data dari cincin akan hilang. Tapi, aku kira aku bisa ..." Poorhatto hendak bernegosiasi dengannya. Namun, lelaki bomber itu malah langsung mencekik lehernya.
"Ku kira aku bisa membuat mereka mencapai satu keputusan, begitu kah? Lakukan sesuatu dan menjadi anggota kami, apa itu yang kau mau? Apa aku harus menunjukan padamu kekuatanku yang sesungguhnya? Tenang atau gila, kau punya kepintaran untuk membuat lawanmu mengerti"
"Tu-tunggu!! JIka kau membunuhku, kartunya ada di saku ... Arghh!!!!"
Tanpa basa-basi, Bomber meledakan leher Poorhatto.
"Jangan khawatir" Ucap lelaki itu.
"Di luar permainan, meskipun kau membunuh pemain lain dan mencuri cincinnya, data slot kunci tak akan hilang. Aku sudah mencobanya. Aku menyebut ini sebagai peraturan rahasia" Bomber itupun memeriksa cincin Poorhatto. Namun ...
"Bah, tampaknya kau memang tidak punya kartunya"
Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 144
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
"Pertama-tama, aku akan menjelaskan caraku memasang bom pada tubuh kalian" Lelaki bomber itu bersiap untuk menjelaskannya dari awal. "Aku memiliki suatu kemampuan yang disebut sebagai Countdown. Dengan mengucapkan suatu kata kunci sambil menyentuh bagian tubuh dari targetku yang hendak aku ledakan, bom akan terpasang dan siap untuk diledakan. Dan, kata kuncinya adalah Bomber"
"!!!?" Orang-orang mulai ingat. Tanpa mereka curigai, lelaki itu memang pernah menyentuh mereka sambil mengatakan Bomber.
Misalnya saja saat menyentuh pundak lelaki berkulit hitam sambil berkata, "Kelihatannya Bomber muncul lagi" Atau saat secara akrab menyentuh Poorhatto sambil berkata, "Hati-hati dengan Bomber, jangan biarkan dia menghancurkan semangatmu"
"Untuk menjinakannya, kalian harus menyentuhku sambil berkata, Bomber tertangkap. Tapi seperti yang kalian lihat tadi,aku punya kemampuan lain, yaitu teknik yang disebut sebagai Little Flower. Aku akan menggunakan teknik ini untuk menghentikan kalian menjinakan bom itu. Tapi kalau masih ingin mencoba, waspadalah"
"???"
Bom-bom yang di dalamnya terdapat penghitung mulai bermunculan di bagian-bagian tubuh orang-orang kelompok itu. Ada yang di bahu, ada juga yang di kepala, bermacam-macam.
"I-Ini!!?"
"Hei, apa ini!!?"
"Di dadaku juga!!"
"Kelihatannya sudah bekerja" Ucap lelaki Bomber. "Kalian pasti berpikir kalau aneh kan, kenapa aku harus menjelaskan kemampuanku seperti ini? Tapi sebenarnya, itu adalah untuk mempermudah prosesnya. Menjelaskan semua kemampuanku pada target, itu adalah syarat yang harus aku penuhi untuk memulai hitungan mundur bom itu" Jelasnya.
"Kau hanya menunggu hari dimana semua kartu dari anggota berkumpul" Ucap lelaki berkulit hitam.
"Mungkin jika aku menunggu lebih lama dan kita mendapat kartu yang lebih banyak, penantang lain akan bermunculan" Ucap Bomber. Kemudian, "Baiklah, sekarang aku akan menawarkan sesuatu pada kalian. Bagaimana kalau kalian menukar sembilan puluh kartu kunci yang kalian miliki dengan nyawa kalian? Yah, karena aku yang memiliki sembilan dari itu, berarti delapan puluh satu. Kalau kalian melakukannya, aku akan memberitahu cara lain untuk menjinakan semua bomnya. Santai saja, diskusikanlah disini. Pertukaran akan di lakukan di Kastil tua Battera. Ya, lokasi game stationnya. Cukup satu orang, siapa saja boleh"
"Apa kau gila!?" Ucap Poorhatto. "Kalau kami hanya perlu menangkapmu dan mengucapkan kata kunci itu, kenapa kami harus sampai melakukan pertukaran?"
"Apa kau pikir kau bisa kabur dari sini!?" Tambah anggota lain. "Jangan pikir kau bisa kabur dengan mudah dari sini"
"Heh, Book" Bomber itu mengeluarkan buku penyimpanannya.
"Sial!!" Salah seoranga anggota hendak menghentikannya namun ia tak bisa. Akhirnya, sang bomberpun berhasil melakukan apa yang diinginkannya, "Aktifkan kartu Leave!!!! Hahaha, semoga kita bisa berjumpa lagi"
Bomber itupun meninggalkan game dengan kartu sihir yang digunakan untuk keluar dari Greed Island itu.
"Cih, dia keluar dari permainan ini!!"
"Ayo gunakan Leave juga dan kejar dia, masih belum terlambat!!"
"Tunggu!! Jika kita keluar, kita akan kehilangan semua kartu sihir kita!!"
"Tentu saja yang akan mengejar akan mengumpulkan kartu sihirnya terlebih dahulu ke orang lain"
"Tapi, bagaimana kalau dia tetap bisa kabur dari kita di luar permainan? Kita tetap akan kehabisan waktu dan mati"
Para anggota kelompok yang mana di dalam tubuhnya sudah terpasang bom waktu itu saling berdebat.
"Lebih baik kita berikan saja ..."
"Bodoh!!! Apa jaminannya kalau dia akan menjinakan semua bomnya walau kita memberi semua kartunya!!?"
"Tenanglah ..." Ucap salah seorang anggota pendahulu.
"BUkan ide bagus untuk mengikutinya dengan banyak orang. Apa kalian lupa alasan kita berkumpul disini!? Itu adalah karena kita menyadari kalau kemampuan bertarung kita sangat kurang. Sekali keluar, dia mungkin akan bergabung dengan temannya yang sesungguhnya. Dan dari apa yang kita lihat, sekali dia berhenti berpura-pura, dia menjadi petarung yang sangat hebat. Apa ada dari kalian disini yang yakin bisa mengalahkannya?"
"Ku kira tidak. Orang itu sangat ahli" Ucap lelaki berkulit hitam.
"Dapat menciptakan enam puluh bom sekaligus, dan bukan hanya bom biasa melainkan bom yang bisa mengakibatkan cidera yang parah dan juga memiliki sistem waktu. Kekuatan, manipulasi, materialisasi. Untuk bisa menyeimbangkan kombinasi dari tiga tipe nen itu, dan sikap percaya dirinya itu, bahkan jika kita menyerangnya secara bersama-sama, dia akan menyerang balik dengan Little Flower"
"Sial, padahal sedikit lagi ..."
"Orang yang cukup menakutkan. Dia pasti sudah merencanakan ini sejak lima tahun yang lalu" Ucap lelaki berkulit hitam.
"Dia memburu pemain lain di permainan menggunakan nama Bomber agar dia bisa menyebutkan kata kuncinya ke banyak orang tanpa keanehan sama sekali"
"Dia membunuh pemain hanya untuk itu!?"
"Hanya itu? Kau bercanda? Lima Puluh Milyar sedang dipertaruhkan disini"
"!!?" Anggota lain menyadari suatu keanehan pada proses hitung mundur di bom.
"Tunggu dulu! ANgkanya berubah dengan kecepatan yang berbeda"
"Benar!"
"Hei, punyaku hitungannya lebih cepat dari punyamu!"
"Ada apa ini?"
"Apa ada yang tahu kenapa?"
"Poorhatto, tolong beritahu nomorku, cukup angka terakhir saja" Pinta lelaki berkulit hitam, karena bomnya terletak di bagian yang angkanya tak bisa ia lihat. Kemudian, Poorhattopun memberitahu.
"Sembilan ...
Delapan ...
Tujuh ...
Enam ..."
"Detak jantung" Ucap lelaki berkulit hitam.
"Eh?"
"Hitungan mundur bom ini sesuai dengan detak jantung. Jika kau terlalu kaget atau bergerak terlalu banyak, irama jantung akan semakin cepat dan begitu juga dengan hitungan mundurnya. Hitungan mundur dimulai dari enam ribu"
"Dengan kecepatan normal, hitungan itu akan mencapai nol dalam waktu sekitar satu jam"
"Apa yang bisa kita lakukan dengan mengetahui itu? Tidak ada!!" Ucap anggota lain.
"Jangan terlalu banyak bereaksi, atau kau akan mati lebih cepat" Ucap lelaki berkulit hitam.
"Dan, kita perlu mencapai satu keputusan. Untuk menyerahkan kartu, atau bertarung dengannya"
"Ku rasa kita harus menyerahkan kartunya"
"Ya"
"Kau berkata begitu karena hadiahmu kecil!!" Ucap seorang anggota pendahulu.
"Seharusnya aku bisa mendapat empat milyar, sial ..."
"Apa gunanya uang itu jika kau mati? Mau berpesta di akhirat?"
"Apa!? Kau ..."
"Hentikan, kau hanya akan mempercepat hitungannya saja"
"Apa kita benar-benar tak bisa melakukan apa-apa!?"
"Hitungan Jisper sudah dibawah tiga ribu lima ratus ..." Salah seorang anggota pendahulu meneteskan air mata. "Tidak ada waktu lagi untuknya. Ku mohon, serahkan kartu-kartunya ..."
Di kastil tua Battera, ruang game, lelaki Bomber sudah menunggu. Dan kemudian, seseorang yang menjadi wakil dari mereka keluar dari game itu, lelaki yang ternyata adalah Poorhatto.
"Mengejutkan, aku pikir Nikkess yang akan datang kemari"
"Aku juga kaget, aku kira akan ada lebih dari satu orang disini" Ucap Poorhatto.
"Hm? Begitukah?"
Ternyata tak hanya satu, ada dua rekan bomber berdiri di belakang Poorhatto.
"Yah, aku bisa mengerti kalau kau tak bisa merasakan kehadiran mereka. Mereka berdua memang memiliki kemampuan yang sudah tak perlu diragukan lagi. Konyol. Tapi bolehkah aku mengambil cincinnya sekarang?"
"..." Poorhatto terdiam.
"Ada apa?"
"Kami masih belum bisa memberikannya padamu. Atau lebih tepatnya, kami tidak setuju. Terutama Nikkess, dia mau menggunakan Archangel's Breath pada Jisper yang sekarat"
"Lucu sekali, apa aku harus kesana dan membunuhnya? Cepat kembali dan bawa sisa kartu kunci itu"
"Kalau begini, bisa gagal" Ucap Poorhatto.
"Apa?"
"Semua orang lebih cerdik dari kelihatannya. Jika kita bisa mencapai suatu keputusan sebelum waktunya habis, semua akan mati, dan data dari cincin akan hilang. Tapi, aku kira aku bisa ..." Poorhatto hendak bernegosiasi dengannya. Namun, lelaki bomber itu malah langsung mencekik lehernya.
"Ku kira aku bisa membuat mereka mencapai satu keputusan, begitu kah? Lakukan sesuatu dan menjadi anggota kami, apa itu yang kau mau? Apa aku harus menunjukan padamu kekuatanku yang sesungguhnya? Tenang atau gila, kau punya kepintaran untuk membuat lawanmu mengerti"
"Tu-tunggu!! JIka kau membunuhku, kartunya ada di saku ... Arghh!!!!"
Tanpa basa-basi, Bomber meledakan leher Poorhatto.
"Jangan khawatir" Ucap lelaki itu.
"Di luar permainan, meskipun kau membunuh pemain lain dan mencuri cincinnya, data slot kunci tak akan hilang. Aku sudah mencobanya. Aku menyebut ini sebagai peraturan rahasia" Bomber itupun memeriksa cincin Poorhatto. Namun ...
"Bah, tampaknya kau memang tidak punya kartunya"
Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 144
Comments
Post a Comment