Sebelumnya : Beelzebub Chapter 42
Akibat ulah bayi Beel, Oga dan Furuichi ikut masuk ke dunia Iblis. Dan sialnya, mereka terdampar di suatu wilayah liar yang bahkan tak terjangkau oleh kerajaan. Nasib mereka semakin sial mengingat Alaindelon sudah tak sadarkan diri, menghilang, dan tentunya tak bisa mengantarkan mereka kembali ke dunia manusia.
Namun di tengah kegelapan tersbut, muncul secercah cahaya harapan, Hilda menjelaskan kalau di sana terdapat putri Alaindelon.
"Putrinya?"
"Benar. Mulai sekarang, kalian carilah putrinya." Pinta Hilda, "Dan jangan khawatir, aku akan terus memandu kalian, aku tahu diaman lokasinya, jadi jangan pernah lepas dari ponsel ini"
Sementara itu dari kejauhan, dua lelaki misterius masih terus mengamati. "Manusia?" Ucap salah seorang dari mereka, yaitu lelaki botak sambil menggigit buah yang dibawanya.
"Nah, Gary, sekarang bagaimana?" Ucapnya lagi ke lelaki satunya.
Oga dan yang lainnya menelusuri hutan rimba yang liar, dan penuh medan yang cukup sulit untuk dijalani, "Uuukhh, seram, kalau jatuh bisa-bisa langsung mati." Furuichi dan yang lainnya sedang berjalan di atas ketinggian, dengan sarana pohon yang tumbang sebagai jembatan.
"Hoi Lamia, apa masih jauh?" Tanya Oga ke asisten dokter di depannya, yaitu Lamia.
"Pertama-tama kita harus keluar dari Haunt dulu, kalau tidak cepat-cepat binatang buas akan mengejar kita." Lamia terus berjalan.
"Cih, tidak lucu. Kenapa kita harus berada di tempat berbahaya seperti ini? Alaindelon sialan itu ..." Gerutu Oga.
"Ah! Aku jadi ingat." Ucap Furuichi, "Saat burung itu dikalahkan, aku tak bisa menemukannya, apa dia benar-benar sudah mati?"
"Hah?"
"Bukankah setidaknya kita harus membuatkan kuburan untuknya? Tapi dia sudah tidak ada ..."
"Iblis trans dimensi memang akan menghilang ke tempat yang tidak diketahui dimana kalau sudah meninggal. Jadi kalian jangan terlalu berharap yang mustahil." Ucap Lamia. Saat ini, Lamialah yang mengetuai mereka, ia yang bertanggung jawab.
"Ngomong-ngomong, kita akan menemui putri Alaindelon kan, aku rasa itu tidak berguna." Ucap Furuichi.
"Kenapa? Dialah satu-satunya tiket kepulangan kita." Ucap Oga.
"Ya, aku tahu, tapi hanya mencoba untuk membayangkan tampang putrinya saja, aku bertaruh seperti ini ..." Furuichi membayangkan sesosok wanita dengan tubuh kekars seperti Alaindelon, dan wajah yang tak jauh berbeda.
"Tidak, aku rasa seperti ini." Oga membayangkan sesosok mahluk kekar berkumis, benar-benar mirip Alaindelon, hanya saja suaranya suara perempuan.
"Da!!!" Bayi Beel lebih aneh lagi, ia membayangkan cumi-cumi berkumis.
"Dasar bodoh." Ucap Lamia. "Hentikan tindakkan bodoh seperti itu, ayo jalan!"
"Baikk!!!
"Tapi, kita sudah sampai." Di depan sana, di balik semak-semak, sudah tampak sebuah bangunan rumah yang merupakan tempat tinggal putri Alaindelon.
"Syukurlah ..." Ucap senang Lamia.
"Itu rumah Alaindelon?"
"Seperti rumah pengembala ..."
"Bukan, ini rumah putrinya, kudengar dia sedang meneliti binatang buas di sini. Karena itu dia tinggal di sekitar Haunt ini." Jelas Lamia.
Mereka lalu mendekat ke rumah itu. Dan ternyata, pintunya tidak terkunci, bahkan terbuka. Dan yang mengejutkan, di bagian dalam rumah itu terlihat acak-acakan, "Ditelantarkan ya!?"
"Bukan, kau salah, kelihatannya baru dirusak!"
"Aaaakhhh!!! Aku tak tahu ini ulah binatang atau perampok, yang pasti, ini bercanda ya!? Padahal kita sudah sampai sejauh ini ..."
"Aku akan menelpon kak Hilda" Lamia bersiap untuk menelpon. Tapi tiba-tiba, ia berhenti, "Tunggu sebentar ..."
"Eh?"
"Di sana, masih ada seseorang!"
Di balik kegelapan bayangan, tampak sesosok orang misterius sedang duduk sambil membaca buku.
"Serius nih?" Sosok misterius itu menutup bukunya, "Kalian menyebalkan. Untuk apa kalian menjadi pengawal?"
"Ng?" Lamia dan yang lainnya tak mengerti. Dan ternyata, sosok misterius itu bukan bicara pada mereka, melainkan dua lelaki yang ternyata sudah berada di belakang Oga dan yang lainnya. Semuanya semakin membingungkan.
"Hmm ..."
"Itu bukan urusanmu." Ucap dua lelaki itu.
"Mereka milik kami ..."
"Jangan ikut campur!"
"Ki-kita terkepung!?" Pikir panik Furuichi.
"Yah, terserahlah, tugasku sudah selesai." Sosok misterius itu mengeluarkan sesuatu benda bulat kecil dan tiba-tiba saja menghilang.
"Dia hilang!?"
"Apa dia iblis trans dimensi juga!?"
"Bukan, itu adalah efek dari batu yang dibuat oleh iblis trans dimensi," Pikir Lamia, "Siapa mereka sebenarnya!?"
"Eddy, kamu ke kanan, biar aku yang sebelah kiri." Perintah Garry ke si botak.
"Ok!" Merekapun bersiap untuk menyerang.
"Mereka datang!" Ucap Furuichi. Tapi tak lama setelahnya, Buakkkk!!!!! Oga memukul si botak hingga ia terpental jauh ke luar rumah.
"..." Garry terdiam, begitu juga Furuichi dan Lamia.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kalian musuh, kan? Bagus, aku cuma perlu membereskan kalian." Oga telah siap untuk berantem.
"A-apa!?" Garry kaget, "Tu-tunggu sebentar, apa kau benar-benar manusia!!? Eh!? Lambang itu!?" Ia baru melihat labang yang ada di tangan Oga, "Lambang dari Keluarga Kerajaan, dia kontraktor keluarga kerajaan!!!?"
Tak mau menunggu, Oga langsung memukulnya juga.
"Oo ..."
"Bagus, Oga." Furuichi dan Lamia masih tak mampu banyak berkomentar.
Setelah keadaannya tenang, Lamiapun menelpon Hilda dan ia menjelaskan semuanya.
"Gerombolan perampok?"
"Ya, ada kelompok yang membuat markas di area itu. Mereka akan menangkap binatang langka dan manusia yang berkeliaran di dunia Iblis, serta menjualnya sebagai budak untuk membiayai hidup. Sepertinya putri Alaindelon ditangkap oleh mereka."
"Aah, jadi kita harus menyelamatkannya ya ..."
"Menyebalkan ..." Gumam Furuichi. Tapi kemudian, ia melihat sebuah fas foto tergeletak di lantai. Dan ternyata, itu adalah foto Alaindelon bersama dengan anaknya. Dan berbeda dari yang sebelumnya mereka bayangkan, ternyata putri Alaindelon adalah gadis yang cantik.
Mengetahui hal ini, Furuichipun mendadak bersemangat.
"Gadis yang rapuh sedang menunggu pertolongan kita, ayo berangkat!"
"Eh??" Oga dan Lamia kebingungan.
Bersambung ke Beelzebub Chapter 44
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
Akibat ulah bayi Beel, Oga dan Furuichi ikut masuk ke dunia Iblis. Dan sialnya, mereka terdampar di suatu wilayah liar yang bahkan tak terjangkau oleh kerajaan. Nasib mereka semakin sial mengingat Alaindelon sudah tak sadarkan diri, menghilang, dan tentunya tak bisa mengantarkan mereka kembali ke dunia manusia.
Namun di tengah kegelapan tersbut, muncul secercah cahaya harapan, Hilda menjelaskan kalau di sana terdapat putri Alaindelon.
"Putrinya?"
"Benar. Mulai sekarang, kalian carilah putrinya." Pinta Hilda, "Dan jangan khawatir, aku akan terus memandu kalian, aku tahu diaman lokasinya, jadi jangan pernah lepas dari ponsel ini"
Sementara itu dari kejauhan, dua lelaki misterius masih terus mengamati. "Manusia?" Ucap salah seorang dari mereka, yaitu lelaki botak sambil menggigit buah yang dibawanya.
"Nah, Gary, sekarang bagaimana?" Ucapnya lagi ke lelaki satunya.
Oga dan yang lainnya menelusuri hutan rimba yang liar, dan penuh medan yang cukup sulit untuk dijalani, "Uuukhh, seram, kalau jatuh bisa-bisa langsung mati." Furuichi dan yang lainnya sedang berjalan di atas ketinggian, dengan sarana pohon yang tumbang sebagai jembatan.
"Hoi Lamia, apa masih jauh?" Tanya Oga ke asisten dokter di depannya, yaitu Lamia.
"Pertama-tama kita harus keluar dari Haunt dulu, kalau tidak cepat-cepat binatang buas akan mengejar kita." Lamia terus berjalan.
"Cih, tidak lucu. Kenapa kita harus berada di tempat berbahaya seperti ini? Alaindelon sialan itu ..." Gerutu Oga.
"Ah! Aku jadi ingat." Ucap Furuichi, "Saat burung itu dikalahkan, aku tak bisa menemukannya, apa dia benar-benar sudah mati?"
"Hah?"
"Bukankah setidaknya kita harus membuatkan kuburan untuknya? Tapi dia sudah tidak ada ..."
"Iblis trans dimensi memang akan menghilang ke tempat yang tidak diketahui dimana kalau sudah meninggal. Jadi kalian jangan terlalu berharap yang mustahil." Ucap Lamia. Saat ini, Lamialah yang mengetuai mereka, ia yang bertanggung jawab.
"Ngomong-ngomong, kita akan menemui putri Alaindelon kan, aku rasa itu tidak berguna." Ucap Furuichi.
"Kenapa? Dialah satu-satunya tiket kepulangan kita." Ucap Oga.
"Ya, aku tahu, tapi hanya mencoba untuk membayangkan tampang putrinya saja, aku bertaruh seperti ini ..." Furuichi membayangkan sesosok wanita dengan tubuh kekars seperti Alaindelon, dan wajah yang tak jauh berbeda.
"Tidak, aku rasa seperti ini." Oga membayangkan sesosok mahluk kekar berkumis, benar-benar mirip Alaindelon, hanya saja suaranya suara perempuan.
"Da!!!" Bayi Beel lebih aneh lagi, ia membayangkan cumi-cumi berkumis.
"Dasar bodoh." Ucap Lamia. "Hentikan tindakkan bodoh seperti itu, ayo jalan!"
"Baikk!!!
"Tapi, kita sudah sampai." Di depan sana, di balik semak-semak, sudah tampak sebuah bangunan rumah yang merupakan tempat tinggal putri Alaindelon.
"Syukurlah ..." Ucap senang Lamia.
"Itu rumah Alaindelon?"
"Seperti rumah pengembala ..."
"Bukan, ini rumah putrinya, kudengar dia sedang meneliti binatang buas di sini. Karena itu dia tinggal di sekitar Haunt ini." Jelas Lamia.
Mereka lalu mendekat ke rumah itu. Dan ternyata, pintunya tidak terkunci, bahkan terbuka. Dan yang mengejutkan, di bagian dalam rumah itu terlihat acak-acakan, "Ditelantarkan ya!?"
"Bukan, kau salah, kelihatannya baru dirusak!"
"Aaaakhhh!!! Aku tak tahu ini ulah binatang atau perampok, yang pasti, ini bercanda ya!? Padahal kita sudah sampai sejauh ini ..."
"Aku akan menelpon kak Hilda" Lamia bersiap untuk menelpon. Tapi tiba-tiba, ia berhenti, "Tunggu sebentar ..."
"Eh?"
"Di sana, masih ada seseorang!"
Di balik kegelapan bayangan, tampak sesosok orang misterius sedang duduk sambil membaca buku.
"Serius nih?" Sosok misterius itu menutup bukunya, "Kalian menyebalkan. Untuk apa kalian menjadi pengawal?"
"Ng?" Lamia dan yang lainnya tak mengerti. Dan ternyata, sosok misterius itu bukan bicara pada mereka, melainkan dua lelaki yang ternyata sudah berada di belakang Oga dan yang lainnya. Semuanya semakin membingungkan.
"Hmm ..."
"Itu bukan urusanmu." Ucap dua lelaki itu.
"Mereka milik kami ..."
"Jangan ikut campur!"
"Ki-kita terkepung!?" Pikir panik Furuichi.
"Yah, terserahlah, tugasku sudah selesai." Sosok misterius itu mengeluarkan sesuatu benda bulat kecil dan tiba-tiba saja menghilang.
"Dia hilang!?"
"Apa dia iblis trans dimensi juga!?"
"Bukan, itu adalah efek dari batu yang dibuat oleh iblis trans dimensi," Pikir Lamia, "Siapa mereka sebenarnya!?"
"Eddy, kamu ke kanan, biar aku yang sebelah kiri." Perintah Garry ke si botak.
"Ok!" Merekapun bersiap untuk menyerang.
"Mereka datang!" Ucap Furuichi. Tapi tak lama setelahnya, Buakkkk!!!!! Oga memukul si botak hingga ia terpental jauh ke luar rumah.
"..." Garry terdiam, begitu juga Furuichi dan Lamia.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kalian musuh, kan? Bagus, aku cuma perlu membereskan kalian." Oga telah siap untuk berantem.
"A-apa!?" Garry kaget, "Tu-tunggu sebentar, apa kau benar-benar manusia!!? Eh!? Lambang itu!?" Ia baru melihat labang yang ada di tangan Oga, "Lambang dari Keluarga Kerajaan, dia kontraktor keluarga kerajaan!!!?"
Tak mau menunggu, Oga langsung memukulnya juga.
"Oo ..."
"Bagus, Oga." Furuichi dan Lamia masih tak mampu banyak berkomentar.
Setelah keadaannya tenang, Lamiapun menelpon Hilda dan ia menjelaskan semuanya.
"Gerombolan perampok?"
"Ya, ada kelompok yang membuat markas di area itu. Mereka akan menangkap binatang langka dan manusia yang berkeliaran di dunia Iblis, serta menjualnya sebagai budak untuk membiayai hidup. Sepertinya putri Alaindelon ditangkap oleh mereka."
"Aah, jadi kita harus menyelamatkannya ya ..."
"Menyebalkan ..." Gumam Furuichi. Tapi kemudian, ia melihat sebuah fas foto tergeletak di lantai. Dan ternyata, itu adalah foto Alaindelon bersama dengan anaknya. Dan berbeda dari yang sebelumnya mereka bayangkan, ternyata putri Alaindelon adalah gadis yang cantik.
Mengetahui hal ini, Furuichipun mendadak bersemangat.
"Gadis yang rapuh sedang menunggu pertolongan kita, ayo berangkat!"
"Eh??" Oga dan Lamia kebingungan.
Bersambung ke Beelzebub Chapter 44
Comments
Post a Comment