Sebelumnya : Cøde:Breaker Chapter 21
Jam sekolah telah berakhir. Bel tanda berakhirnya pelajaran telah berbunyi dan para siswapun bergegas untuk pulang, termasuk Sakura dan Ogami. Namun sebelum mereka berdua benar-benar kembali ke rumah masing-masing, teman-teman satu kelas Ogami dan Sakura memberikan salam-salam sampai jumpa.
"Sampai nanti kalian berdua!"
"Sampai jumpa!" Ucap mereka ramah, meski ada juga yang malah tidak nyambung dan bertanya, "Apa kabar?"
"Ogami! Hati-hati ya, jangan sampai terluka lagi!" Ucap siswa lainnya.
"Ya, ya"
"Pastikan tidak ada lagi babi liar di taman yang menabrakmu, Ogami!"
"Ya, aku mengerti." Ogami tersenyum, sementara Sakura tampak cemberut seperti biasanya.
Setelahnya, Ogami dan Sakurpun pulang. Di jalan, Sakura masih membahas hal tadi, "Tidak bisakah kau membuat kebohongan yang lebih bak daripada itu? Babi hutan liar?"
"Yah, aku tak menyangka kalau aku akan terluka separah ini. Dan di dalam kasus-kasus seperti ini, orang-orang akan lebih sedikit bertanya jika aku mengatakan sesuatu yang konyol." Jawab Ogami.
"Maaf, ini semua salahku." Ucap Sakurakouji.
"Jangan khawatir, itu memang tugasku." Ucap Ogami. "Lagipula ...
Kau sudah menunjukan sesuatu yang cukup menarik." Ogami kembali memasang senyuman misterius.
"?" Sakurakouji tidak mengerti, "Apa yang dia maksud? Ada apa di balik komentar mengerikan itu?" Pikirnya.
Tak terasa, mereka berjalan dan telah sampai di gerbang rumah Sakurakouji. Di sana, tampak kalau seseorang telah menunggu, seseorang yang tak lain adalah Toki. "Oi, selamat datang kembali, Sakurakouji!"
"TokI!? Kenapa kau ada di ..."
"Aku khawatir kalau si pembunuh Haruto akan kembali untuk mengincarmu lagi" Toki memeluk tubuh Sakura dari belakang, "Yah, sebenarnya itu hanya alasan. Aku datang kemari untuk membayar hutangku padamu ..." Toki menyerahkan si anak anjing yang ia bawa.
"Sejak kapan kalian berdua begitu dekat?" Maksudnya Toki dan si anak anjing.
"Sakurakouji, sepertinya keberadaan Haruto masih tidak diketahui walaupun Kanda mencarinya. Sekali membiarkan dia meloloskan diri, mencarinya akan menjadi pekerjaan yang sulit." Ucap Ogami, kemudian ia bertanya, "Apa kau puas dengan ini?"
Sejenak Sakurakouji terdiam, kemudian ia menegaskan, "Tentu saja ku puas! Aku tak akan pernah membiarkanmu membunuh orang lagi."
"Begitukah? Menarik."
"Ini tidak lucu!" Ucap Sakura, "Oh iya, ngomong-ngomong, kekuatanmu juga telah kembali ya. Wujud kecilmu benar-benar mirip kak Nenene. Yah, bagaimanapun saudara memang mirip. Tapi, oh iya, kau tahu, saat aku berbicara mengenaimu dengannya dia malah bertanya kau siapa? Dia bilang kalau ia tidak punya saudara, apa kalian sedang betengkar?"
Toki hanya diam, tak mau menanggapi hal itu.
"Toki?"
"Baiklah, ayo masuk." Toki mengalihkan pembicaraan dan langsung masuk ke dalam rumah kediaman Sakurakouji.
"Selamat datang!!" Sambut Yuki, ibu Sakura sambil mengenakan seragam pelayan. Selain ia, tampak juga para anggota geng Yakuza ayah Sakura telah berkumpul di sana.
"Ayo kita berpesta!!!" Mereka mengadakan pesta.
"Oiya, Ogami! Darimana lukamu itu berasal??" Salah seorang dari mereka bertanya mengenai luka-luka di tubuh Oogami. Namun sebelum pertanyaan itu ia jawab, tiba-tiba ayah Sakura datang. "Wah wah, sepertinya semuanya ada di sini ..."
Ayah Sakura juga tampak memiliki bekas luka di wajahnya, setelah kemarin dihajar oleh orang yang dendam pada keluarganya itu.
"Ke-ketua!? Darimana kau??"
"Ayah, lukamu ..."
"Ah, ini, aku diserang oleh monyet liar di taman." Ucap ayah Sakura, tak jauh beda dengan alasan yang Ogami buat.
"Apa!? Tidak mungkin, tolong jangan berbohong padaku ..."
"Sakura ..." Ibu Sakura memotong perkataannya, "Yuki sendiri berpikir kalau Go mendapatkan luka itu karena dia mau, jadi bisakah untuk tidak mempertanyakan hal itu?"
"Ibu ..."
"Ini pedangnya, terima kasih banyak." Ogami mengembalikan pedang yang sebelumnya dipinjamkan kepadanya. Ayah Sakura menerima dan kemudian mengeceknya, "Oh, sepertinya kau memakainya begitu banyak dalam waktu yang begitu singkat. Apa kau merasa ini berguna?"
Belum sempat Ogami menjawab pertanyaan itu, terdengar suatu siaran berita dari Televisi, "Takayama Haruo (45 tahun) mantan karyawan dan tersangka yang menggelapkan 300 juta yen dari Bank Koudan telah melarikan diri dari rumahnya. Kini polisi sedang melacak keberadaannya. Tersangka Takayama telah kehilangan keluarganya akibat peluru nyasar pada sebuah konflik jalanan."
"Ya, pedang itu sangat berguna." Ucap Ogami. "Tapi sudah tidak diperlukan lagi, terimakasih."
Sementara itu, untuk suatu alasan, Toki menyusup ke kamar Yuki, ibu Sakura, dan mencari-cari sesuatu. Mulai dari laci, lemari, namun yang ia temukan hanyalah berbagai kostum yang unik, "Kamar ini terlalu mirip dengan apa yang aku bayangkan. Ups, aku harus segera menemukan itu ..." Toki terus mencari.
"Apa yang kau maksud dengan itu?" Ogami telah ada di belakangnya, dan ia bertanya.
"Sejak awal aku penasaran kenapa kau datang kemari. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka kalau tujuanmu adalah untuk mencuri."
"Bodoh, untuk apa aku melakukan hal semacam itu? Aku hanya ingin mencari tahu asal usul anak langka itu." Ucap Toki, dan kemudian merangkul tubuh Ogami.
"Setelah melihat seseorang seperti dia dan apa yang bisa dilakukannya, wajar kan kalau aku ingin tau? Dan kalau ingin mengenal seorang anak, maka pertama kau harus mengenal orang tuanya. Orang tuanya pasti sangat tahu bagaimana ia tumbuh. Akan sangat baik kalau aku bisa menemukan beberapa album atau buku hariannya ..."
"Ini" Seseorang memberikan Toki setumpuk album.
"Terimakasih" Ucap Toki. Kemudian ia baru sadar, "Ehhh!!!?"
Yuki, ibu Sakura telah berdiri di depannya, sambil membawakan tumpukan album foto keluarga.
"Ya ampun!!!" Teriak ibu-ibu imut itu, "Kalian berdua sampe segitunya ingin melihat album foto Sakura!?? Fufufu, aku sudah memikirkannya. Jadi, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu."
Ibu Sakurapun memperlihatkan dan menjelaskan secara detail mengenai foto-foto masa kanak-kanak Sakura, "Itu ketika Sakura pertama kali berhasil melakukan putaran balik, dan itu ransel sekolah pertamanya. Itu saat ia menangkap seekor ular dengan tangan kosong, lalu itu hari pertamanya di sekolah dasar, kemudian itu saat festival olah raga, dan sewaktu karyawisata dimana ia menggali ubi manis."
"Kyaaa!! Lihat ini, ini ketika Sakura pertama kali memakan sushi, coba lihat wajahnya!! Dia imut sekali!! Seharusnya aku menggambil lebih banyak gambar lagi." Yuki histeris.
"Seberapa banyakpun yang kau ambil, itu tidak akan cukup, bukan?" Ucap Ogami.
"Hmm? Banyak sekali fotonya ..." Toki melhat-lihat.
"Ia dibutakan oleh cintanya pada putrinya." Ucap Ogami.
Sementara itu, ibu Sakura masih terus bercerita, "Oh, dan foto ini, ini adalah ketika kami betiga melakukan jabat tangan rahasia."
Mendengar jabat tangan rahasia, Ogami langsung bertanya-tanya "Eh?"
Di sisi lain, Sakura sedang bersama dengan ayahnya. Kelihatannya, ayah Sakura hendak membicarakan suatu masalah yang cukup penting, "Sakura, ayah benar-benar minta maaf, kau telah mengalami sesuatu yang mengerikan karena ayah."
"Tidak, tapi bisakah kau memberitahuku dimana kau kemarin daripada ..."
"Kadang-kadang ada hal yang tak dapat kau lakukan seberasa keraspun kau mencoba" Potong ayah Sakura. "Memang benar, keberadaan ayah memang menyebabkan kematian seorang ibu dan anaknya, dan akhirnya itu membuatmu terancam. Dan meninggalkan putrinya dalam bahaya, aku merasa kalau aku telah gagal sebagai seorang ayah. Kalau aku bahkan tak bisa melindungi putriku sendiri, aku berpikir kalau sebaiknya aku berhenti menjadi pemimpin geng, dan juga sebagai Yakuza ..."
Sejenak Sakura terdiam, kemudian menunduk minta maaf sebelum akhirnya jbuaakkk, Sakura memukul kepala ayahnya dan lalu menjabat tangannya. "Apa yang bisa ayah selesaikan kalau berhenti!? Bukankah ayah seharusnya bertanggung jawab atas kematian mereka!? Ayah pikir apa yang akan anggota geng ayah lakukan tanpa pimpinanmu!? Aku tidak akan pernah merasa malu menjadi putrimu tidak peduli orang seperti apa kau! Aku percaya pada janji kita, ayah!!"
Sementara itu tanpa mereka sadari, Ogami mengamati percakapan mereka dari balik dinding. Ogami keluar dari kamar ibu Sakura setelah ia menjelaskan padanya mengenai apa itu jabat tangan rahasia.
"Jabat tangan rahasia?" Ogami bertanya.
"Itu adalah ketika Go dan Sakura membuat janji ketika ia masih kecil." Jelas Yuki. Untuk sekedar diingat, Go itu nama panggilan untuk ayah Sakura.
Flashback lagi saat Sakura masih kecil. "Sakura, aku berjanji padamu, walaupun aku tidak berhenti menjadi Yakuza, aku tidak akan pernah berbuat sesuatu yang melukai siapapun, dengan janji kelingking ini"
"Janji jari kelingking?"
"Ya, itu sebuah sumpah untuk menepati janji"
"Kalau kau mengingkari janji itu, apakah kelingkingmu akan dipotong?" Tanya polos Sakura kecil.
"Ya, begitulah" Jawab sang ayah asal. Lalu kemudian, Sakura bukan membalas dengan kelingkingnya, melainkan menjabat tangan sang ayah, "Ini janji supaya kau tidak akan menderita begitu banyak hukuman kalau kau mengingkarinya"
Sakura kecil tersenyum.
"Kalau itu membantu ayah menepati janjinya, Sakura akan selalu berada di sampingnya untuk itu"
"Sakura ..." Sampai sekarangpun, mereka masih sering melakukan jabat tangan itu. Ia dan ayahnya, juga dengan ibunya.
"Kapanpun kami melakukan ini, kami akan ingat dengan janji kami ...
Dengan begitu, akan jauh lebh mudah untuk menepati janji itu"
Ogami hanya bisa diam mengamatinya.
"Ahh, dua orang tua yang kekanak-kanakan." Ucap Toki.
"Go, keluarga kita adalah yang terbaik bukan? Semuanya bersama-sama." Ucap Yuki.
"Itu benar, Yuki"
"Jadi siapapun yang menjelek-jelekkan keluarga kita pantas dipukul, bukan?"
"Hmm???"
Sesuatu yang aneh tiba-tiba saja terjadi pada Yuki.
"Ja-Jangan bilang kalau Yuki ..."
"Aku akan memukul siapapun yang menjelek-jelekkan keluargaku!!!" Tiba-tiba Yuki mengamuk. Setelah meminum bir, Yuki mabok dan menendang semua yang ada di dekatnya. Namun dengan pakaian kelinci yang masih dikenakannya, ia malah tampak lucu.
"Hmm, ternyata ibu memang kuat." Ucap Sakurakouji.
"Sakurakouji ..." Ogami memanggil, ia hendak menanyakan sesuatu.
"Dimana fotomu sebelum usia lima tahun? Aku tidak bisa menemukannya dimanapun."
"Oh, foto-foto yang seperti itu memang tidak ada." Jawab Sakura.
"Eh?"
"Aku diadopsi oleh orangtuaku, jadi tidak ada fotoku sebelum diadopsi." Sakura membuat pernyataan yang mengejutkan.
"Yaah, pada akhirnya kita tidak belajar banyak hal baru." Ucap Toki.
Bersambung ke Cøde:Breaker Chapter 23
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
Jam sekolah telah berakhir. Bel tanda berakhirnya pelajaran telah berbunyi dan para siswapun bergegas untuk pulang, termasuk Sakura dan Ogami. Namun sebelum mereka berdua benar-benar kembali ke rumah masing-masing, teman-teman satu kelas Ogami dan Sakura memberikan salam-salam sampai jumpa.
"Sampai nanti kalian berdua!"
"Sampai jumpa!" Ucap mereka ramah, meski ada juga yang malah tidak nyambung dan bertanya, "Apa kabar?"
"Ogami! Hati-hati ya, jangan sampai terluka lagi!" Ucap siswa lainnya.
"Ya, ya"
"Pastikan tidak ada lagi babi liar di taman yang menabrakmu, Ogami!"
"Ya, aku mengerti." Ogami tersenyum, sementara Sakura tampak cemberut seperti biasanya.
Setelahnya, Ogami dan Sakurpun pulang. Di jalan, Sakura masih membahas hal tadi, "Tidak bisakah kau membuat kebohongan yang lebih bak daripada itu? Babi hutan liar?"
"Yah, aku tak menyangka kalau aku akan terluka separah ini. Dan di dalam kasus-kasus seperti ini, orang-orang akan lebih sedikit bertanya jika aku mengatakan sesuatu yang konyol." Jawab Ogami.
"Maaf, ini semua salahku." Ucap Sakurakouji.
"Jangan khawatir, itu memang tugasku." Ucap Ogami. "Lagipula ...
Kau sudah menunjukan sesuatu yang cukup menarik." Ogami kembali memasang senyuman misterius.
"?" Sakurakouji tidak mengerti, "Apa yang dia maksud? Ada apa di balik komentar mengerikan itu?" Pikirnya.
Tak terasa, mereka berjalan dan telah sampai di gerbang rumah Sakurakouji. Di sana, tampak kalau seseorang telah menunggu, seseorang yang tak lain adalah Toki. "Oi, selamat datang kembali, Sakurakouji!"
"TokI!? Kenapa kau ada di ..."
"Aku khawatir kalau si pembunuh Haruto akan kembali untuk mengincarmu lagi" Toki memeluk tubuh Sakura dari belakang, "Yah, sebenarnya itu hanya alasan. Aku datang kemari untuk membayar hutangku padamu ..." Toki menyerahkan si anak anjing yang ia bawa.
"Sejak kapan kalian berdua begitu dekat?" Maksudnya Toki dan si anak anjing.
"Sakurakouji, sepertinya keberadaan Haruto masih tidak diketahui walaupun Kanda mencarinya. Sekali membiarkan dia meloloskan diri, mencarinya akan menjadi pekerjaan yang sulit." Ucap Ogami, kemudian ia bertanya, "Apa kau puas dengan ini?"
Sejenak Sakurakouji terdiam, kemudian ia menegaskan, "Tentu saja ku puas! Aku tak akan pernah membiarkanmu membunuh orang lagi."
"Begitukah? Menarik."
"Ini tidak lucu!" Ucap Sakura, "Oh iya, ngomong-ngomong, kekuatanmu juga telah kembali ya. Wujud kecilmu benar-benar mirip kak Nenene. Yah, bagaimanapun saudara memang mirip. Tapi, oh iya, kau tahu, saat aku berbicara mengenaimu dengannya dia malah bertanya kau siapa? Dia bilang kalau ia tidak punya saudara, apa kalian sedang betengkar?"
Toki hanya diam, tak mau menanggapi hal itu.
"Toki?"
"Baiklah, ayo masuk." Toki mengalihkan pembicaraan dan langsung masuk ke dalam rumah kediaman Sakurakouji.
"Selamat datang!!" Sambut Yuki, ibu Sakura sambil mengenakan seragam pelayan. Selain ia, tampak juga para anggota geng Yakuza ayah Sakura telah berkumpul di sana.
"Ayo kita berpesta!!!" Mereka mengadakan pesta.
"Oiya, Ogami! Darimana lukamu itu berasal??" Salah seorang dari mereka bertanya mengenai luka-luka di tubuh Oogami. Namun sebelum pertanyaan itu ia jawab, tiba-tiba ayah Sakura datang. "Wah wah, sepertinya semuanya ada di sini ..."
Ayah Sakura juga tampak memiliki bekas luka di wajahnya, setelah kemarin dihajar oleh orang yang dendam pada keluarganya itu.
"Ke-ketua!? Darimana kau??"
"Ayah, lukamu ..."
"Ah, ini, aku diserang oleh monyet liar di taman." Ucap ayah Sakura, tak jauh beda dengan alasan yang Ogami buat.
"Apa!? Tidak mungkin, tolong jangan berbohong padaku ..."
"Sakura ..." Ibu Sakura memotong perkataannya, "Yuki sendiri berpikir kalau Go mendapatkan luka itu karena dia mau, jadi bisakah untuk tidak mempertanyakan hal itu?"
"Ibu ..."
"Ini pedangnya, terima kasih banyak." Ogami mengembalikan pedang yang sebelumnya dipinjamkan kepadanya. Ayah Sakura menerima dan kemudian mengeceknya, "Oh, sepertinya kau memakainya begitu banyak dalam waktu yang begitu singkat. Apa kau merasa ini berguna?"
Belum sempat Ogami menjawab pertanyaan itu, terdengar suatu siaran berita dari Televisi, "Takayama Haruo (45 tahun) mantan karyawan dan tersangka yang menggelapkan 300 juta yen dari Bank Koudan telah melarikan diri dari rumahnya. Kini polisi sedang melacak keberadaannya. Tersangka Takayama telah kehilangan keluarganya akibat peluru nyasar pada sebuah konflik jalanan."
"Ya, pedang itu sangat berguna." Ucap Ogami. "Tapi sudah tidak diperlukan lagi, terimakasih."
Sementara itu, untuk suatu alasan, Toki menyusup ke kamar Yuki, ibu Sakura, dan mencari-cari sesuatu. Mulai dari laci, lemari, namun yang ia temukan hanyalah berbagai kostum yang unik, "Kamar ini terlalu mirip dengan apa yang aku bayangkan. Ups, aku harus segera menemukan itu ..." Toki terus mencari.
"Apa yang kau maksud dengan itu?" Ogami telah ada di belakangnya, dan ia bertanya.
"Sejak awal aku penasaran kenapa kau datang kemari. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka kalau tujuanmu adalah untuk mencuri."
"Bodoh, untuk apa aku melakukan hal semacam itu? Aku hanya ingin mencari tahu asal usul anak langka itu." Ucap Toki, dan kemudian merangkul tubuh Ogami.
"Setelah melihat seseorang seperti dia dan apa yang bisa dilakukannya, wajar kan kalau aku ingin tau? Dan kalau ingin mengenal seorang anak, maka pertama kau harus mengenal orang tuanya. Orang tuanya pasti sangat tahu bagaimana ia tumbuh. Akan sangat baik kalau aku bisa menemukan beberapa album atau buku hariannya ..."
"Ini" Seseorang memberikan Toki setumpuk album.
"Terimakasih" Ucap Toki. Kemudian ia baru sadar, "Ehhh!!!?"
Yuki, ibu Sakura telah berdiri di depannya, sambil membawakan tumpukan album foto keluarga.
"Ya ampun!!!" Teriak ibu-ibu imut itu, "Kalian berdua sampe segitunya ingin melihat album foto Sakura!?? Fufufu, aku sudah memikirkannya. Jadi, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu."
Ibu Sakurapun memperlihatkan dan menjelaskan secara detail mengenai foto-foto masa kanak-kanak Sakura, "Itu ketika Sakura pertama kali berhasil melakukan putaran balik, dan itu ransel sekolah pertamanya. Itu saat ia menangkap seekor ular dengan tangan kosong, lalu itu hari pertamanya di sekolah dasar, kemudian itu saat festival olah raga, dan sewaktu karyawisata dimana ia menggali ubi manis."
"Kyaaa!! Lihat ini, ini ketika Sakura pertama kali memakan sushi, coba lihat wajahnya!! Dia imut sekali!! Seharusnya aku menggambil lebih banyak gambar lagi." Yuki histeris.
"Seberapa banyakpun yang kau ambil, itu tidak akan cukup, bukan?" Ucap Ogami.
"Hmm? Banyak sekali fotonya ..." Toki melhat-lihat.
"Ia dibutakan oleh cintanya pada putrinya." Ucap Ogami.
Sementara itu, ibu Sakura masih terus bercerita, "Oh, dan foto ini, ini adalah ketika kami betiga melakukan jabat tangan rahasia."
Mendengar jabat tangan rahasia, Ogami langsung bertanya-tanya "Eh?"
Di sisi lain, Sakura sedang bersama dengan ayahnya. Kelihatannya, ayah Sakura hendak membicarakan suatu masalah yang cukup penting, "Sakura, ayah benar-benar minta maaf, kau telah mengalami sesuatu yang mengerikan karena ayah."
"Tidak, tapi bisakah kau memberitahuku dimana kau kemarin daripada ..."
"Kadang-kadang ada hal yang tak dapat kau lakukan seberasa keraspun kau mencoba" Potong ayah Sakura. "Memang benar, keberadaan ayah memang menyebabkan kematian seorang ibu dan anaknya, dan akhirnya itu membuatmu terancam. Dan meninggalkan putrinya dalam bahaya, aku merasa kalau aku telah gagal sebagai seorang ayah. Kalau aku bahkan tak bisa melindungi putriku sendiri, aku berpikir kalau sebaiknya aku berhenti menjadi pemimpin geng, dan juga sebagai Yakuza ..."
Sejenak Sakura terdiam, kemudian menunduk minta maaf sebelum akhirnya jbuaakkk, Sakura memukul kepala ayahnya dan lalu menjabat tangannya. "Apa yang bisa ayah selesaikan kalau berhenti!? Bukankah ayah seharusnya bertanggung jawab atas kematian mereka!? Ayah pikir apa yang akan anggota geng ayah lakukan tanpa pimpinanmu!? Aku tidak akan pernah merasa malu menjadi putrimu tidak peduli orang seperti apa kau! Aku percaya pada janji kita, ayah!!"
Sementara itu tanpa mereka sadari, Ogami mengamati percakapan mereka dari balik dinding. Ogami keluar dari kamar ibu Sakura setelah ia menjelaskan padanya mengenai apa itu jabat tangan rahasia.
"Jabat tangan rahasia?" Ogami bertanya.
"Itu adalah ketika Go dan Sakura membuat janji ketika ia masih kecil." Jelas Yuki. Untuk sekedar diingat, Go itu nama panggilan untuk ayah Sakura.
Flashback lagi saat Sakura masih kecil. "Sakura, aku berjanji padamu, walaupun aku tidak berhenti menjadi Yakuza, aku tidak akan pernah berbuat sesuatu yang melukai siapapun, dengan janji kelingking ini"
"Janji jari kelingking?"
"Ya, itu sebuah sumpah untuk menepati janji"
"Kalau kau mengingkari janji itu, apakah kelingkingmu akan dipotong?" Tanya polos Sakura kecil.
"Ya, begitulah" Jawab sang ayah asal. Lalu kemudian, Sakura bukan membalas dengan kelingkingnya, melainkan menjabat tangan sang ayah, "Ini janji supaya kau tidak akan menderita begitu banyak hukuman kalau kau mengingkarinya"
Sakura kecil tersenyum.
"Kalau itu membantu ayah menepati janjinya, Sakura akan selalu berada di sampingnya untuk itu"
"Sakura ..." Sampai sekarangpun, mereka masih sering melakukan jabat tangan itu. Ia dan ayahnya, juga dengan ibunya.
"Kapanpun kami melakukan ini, kami akan ingat dengan janji kami ...
Dengan begitu, akan jauh lebh mudah untuk menepati janji itu"
Ogami hanya bisa diam mengamatinya.
"Ahh, dua orang tua yang kekanak-kanakan." Ucap Toki.
"Go, keluarga kita adalah yang terbaik bukan? Semuanya bersama-sama." Ucap Yuki.
"Itu benar, Yuki"
"Jadi siapapun yang menjelek-jelekkan keluarga kita pantas dipukul, bukan?"
"Hmm???"
Sesuatu yang aneh tiba-tiba saja terjadi pada Yuki.
"Ja-Jangan bilang kalau Yuki ..."
"Aku akan memukul siapapun yang menjelek-jelekkan keluargaku!!!" Tiba-tiba Yuki mengamuk. Setelah meminum bir, Yuki mabok dan menendang semua yang ada di dekatnya. Namun dengan pakaian kelinci yang masih dikenakannya, ia malah tampak lucu.
"Hmm, ternyata ibu memang kuat." Ucap Sakurakouji.
"Sakurakouji ..." Ogami memanggil, ia hendak menanyakan sesuatu.
"Dimana fotomu sebelum usia lima tahun? Aku tidak bisa menemukannya dimanapun."
"Oh, foto-foto yang seperti itu memang tidak ada." Jawab Sakura.
"Eh?"
"Aku diadopsi oleh orangtuaku, jadi tidak ada fotoku sebelum diadopsi." Sakura membuat pernyataan yang mengejutkan.
"Yaah, pada akhirnya kita tidak belajar banyak hal baru." Ucap Toki.
Bersambung ke Cøde:Breaker Chapter 23
Comments
Post a Comment