Sebelumnya : Cøde:Breaker Chapter 22
Malam itu di kediaman Sakura, sementara yang lain telah tertidur, seseorang diam di ruang keluarga, sambil menonton sebuah acara berita yang menyiarkan mengenai wawancara dari Perdana Mentri, "Pemerintah telah mengumpumkan kalau akan memberikan bantuan kepada Republik Grunia yang masih berada di dalam suasana perang ..."
"Aku mengharapkan dunia yang damai, dimana tidak ada teroris sama sekali, tempat untuk anak-anak yang tidak bersalah dan orang-orang yang baik hati tinggal ..."
"Itulah pernyataan dari Perdana Mentri Fujiwara ..."
Pyankkk!!!!! Si penonton yang ternyata tak lain adalah Toki melempar remote ke layar hingga TV itu hancur. "Pembohong, dasar menyebalkan ..." Ucapnya.
Toki melihat sekitar, "Oh, jadi Ogami sudah pergi ya? Huh, seperti yang aku duga ...
Dia sangat mengganggu. Baiklah, sepertinya aku datang pada tepat waktunya. Dia baru saja selesai mengantarkan Sakura, kenapa dia baru bergerak sekarang ..." Toki perg menyusul Ogami.
Ogami telah berada di depan pintu kamar Go dan Yuki, berdiri di depan kamar kedua orangtua Sakura itu, dan bersiap untuk masuk. Tapi kemudian, Toki sudah ada di belakangnya, "Aku tak akan membiarkan kau membunuhnya, itulah kenapa aku berada disini. Kalau kau melakukan lebih jauh dari ini, aku akan mengatakannya ke kak Heike agar kau dilaporkan. Jika kau melakukan sesuatu terhadap Goutoku, yang tidak mempunyai kejahatan apapun, maka kau adalah pembunuh ..." Ucapnya.
"Aku tidak setuju dengan itu," Ucap Ogami, "Tidak peduli bagaimana ia mencoba untuk menjadi orang baik, tetap saja sebagai Yakuza, keberadaannya adalah sebuah kejahatan." Ogami seolah ingin menghabisi ayah Sakura.
"Gang Kizakura awalnya adalah kelompok Yakuza yang berorientasi dalam bidang bisnis, jadi mereka belum melakukan sesuatu yang jahat. Dan sekarang, karena adanya hukum anti kekerasan, bahkan kejahatan yang dilakukan oleh anggota yang lebih rendah akan membuat seluruh gang berada dalam bahaya." Sangkal Toki, yang kemudian disangka balik oleh Ogami, "Kau boleh berbicara sesukanya, tapi kau tak bisa menyangkal kalau pada kenyataannya, keberadaannya menyebabkan kematian di keluarga Takayama, dan akhirya menyebabkan banyak dari anak-anak Yakuza terbunuh ..."
Sementara itu, dari balik pintu, Sakura dan anak anjing menguping pembicaraan mereka.
"Tapi dia tak membunuh siapapun kan? Dendan semacam ini hanyalah sesuatu yang berlebihan dan tidak bermoral. Apa yang dilakukan oleh kliennya Haruto, yaitu Takayama, sama saja dengan terorisme tanpa pandang bulu, dia pantas untuk dibunuh." Ucap Toki, "Lagipula jIka dia tidak membunuh, dia akan terbunuh, bukankah ini sebuah keadilan dalam membela diri?"
"Kau menyebut-nyebut masalah keadilan, tapi bukankah keadilan harus diberikan kepada semua orang jahat, tidak peduli apapun ..."
"Aku tak mau mendengar ceramah tentang keadilan dari seorang pembunuh orang tua sepertimu. Kau tak bisa pergi jauh dari ini ..."
Lama-lama, mereka bersiap untuk saling bertarung, mereka telah siap dengan kekuatan masing-masing.
"Sepertinya ini akan menjadi kesempatan yang bagus untuk menghabisimu ..."
"Menarik, apalagi kau hanyalah pengganggu ..." Ucap Ogami.
Tapi tiba-tiba, "Guk!" anak anjing keluar dan melerai mereka.
"Sakurakouji, sebaiknya kau menghentikan hobi mengupinfmu ini." Ogami membuka pintu tempat Sakura berada. Akan tetapi entah kenapa, Sakura menangis. Bahkan Ogami kaget dan tak mengerti.
"Kesalahan!! Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku!!" Teriaknya.
"Eh?"
"Aku tidak bisa melindungi siapapun, aku tidak bisa mencegah pembunuhan! Kesalahan seperti itu, aku benar-benar tidak berguna!!"
"Ogami terluka parah, tapi aku tak bisa melakukan apapun sementara dia melindungiku ...
Kenapa? Kenapa aku sangat tidak berdaya!? Aku benar-benar memalukan!!"
"Hmm, kelihatannya dia lebih bersemangat dari biasanya." Ucap Toki, "Jangan khawatir, dunia ini bukan tempat yang dapat diubah olehmu sendiri dengan mudah. Itulah kenapa ada orang sepertiku, sekutu dari keadilan. Tapi ada juga beberapa penjahat yang hanya seperti orang yang berlari dengan terburu-buru, jadi ..."
"Aku tidak tahu apa itu keadilan dan apa itu kejahatan, tapi ..." Sakura mencengkram erat bahu Ogami dan Toki.
"Sakit ..."
"A-apa yang kau lakukan?"
"Sekali kau mati, kau tak akan bisa merasakan rasa sakit dan penyesalan lagi ...
Itulah kenapa, Ogami, Toki, ayah, atau siapapun, jangan mati dan membunuh siapapun ..."
Ogami terdiam, kemudian teringat akan kata-kata seseorang padanya dulu saat ia masih kecil, "Dengar baik-baik, ini adalah janji ..." Orang itu memberikan sebuah sarung tangan ke Ogami, "Jangan membunuh orang, dan juga, jangan mati. Sarung tangan ini adalah jimat yang akan menjauhkanmu dari menyakiti orang ..."
"Sakurakouji," Ogami tersenyum, "Aku lupa untuk memberikan ini ke ayahmu hari ini, dan sepertinya ayahmu sudah tidur. Jadi, bisakah kau berikan ini padanya ketika ia sudah bangun?" Ogami memberi Sakura selembar amplop.
"Eh? Ogami?"
Setelahnya Ogami pergi.
"Apa ini alasan kenapa dia mau masuk ke kamar ayah? Apa dia tidak merencanakan untuk menghukum ayahku sebagai orang jahat seperti yang Toki katakan? APa yang dipikirkannya?" Pikir bingung Sakura.
"Sakura ..." Toki juga hendak pamitan, "Aku rasa tidak apa kalau kau memiliki mimpi seperti itu, tapi kau tidak bisa melindungi semua orang atau menghentikan orang-orang untuk saling membunuh hanya dengan keinginan dan perasaan, itu terlalu baik untuk terjadi." Toki pergi.
"Toki ..."
Toki keluar dari rumah Sakura, kemudian di jalan, ia menerima sebuah telepon untuk melakukan pekerjaan lainnya, "Apa? Aku tidak mau mengambil pekerjaan lagi har ini ..." Toki menolak. Tapi setelah orang itu memberitahu detailnya, "Eh?" Tatapan mata Toki berubah.
Keesokan harinya, bersama dengan si anak anjing, Sakura jalan keluar melewati taman.
"Jadi ini ...
Anak itu" Sakurakouji melihat anak yang ada di foto. Ya, amplop yang Ogami berikan berisi selembar foto anak kecil dan alamat. "Saat aku memerlihatkannya pada ayah, sepertinya ia tak pernah melihat atau mengenal anak ini sebelumnya ..."
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Seseorang bertanya pada Sakura, yang ternyata tak lain adalah kak Heike. Di tengah jalan, ia membuat lapak dan minum teh sambil membaca.
"Kak Heike!? Kenapa kau ada disini?"
"Itu karena aku menyukai sinar matahari di sini."
"Oh begitu! Ngomong-ngomong kak, apa yang kau maksud barusan?"
"Anak itu ...
Dia adalah satu-satunya anak Yakuza yang selamat dari incaran pemubuhan," Jelas Heike, "Dia adalah satu-satunya anak yang tidak dibunuh oleh si pembunuh Haruto setelahmu."
"Eh?"
"Berdasarkan daftar pembunuhan, dia adalah anak selanjutnya yang akan dibunuh setelahmu. Aku heran kenapa, mungkin itu karena kliennya mati, tapi ... Mungkin juga dia tergerak oleh aksi dan keinginan seseorang, atau tergerak dengan sendirinya."
Sakurakouji teringat akan saat itu, saat ia menyelamatkan nyawa Haruto dan kemudian meminta padanya, "Hiduplah, dan jangan pernah membunuh lagi ..."
"Bagaimana pendapatmu, Sakura?"
"Aku tidak tahu," Jawab Sakura, "Tapi, mungkin ..."
"Sakurakouji, mau minum secangkir teh? Aku baru saja mendapatkan jenis yang langka."
"Tentu! Terimakasih!" Jawab Sakura.
Di lain pihak, perdana mentri Fujiwara yang berada di dalam mobil tampak senang ketika seseorang mengunjunginya, "Aku sangat senang karena kau datang kemari, aku pikir kau tidak akan datang. Apa ada urusan yang mendesak?"
Orang itu hanya diam tak menjawab.
"Oh ayolah, mari kita mengobrol, sudah lama kita tak bertemu, bukan?"
"Perdana Mentri Fujiwara, sudah waktunya ..." Pak sopir mengingatkan.
"Aku tahu," Ucap perdana mentri, kemudian kembali berbicara pada orang itu, "Maaf, tapi kalau saja posisi dan waktuku sangat terbatas, aku pasti akan senang bertemu dengan kalian semua, karena ..."
Ternyata itu adalah Toki, orang yang menemuinya tak lain adalah Toki Fujiwara.
"Kita adalah keluarga, dan kau adalah anakku."
Bersambung ke Cøde:Breaker Chapter 24
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
Malam itu di kediaman Sakura, sementara yang lain telah tertidur, seseorang diam di ruang keluarga, sambil menonton sebuah acara berita yang menyiarkan mengenai wawancara dari Perdana Mentri, "Pemerintah telah mengumpumkan kalau akan memberikan bantuan kepada Republik Grunia yang masih berada di dalam suasana perang ..."
"Aku mengharapkan dunia yang damai, dimana tidak ada teroris sama sekali, tempat untuk anak-anak yang tidak bersalah dan orang-orang yang baik hati tinggal ..."
"Itulah pernyataan dari Perdana Mentri Fujiwara ..."
Pyankkk!!!!! Si penonton yang ternyata tak lain adalah Toki melempar remote ke layar hingga TV itu hancur. "Pembohong, dasar menyebalkan ..." Ucapnya.
Toki melihat sekitar, "Oh, jadi Ogami sudah pergi ya? Huh, seperti yang aku duga ...
Dia sangat mengganggu. Baiklah, sepertinya aku datang pada tepat waktunya. Dia baru saja selesai mengantarkan Sakura, kenapa dia baru bergerak sekarang ..." Toki perg menyusul Ogami.
Ogami telah berada di depan pintu kamar Go dan Yuki, berdiri di depan kamar kedua orangtua Sakura itu, dan bersiap untuk masuk. Tapi kemudian, Toki sudah ada di belakangnya, "Aku tak akan membiarkan kau membunuhnya, itulah kenapa aku berada disini. Kalau kau melakukan lebih jauh dari ini, aku akan mengatakannya ke kak Heike agar kau dilaporkan. Jika kau melakukan sesuatu terhadap Goutoku, yang tidak mempunyai kejahatan apapun, maka kau adalah pembunuh ..." Ucapnya.
"Aku tidak setuju dengan itu," Ucap Ogami, "Tidak peduli bagaimana ia mencoba untuk menjadi orang baik, tetap saja sebagai Yakuza, keberadaannya adalah sebuah kejahatan." Ogami seolah ingin menghabisi ayah Sakura.
"Gang Kizakura awalnya adalah kelompok Yakuza yang berorientasi dalam bidang bisnis, jadi mereka belum melakukan sesuatu yang jahat. Dan sekarang, karena adanya hukum anti kekerasan, bahkan kejahatan yang dilakukan oleh anggota yang lebih rendah akan membuat seluruh gang berada dalam bahaya." Sangkal Toki, yang kemudian disangka balik oleh Ogami, "Kau boleh berbicara sesukanya, tapi kau tak bisa menyangkal kalau pada kenyataannya, keberadaannya menyebabkan kematian di keluarga Takayama, dan akhirya menyebabkan banyak dari anak-anak Yakuza terbunuh ..."
Sementara itu, dari balik pintu, Sakura dan anak anjing menguping pembicaraan mereka.
"Tapi dia tak membunuh siapapun kan? Dendan semacam ini hanyalah sesuatu yang berlebihan dan tidak bermoral. Apa yang dilakukan oleh kliennya Haruto, yaitu Takayama, sama saja dengan terorisme tanpa pandang bulu, dia pantas untuk dibunuh." Ucap Toki, "Lagipula jIka dia tidak membunuh, dia akan terbunuh, bukankah ini sebuah keadilan dalam membela diri?"
"Kau menyebut-nyebut masalah keadilan, tapi bukankah keadilan harus diberikan kepada semua orang jahat, tidak peduli apapun ..."
"Aku tak mau mendengar ceramah tentang keadilan dari seorang pembunuh orang tua sepertimu. Kau tak bisa pergi jauh dari ini ..."
Lama-lama, mereka bersiap untuk saling bertarung, mereka telah siap dengan kekuatan masing-masing.
"Sepertinya ini akan menjadi kesempatan yang bagus untuk menghabisimu ..."
"Menarik, apalagi kau hanyalah pengganggu ..." Ucap Ogami.
Tapi tiba-tiba, "Guk!" anak anjing keluar dan melerai mereka.
"Sakurakouji, sebaiknya kau menghentikan hobi mengupinfmu ini." Ogami membuka pintu tempat Sakura berada. Akan tetapi entah kenapa, Sakura menangis. Bahkan Ogami kaget dan tak mengerti.
"Kesalahan!! Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku!!" Teriaknya.
"Eh?"
"Aku tidak bisa melindungi siapapun, aku tidak bisa mencegah pembunuhan! Kesalahan seperti itu, aku benar-benar tidak berguna!!"
"Ogami terluka parah, tapi aku tak bisa melakukan apapun sementara dia melindungiku ...
Kenapa? Kenapa aku sangat tidak berdaya!? Aku benar-benar memalukan!!"
"Hmm, kelihatannya dia lebih bersemangat dari biasanya." Ucap Toki, "Jangan khawatir, dunia ini bukan tempat yang dapat diubah olehmu sendiri dengan mudah. Itulah kenapa ada orang sepertiku, sekutu dari keadilan. Tapi ada juga beberapa penjahat yang hanya seperti orang yang berlari dengan terburu-buru, jadi ..."
"Aku tidak tahu apa itu keadilan dan apa itu kejahatan, tapi ..." Sakura mencengkram erat bahu Ogami dan Toki.
"Sakit ..."
"A-apa yang kau lakukan?"
"Sekali kau mati, kau tak akan bisa merasakan rasa sakit dan penyesalan lagi ...
Itulah kenapa, Ogami, Toki, ayah, atau siapapun, jangan mati dan membunuh siapapun ..."
Ogami terdiam, kemudian teringat akan kata-kata seseorang padanya dulu saat ia masih kecil, "Dengar baik-baik, ini adalah janji ..." Orang itu memberikan sebuah sarung tangan ke Ogami, "Jangan membunuh orang, dan juga, jangan mati. Sarung tangan ini adalah jimat yang akan menjauhkanmu dari menyakiti orang ..."
"Sakurakouji," Ogami tersenyum, "Aku lupa untuk memberikan ini ke ayahmu hari ini, dan sepertinya ayahmu sudah tidur. Jadi, bisakah kau berikan ini padanya ketika ia sudah bangun?" Ogami memberi Sakura selembar amplop.
"Eh? Ogami?"
Setelahnya Ogami pergi.
"Apa ini alasan kenapa dia mau masuk ke kamar ayah? Apa dia tidak merencanakan untuk menghukum ayahku sebagai orang jahat seperti yang Toki katakan? APa yang dipikirkannya?" Pikir bingung Sakura.
"Sakura ..." Toki juga hendak pamitan, "Aku rasa tidak apa kalau kau memiliki mimpi seperti itu, tapi kau tidak bisa melindungi semua orang atau menghentikan orang-orang untuk saling membunuh hanya dengan keinginan dan perasaan, itu terlalu baik untuk terjadi." Toki pergi.
"Toki ..."
Toki keluar dari rumah Sakura, kemudian di jalan, ia menerima sebuah telepon untuk melakukan pekerjaan lainnya, "Apa? Aku tidak mau mengambil pekerjaan lagi har ini ..." Toki menolak. Tapi setelah orang itu memberitahu detailnya, "Eh?" Tatapan mata Toki berubah.
Keesokan harinya, bersama dengan si anak anjing, Sakura jalan keluar melewati taman.
"Jadi ini ...
Anak itu" Sakurakouji melihat anak yang ada di foto. Ya, amplop yang Ogami berikan berisi selembar foto anak kecil dan alamat. "Saat aku memerlihatkannya pada ayah, sepertinya ia tak pernah melihat atau mengenal anak ini sebelumnya ..."
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Seseorang bertanya pada Sakura, yang ternyata tak lain adalah kak Heike. Di tengah jalan, ia membuat lapak dan minum teh sambil membaca.
"Kak Heike!? Kenapa kau ada disini?"
"Itu karena aku menyukai sinar matahari di sini."
"Oh begitu! Ngomong-ngomong kak, apa yang kau maksud barusan?"
"Anak itu ...
Dia adalah satu-satunya anak Yakuza yang selamat dari incaran pemubuhan," Jelas Heike, "Dia adalah satu-satunya anak yang tidak dibunuh oleh si pembunuh Haruto setelahmu."
"Eh?"
"Berdasarkan daftar pembunuhan, dia adalah anak selanjutnya yang akan dibunuh setelahmu. Aku heran kenapa, mungkin itu karena kliennya mati, tapi ... Mungkin juga dia tergerak oleh aksi dan keinginan seseorang, atau tergerak dengan sendirinya."
Sakurakouji teringat akan saat itu, saat ia menyelamatkan nyawa Haruto dan kemudian meminta padanya, "Hiduplah, dan jangan pernah membunuh lagi ..."
"Bagaimana pendapatmu, Sakura?"
"Aku tidak tahu," Jawab Sakura, "Tapi, mungkin ..."
"Sakurakouji, mau minum secangkir teh? Aku baru saja mendapatkan jenis yang langka."
"Tentu! Terimakasih!" Jawab Sakura.
Di lain pihak, perdana mentri Fujiwara yang berada di dalam mobil tampak senang ketika seseorang mengunjunginya, "Aku sangat senang karena kau datang kemari, aku pikir kau tidak akan datang. Apa ada urusan yang mendesak?"
Orang itu hanya diam tak menjawab.
"Oh ayolah, mari kita mengobrol, sudah lama kita tak bertemu, bukan?"
"Perdana Mentri Fujiwara, sudah waktunya ..." Pak sopir mengingatkan.
"Aku tahu," Ucap perdana mentri, kemudian kembali berbicara pada orang itu, "Maaf, tapi kalau saja posisi dan waktuku sangat terbatas, aku pasti akan senang bertemu dengan kalian semua, karena ..."
Ternyata itu adalah Toki, orang yang menemuinya tak lain adalah Toki Fujiwara.
"Kita adalah keluarga, dan kau adalah anakku."
Bersambung ke Cøde:Breaker Chapter 24
Comments
Post a Comment