Skip to main content

Versi Teks Hunter x Hunter Chapter 144

Sebelumnya : Hunter x Hunter Chapter 143

Orang-orang yang tubuhnya telah ditempeli oleh bom para bomber berkumpul di tempat yang sudah ditentukan, yaitu padang rumput awal mulai. Mereka menunggu kedatangan seseorang, seseorang dari pihak bomber. Hingga kemudian, seorang lelakipun muncul menghampiri mereka, salah satu dari tiga bomber itu.

"Ini, aku ada hadiah untuk kalian" Lelaki itu melemparkan sebuah tas kresek pada mereka, sebuah kantung yang ternyata isinya tak lain adalah kepala Poorhatto.


"Lalu, kalian sudah membawa ke depalan puluh satu kartu kunci yang dijanjikan kan? Kalau tidak, terpaksa negosiasi ini akan kami hentikan" Ucap lelaki anggota bomber itu. "Kemudian, aku harus keluar dari game ini, jadi tolong berikan aku satu kartu leave" Pintanya.

"Apa kau bercanda!? Leave adalah sebuah kartu sihir yang sangat berharga, tak mungkin kami memberikannya padamu!!" Ucap salah seorang dari mereka, yang kelihatannya masih belum begitu setuju dengan ide untuk menyerahkan kartu-kartunya.
"Hei hei, sudah, berikan saja" Ucap anggota lainnya.

"Hmm, jadi tidak mau ya? Kalau aku tidak kembali, mustahil aku bisa menjinakan bom kalian"

"Apa?"

"Sebenarnya, aku juga bomber. Gensuru adalah pemimpinnya, sedangkan aku dan satunya lagi adalah anggotanya. Bomber terdiri dari tiga orang. Kalau kami bertiga menempelkan jempol secara bersama-sama dan mengatakan kata kuncinya, semua bom yang sudah terpasang akan dinetralkan. Itulah cara lain untuk menetralkan bomnya. Yah, kalau kalau kalian memang tidak mau ..."

"Tunggu, gunakan saja punyaku" Alhirnya salah seorang dari mereka mau memberi.

Kemudian, dengan sombongnya lelaki itu langsung mengambil kartu yang diserahkan. Serta kemudian malah memukulnya. "Lama sekali, bodoh" Ucapnya.

"Pertemuan selanjutnya, kami juga butuh leave, jadi siapkan tiga buah ya" Ucap lelaki itu sebelum akhirnya pergi lagi meninggalkan permainan, menuju tempat Gensuru dan satu lagi temannya berada.


Setelah tewasnya Poorhatto, kini mereka bersungguh-sungguh dan mengirim utusan yang tepat, salah seorang anggota inti kelompok itu. Lelaki itu telah membawa cincin berisi data yang di dalamnya terdapat ke delapan puluh satu kartu kunci yang para bomber inginkan. Ia pergi meninggalkan game, dan kemudian menemui ketiga bomber di kastil tua milik Battera.

"Akhirnya kau datang juga, sekarang cepat serahkan cincinnya" Ucap Gensuru, ketua para bomber.

"Jisper sudah mati" Ucap lelaki itu.

"Lalu memangnya kenapa? Cepat serahkan cincinnya"

"Pertama, bebaskan dulu semua orang!"

"Jangan membuatku tertawa. Pertama aku harus mengambil cincin itu dan kembali ke permainan untuk mengecek apa semua kartu sudah ada disana. Ingat, kita tak bisa menggunakan buku penyimpanan di luar permainan. Urusan bomnya nanti saja. Untuk terakhir kalinya, cepat serahkan cincinnya"

Tak ada pilihan lain, lelaki itupun menyerahkan cincin yang dibawanya. Kemudian tentu saja, Gensurupun mengambilnya.

"Sabu, coba pakai ini" Genzuru memberikan cincin itu untuk dicek oleh salah satu anak buahnya, Sabu.

"Aku? Apa tidak apa-apa?"

"Aku masih memakai cincin milikku. Kalau aku memakai cincin di luar permainan, data dari permainan sebelumnya akan ditimpa. Sekarang, bagaimana kalau kita kembali bersama-sama?"

Singkat cerita, mereka berempatpun kembali ke dalam game.

"Apa yang terjadi? Kenapa bomnya masih ada?" Orang-orang bertanya-tanya. Sementara Sabu dan Gensuru, mereka mengecek buku penyimpanannya. Dan ternyata memang benar, terdapat ke delapan puluh satu kartu yang dijanjikan di sana.

"Ooh, delapan puluh satu kartu kunci, seperti yang dijanjikan"

"Kami sudah melakukan apa yang kau minya, jadi kumohon jinakan bom-bom itu"

"Tentu saja, aku selalu menepati janjiku. Tapi, berikan kami kartu Leave dulu" Ucap Gensuru. Dan kemudian, salah seorang dari merekapun memberikan kartu Leave.

"Baiklah, negosiasi ini selesai. Sabu, Bara, ayo" Gensuru mengajak kedua rekannya untuk menempelkan jempol dan mengucapkan kata kuncinya, "Release"

Booombbbb!!!!

Ternyata itu bukan untuk melepaskan bomnya, melainkan untuk meledakkan semuanya.

"Kalian sudah dibebaskan kan, bebas dari terror yang menghantui kalian, fufufu" Ucap Gensuru.
"Mana mungkin aku menepati janji dengan orang-orang bodoh seperti kalian? Release bukanlah kata kunci untuk menjinakan bomnya melainkan untuk meledakannya, hahaha!!!"

Pada akhirnya, orang-orang itu berakhir dengan kematian.

Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 144

Sementara itu, Gon dan Killua sedang berlatih. Dan secara perlahan, mereka mulai terbiasa untuk mengatur porposi aura yang harus mereka gunakan, saat menyerang atau bertahan.

"Bagus, sekarang istirahatlah" Ucap Biscuit. Dan kemudian Gon dan Killuapun menghentikan latihan adu tanding mereka.

"Dalam dua minggu, kalian telah membuat suatu kemajuan yang sangat besar. Aku kira akan memakan waktu dua bulan, aku kagum pada kalian. Sekarang, tak masalah untuk lanjut ke level terakhir"

"!!?"

"Di level terakhir, kita akan melakukan latihan dengan tipe kalian masing-masing" Biscuit menunjukan jarinya.

"Tiga!!!!" Ucap Gon dan Killua kompak.

"Bingo! Seri" Ucap Biscuit. "Gon adalah tipe kekuatan, sedangkan Killua adalah tipe transformasi. Boleh saja kalau hanya mempelajari tipemu sendiri, tapi kau tak akan menjadi petarung yang fleksibel dan latihannyapun tidak akan efisien. Bentuk yang ideal adalah seperti bentuk gunung"

"??"

"Puncaknya adalah tipe kalian masing-masing. Tapi juga harus disertai dengan jenis yang lain, meski tak setinggi puncaknya. Juga sebenarnya kalau kalian mempelajari semua tipe dengan seimbang, itu malah akan mempercepat mempelajari tipe kalian" Biscuit kembali menunjukan jarinya.

"Sembilan!!!"

"Bingo! Seri lagi. Kalau begitu, ayo kita mulai!!"

"Ya!!"

"Bingo!!!"


Di sisi lain, suatu lautan, para anggota Gene Ryodan terlihat tengah berlayar menggunakan suatu perahu. Sampai akhirnya, terlihat suatu pulau di depan mereka.

"Ternyata memang benar-benar ada di Dunia nyata" Ucap Phinks. Kelihatannya, pulau yang hendak mereka tuju tak lain adalah Greed Island. Ternyata benar, Greed Island tak ada di dalam game melainkan benar-benar ada di dunia nyata.

"Kita masih belum mengetahuinya dengan pasti kan, mungkin saja cuma kebetulan" Ucap Franklin.

"Tapi dari analisa batu yang kita bawa pulang itu, tipe tumbuhan dan vegetasi, serta kenyataan kalau kita sangat jauh dari navugasi, semua kondisinya terpenuhi di sini, di tempat ini" Ucap Shalnark. "Tidak diragukan lagi. Ini dia, Greed Island"

Mereka hendak menyelinap masuk ke Greed Island melalui cara menerobos, tidak dengan menggunakan console game. Akan tetapi ternyata, game master mengetahui hal ini.

"Penyelundup"

Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 145
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD



Comments