Sebelumnya : Hunter x Hunter Chapter 146
Setelah bertemu dengan mereka, Gon dan Biscuit, Abengane menjelaskan semuanya. "Semua anggota dari tim kami sedang berada di markas, menunggu bomber untuk menjinakan bomnya. Kemungkinan besar, mereka akan percaya dengan syarat yang diberikan oleh Bomber"
"Kalau begitu kita tidak bisa melakukan apa-apa? Saat waktunya habis ..."
"Benar, kenapa juga kalian semua tidak menyerang sekaligus saja? Walaupun akan ada beberapa yang mati, setidaknya banyak yang akan selamat kan?"
"Itu tidak mungkin" Ucap Abengane.
"Yang akan mati pastinya yang menyerang pertama kali, mungkin sekitar sepuluh orang pertama yang akan menyerang yang mati. Pastinya, tak akan ada yang mau memainkan peran itu. Lagipula yang punya kemampuan bertarung paling hebat adalah Jisper. Tapi, dia sudah dikalahkan"
"Saat kami membiarkannya keluar dari permainan, apa yang terjadi pada kami sangat tidak terduga sampai-sampai semua tak bisa bereaksi. Semua terjadi setelah semuanya mengecek kartu yang mereka miliki, setelah selesai disortir, dia menunggu kesempatan ini untuk menyerang. Sulit untuk dikatakan kalau dia mengambil kesempatan saat kami tidak terlalu waspada, tepat sebelum semua peran ditetapkan, kami memilih siapa yang akan memegang kartu-kartu itu. Tidak. Bahkan jika terjadi beberapa waktu setelah itu, kami tetap tidak akan bisa bereaksi. Rencana kami dalam menjaga kartu-kartunya adalah, pertama, menghindari serangan sihir dari musuh. Kedua, mencuri kartu dari slot musuh. Dua poin ini sangat pas, sehingga kami menjadikannya sebagai peraturan. Poin kedua sangat bergantung pada taktik dalam mengetahui kartu sihir apa yang lawan miliki, lalu menggunakan steal. Bisa dibilang kalau kami menghindari pertarungan, apalagi kami tidak punya rencana jika lawan bisa kabur dengan Leap. Mungkin karena 70% dari kami memiliki kartu itu. Aku benci mengakuinya, tapi saat dia menggunakan Leap, aku benar-benar terbawa atmosfernya. Aku mendengar penjelasannya dan mencoba untuk mengerti semua yang aku bisa. Aku terserap oleh penjelasannya. Secara psikologis, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Itulah kenapa aku membicarakannya dengan kalian sekarang. Di antara orang-orang yang pernah aku temui di pulau ini, tampaknya hanya kalian yang bisa aku andalkan. Jika aku punya waktu lebih, aku ingin menjelaskan sihir yang berbeda secara detail pada kalian. Aku akan menggunakan sisa waktuku untuk memberitahu yang lain. Aku meminta kalian untuk melakukan yang sama, beritahu pemain lain yang kalian temui, dan jelaskan pada mereka. Seseorang yang tahu motif dan kelakuannya bisa melawan balik. Satu lagi, jika kalian punya kesempatan, balaskanlah dendam kami. Atau setidaknya, cobalah untuk menghentikan mereka menyelesaikan game ini"
Setelah berbicara panjang lebar, Abengane mengeluarkan suatu kartu sihir dan bersiap untuk mengaktifkannya, "Aktifkan Return!! Ke Bunzen!!!" Abengane melesat meninggalkan tempat itu. Sampai akhirnya, ia sampai di suatu lokasi.
"Mmm, pada akhirnya Magnetic Force hanya bisa mempertemukanku pada mereka, tapi ...
Suatu usaha tidak akan sia-sia. Lebih baik aku berusaha untuk menghilangkan nen walau hanya 0.001% ... Nikkes seharusnya sedang pergi ke tempat pertemua sekarang. Tapi jika itu bukan penjinakan, melainkan detonasi, lebih baik aku bersiap-siap. Ayo mulai"
Abengane menyiapkan suatu ritual. Ia membuat suatu api unggun di depannya, kemudian melakukan hal-hal aneh yang kelihatannya merupakan kemampuan dari nennya.
"Miigaamurasamingaadurainteramingazenberarubura ... Roh Hutan, datanglah padaku dan ringankanlah aku dari nen kotor yang melekat di tubuhku ini" Lelaki itu memegangi suatu boneka. "Jadi ... Roh jahat atau ular?"
Abengane melempar boneka itu ke api unggun di depannya. Kemudian, munul kepulan asap yang amat besar.
"Be-besar, countdown benar-benar nen yang kuat"
Muncul suatu mahluk menjinikan berbentuk lintah. Mahluk itu kemudian menghisap bom yang menempel di pundak Abengane.
"Fiuhh ... Sekarang tak ada lagi resiko dari ledakannya. Tapi sekarang, aku malah memiliki rekan yang besar"
Lintah tadi tak pergi melainkan tetap melilit di tubuh Abengane.
"Yah, lagipula aku memang sudah berpikir untuk mengubah penampilanku"
Untuk menutupi hal itu, Abengane menggunakan penyamaran, jubah tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, dari kepala sampai bagian bawah, hanya menyisakan lubang untuk mata.
"Jika bomber ingin menghabisi kami semua, aku harus ikut ke dalam permainannya, dan membuatnya berpikir kalau dia sukses"
Kembali ke sisi Gon dan Biscuit ...
"Baiklah, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Biscuit bertanya.
"Apapun itu, kita tetap melanjutkan apa yang sudah kita mulai" Ucap Gon.
"Sekarang, karena kita tidak bisa menolong mereka, kita harus mengabulkan permintaan terakhir mereka. Untuk itu, kita harus menjadi semakin kuat dulu"
"Kau benar. Bahkan jika kita bergerak sekarang, tanpa kartu sihir kita tak akan bisa menuju ke tempatnya. Kita semuya bisa pergi ke Masadora. Tapi, waktu mereka pasti sudah habis sebelum kita sampai ke kota"
"Hei Biscuit" Gon hendak bertanya. "Mengenai teknik rahasiaku, butuh berapa lama sampai aku bisa menguasainya?"
"Untuk benar-benar menguasainya, aku rasa butuh beberapa tahun. Perkembanganmu masih dalam fase pertengahan. Dan aku tidak tahu berapa kecepatan yang kau bisa kembangkan sampai maksimum"
"Begitu ya"
"Tapi untuk mencapai bentuk tetapnya, ku rasa waktu yang diperlukan relatif pendek"
"benarkah? Berapa lama?"
"Aku rasa ..."
Sementara itu, jauh dari Greed Island, Killua telah sampai di kediaman keluarga monster. ia menjelaskan mengenai prihal kedatangannya, juga kalau ia adalah teman Gon. Kemudian setelah mencium bau Gon di tubuh Killua, keluarga monster itupun percaya.
"Benar, aku bisa mencium bau Gon"
"Aku akan sangat senang jika bisa bertemu dengannya lagi"
"Padahal aku sudah mandi" Pikir Killua.
"Tidak masalah, kami akan mengantarmu. Tapi, itu akan memakan waktu empat hari"
"Aku ingin kembali ke tempat Gon secepatnya" Ucap Killua.
"Lulus ujian secepatnya, lalu kembali"
"Aku mengerti. Tapi, hari ujiannya ditentukan oleh Organisasi"
"Benar juga ya ..."
"Kami akan mencoba sebisa kami supaya kau bisa kesana sebelum hari pertama. Nah, sekarang kenapa kau tidak bercerita mengenai apa yang kau dan Gon lakukan? Yang kami tahu hanyalah dia lulus Ujian"
"AH, itu, baiklah, akan aku mulai dari saat ia datang ke rumahku ..." Malam yang panjang mereka lalui dengan saling bercerita.
Kembali ke sisi Gon ...
"Aku rasa kau sudah bisa melakukannya di hari kembalinya Killua" Jelas Biscuit.
"Ujian dimulai tanggal tujuh Januari, dan berakhir pada pertengahan. Waktu pastinya sering berubah tiap tahunnya. Kita anggap saja waktu yang dibutuhkan adalah dua minggu. Ku pikir itu sudah cukup"
"Hebat, akan aku tunjukan padanya nanti semua yang aku bisa" Ucap Gon.
"Tapi tentu saja, kau harus menyelesaikan latihan transformasi terlebih dahulu"
"Ah ..."
Sambil berjalan, Gon berlatih. Sampai kemudian, ia malah memutuskan untuk ...
"Bisk, sebenarnya, aku berpikir kita seharusnya pergi ke tempat Bomber itu"
"Ng? Waktu sudah berlalu, dan kita tak tahu dimana tempatnya. Dan meskipun kita tahu, kita tak punya kartu yang bisa membawa kita kesana"
"Aku tahu itu, tapi ...
Beberapa dari mereka mungkin ada yang masih selamat dari ledakan itu kan?"
"Aku rasa tidak. Seseorang yang bisa menaruh bom tanpa sepengetahuan targetnya tidak akan membuat kesalahan kecil seperti itu" Ucap Biscuit. "Tapi, jika bomber terus bermain di Greed Island, ada kemungkinan besar kalau kita akan menemuinya. Dan jika itu masalahnya, lebih baik kita secepatnya ke tempat mereka. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk yang berguna. Yah, satu hal yang pasti, waktunya untuk mencari kartu sihir. Ayo tukar kartu monster kita untuk uang, dan ke toko kartu sihir"
"Ayo!"
Merekapun sampai di sebuah toko kartu sihir ...
"Kalian sangat beruntung" Ucap gadis penjaga toko itu, "Kami baru saja kedatangan banyak stok baru. Oh iya, terdapat peraturan saat membeli kartu sihir. Yaitu, kalian harus memuka paketnya di luar toko dan langsung memasukannya ke dalam binder. Kartu yang tidak bisa dimasukan akan langsung hilang saat kalian meninggalkan toko. Jadi, berpikirlah dahulu berapa banyak kartu yang akan anda beli"
"Jadi kita harus menyiapkan beberapa slot bebas ya"
"Aku akan mengambil sebanyak-banyaknya" Ucap Gon.
Setelahnya, merekapun berhasil mendapatkan enam puluh kartu sihir, yang terdiri dari :
1 Rob
1 Penetrate
3 Blackout Curtain
1 Trace
1 Guidepost
6 Analysis
4 Lotteru
1 prison
1 Recycle
5 List
2 Accompany
4 Contant
2 Steal
2 Fluroscopy
8 Defensive Wall
3 Reflection
1 Magnetic Force
4 Return
1 Depature
2 Leap
1 Sightvision
1 Drift
1 Collision
4 Castle Gate
Dan ...
Sebuah kartu yang bisa dibilang sangat langka, yaitu Prison, kelas S-10.
"Apa yang akan kita lakukan dengan kartu ini? Ini kartu langka kan?" Biscuit kebingungan dan bertanya-tanya. Dan sama dengannya, Gon juga kebingungan. "Level S, hanya ada sepuluh salinan"
"Apakah harus kita simpan untuk nanti? Atau pakai sekarang? Kau lebih baik kalau dalam masalah video game kan?"
"Ah, itu, aku juga tak tahu!! Aku tak pernah main video game sebelumnya!!!!"
"Sttt, jangan berbicara terlalu kencang, kita bisa ketahuan!!"
"Lebih baik kita mencari informasi kartu sihir di Exchange store"
"Sial, coba kalau Killua ada disini" Pikir Gon.
Sementara itu dari nalik tembok, seseorang tampak mengawasi mereka.
Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 148
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
Setelah bertemu dengan mereka, Gon dan Biscuit, Abengane menjelaskan semuanya. "Semua anggota dari tim kami sedang berada di markas, menunggu bomber untuk menjinakan bomnya. Kemungkinan besar, mereka akan percaya dengan syarat yang diberikan oleh Bomber"
"Kalau begitu kita tidak bisa melakukan apa-apa? Saat waktunya habis ..."
"Benar, kenapa juga kalian semua tidak menyerang sekaligus saja? Walaupun akan ada beberapa yang mati, setidaknya banyak yang akan selamat kan?"
"Itu tidak mungkin" Ucap Abengane.
"Yang akan mati pastinya yang menyerang pertama kali, mungkin sekitar sepuluh orang pertama yang akan menyerang yang mati. Pastinya, tak akan ada yang mau memainkan peran itu. Lagipula yang punya kemampuan bertarung paling hebat adalah Jisper. Tapi, dia sudah dikalahkan"
"Saat kami membiarkannya keluar dari permainan, apa yang terjadi pada kami sangat tidak terduga sampai-sampai semua tak bisa bereaksi. Semua terjadi setelah semuanya mengecek kartu yang mereka miliki, setelah selesai disortir, dia menunggu kesempatan ini untuk menyerang. Sulit untuk dikatakan kalau dia mengambil kesempatan saat kami tidak terlalu waspada, tepat sebelum semua peran ditetapkan, kami memilih siapa yang akan memegang kartu-kartu itu. Tidak. Bahkan jika terjadi beberapa waktu setelah itu, kami tetap tidak akan bisa bereaksi. Rencana kami dalam menjaga kartu-kartunya adalah, pertama, menghindari serangan sihir dari musuh. Kedua, mencuri kartu dari slot musuh. Dua poin ini sangat pas, sehingga kami menjadikannya sebagai peraturan. Poin kedua sangat bergantung pada taktik dalam mengetahui kartu sihir apa yang lawan miliki, lalu menggunakan steal. Bisa dibilang kalau kami menghindari pertarungan, apalagi kami tidak punya rencana jika lawan bisa kabur dengan Leap. Mungkin karena 70% dari kami memiliki kartu itu. Aku benci mengakuinya, tapi saat dia menggunakan Leap, aku benar-benar terbawa atmosfernya. Aku mendengar penjelasannya dan mencoba untuk mengerti semua yang aku bisa. Aku terserap oleh penjelasannya. Secara psikologis, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Itulah kenapa aku membicarakannya dengan kalian sekarang. Di antara orang-orang yang pernah aku temui di pulau ini, tampaknya hanya kalian yang bisa aku andalkan. Jika aku punya waktu lebih, aku ingin menjelaskan sihir yang berbeda secara detail pada kalian. Aku akan menggunakan sisa waktuku untuk memberitahu yang lain. Aku meminta kalian untuk melakukan yang sama, beritahu pemain lain yang kalian temui, dan jelaskan pada mereka. Seseorang yang tahu motif dan kelakuannya bisa melawan balik. Satu lagi, jika kalian punya kesempatan, balaskanlah dendam kami. Atau setidaknya, cobalah untuk menghentikan mereka menyelesaikan game ini"
Setelah berbicara panjang lebar, Abengane mengeluarkan suatu kartu sihir dan bersiap untuk mengaktifkannya, "Aktifkan Return!! Ke Bunzen!!!" Abengane melesat meninggalkan tempat itu. Sampai akhirnya, ia sampai di suatu lokasi.
"Mmm, pada akhirnya Magnetic Force hanya bisa mempertemukanku pada mereka, tapi ...
Suatu usaha tidak akan sia-sia. Lebih baik aku berusaha untuk menghilangkan nen walau hanya 0.001% ... Nikkes seharusnya sedang pergi ke tempat pertemua sekarang. Tapi jika itu bukan penjinakan, melainkan detonasi, lebih baik aku bersiap-siap. Ayo mulai"
Abengane menyiapkan suatu ritual. Ia membuat suatu api unggun di depannya, kemudian melakukan hal-hal aneh yang kelihatannya merupakan kemampuan dari nennya.
"Miigaamurasamingaadurainteramingazenberarubura ... Roh Hutan, datanglah padaku dan ringankanlah aku dari nen kotor yang melekat di tubuhku ini" Lelaki itu memegangi suatu boneka. "Jadi ... Roh jahat atau ular?"
Abengane melempar boneka itu ke api unggun di depannya. Kemudian, munul kepulan asap yang amat besar.
"Be-besar, countdown benar-benar nen yang kuat"
Muncul suatu mahluk menjinikan berbentuk lintah. Mahluk itu kemudian menghisap bom yang menempel di pundak Abengane.
"Fiuhh ... Sekarang tak ada lagi resiko dari ledakannya. Tapi sekarang, aku malah memiliki rekan yang besar"
Lintah tadi tak pergi melainkan tetap melilit di tubuh Abengane.
"Yah, lagipula aku memang sudah berpikir untuk mengubah penampilanku"
Untuk menutupi hal itu, Abengane menggunakan penyamaran, jubah tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, dari kepala sampai bagian bawah, hanya menyisakan lubang untuk mata.
"Jika bomber ingin menghabisi kami semua, aku harus ikut ke dalam permainannya, dan membuatnya berpikir kalau dia sukses"
Kembali ke sisi Gon dan Biscuit ...
"Baiklah, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Biscuit bertanya.
"Apapun itu, kita tetap melanjutkan apa yang sudah kita mulai" Ucap Gon.
"Sekarang, karena kita tidak bisa menolong mereka, kita harus mengabulkan permintaan terakhir mereka. Untuk itu, kita harus menjadi semakin kuat dulu"
"Kau benar. Bahkan jika kita bergerak sekarang, tanpa kartu sihir kita tak akan bisa menuju ke tempatnya. Kita semuya bisa pergi ke Masadora. Tapi, waktu mereka pasti sudah habis sebelum kita sampai ke kota"
"Hei Biscuit" Gon hendak bertanya. "Mengenai teknik rahasiaku, butuh berapa lama sampai aku bisa menguasainya?"
"Untuk benar-benar menguasainya, aku rasa butuh beberapa tahun. Perkembanganmu masih dalam fase pertengahan. Dan aku tidak tahu berapa kecepatan yang kau bisa kembangkan sampai maksimum"
"Begitu ya"
"Tapi untuk mencapai bentuk tetapnya, ku rasa waktu yang diperlukan relatif pendek"
"benarkah? Berapa lama?"
"Aku rasa ..."
Sementara itu, jauh dari Greed Island, Killua telah sampai di kediaman keluarga monster. ia menjelaskan mengenai prihal kedatangannya, juga kalau ia adalah teman Gon. Kemudian setelah mencium bau Gon di tubuh Killua, keluarga monster itupun percaya.
"Benar, aku bisa mencium bau Gon"
"Aku akan sangat senang jika bisa bertemu dengannya lagi"
"Padahal aku sudah mandi" Pikir Killua.
"Tidak masalah, kami akan mengantarmu. Tapi, itu akan memakan waktu empat hari"
"Aku ingin kembali ke tempat Gon secepatnya" Ucap Killua.
"Lulus ujian secepatnya, lalu kembali"
"Aku mengerti. Tapi, hari ujiannya ditentukan oleh Organisasi"
"Benar juga ya ..."
"Kami akan mencoba sebisa kami supaya kau bisa kesana sebelum hari pertama. Nah, sekarang kenapa kau tidak bercerita mengenai apa yang kau dan Gon lakukan? Yang kami tahu hanyalah dia lulus Ujian"
"AH, itu, baiklah, akan aku mulai dari saat ia datang ke rumahku ..." Malam yang panjang mereka lalui dengan saling bercerita.
Kembali ke sisi Gon ...
"Aku rasa kau sudah bisa melakukannya di hari kembalinya Killua" Jelas Biscuit.
"Ujian dimulai tanggal tujuh Januari, dan berakhir pada pertengahan. Waktu pastinya sering berubah tiap tahunnya. Kita anggap saja waktu yang dibutuhkan adalah dua minggu. Ku pikir itu sudah cukup"
"Hebat, akan aku tunjukan padanya nanti semua yang aku bisa" Ucap Gon.
"Tapi tentu saja, kau harus menyelesaikan latihan transformasi terlebih dahulu"
"Ah ..."
Sambil berjalan, Gon berlatih. Sampai kemudian, ia malah memutuskan untuk ...
"Bisk, sebenarnya, aku berpikir kita seharusnya pergi ke tempat Bomber itu"
"Ng? Waktu sudah berlalu, dan kita tak tahu dimana tempatnya. Dan meskipun kita tahu, kita tak punya kartu yang bisa membawa kita kesana"
"Aku tahu itu, tapi ...
Beberapa dari mereka mungkin ada yang masih selamat dari ledakan itu kan?"
"Aku rasa tidak. Seseorang yang bisa menaruh bom tanpa sepengetahuan targetnya tidak akan membuat kesalahan kecil seperti itu" Ucap Biscuit. "Tapi, jika bomber terus bermain di Greed Island, ada kemungkinan besar kalau kita akan menemuinya. Dan jika itu masalahnya, lebih baik kita secepatnya ke tempat mereka. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk yang berguna. Yah, satu hal yang pasti, waktunya untuk mencari kartu sihir. Ayo tukar kartu monster kita untuk uang, dan ke toko kartu sihir"
"Ayo!"
Merekapun sampai di sebuah toko kartu sihir ...
"Kalian sangat beruntung" Ucap gadis penjaga toko itu, "Kami baru saja kedatangan banyak stok baru. Oh iya, terdapat peraturan saat membeli kartu sihir. Yaitu, kalian harus memuka paketnya di luar toko dan langsung memasukannya ke dalam binder. Kartu yang tidak bisa dimasukan akan langsung hilang saat kalian meninggalkan toko. Jadi, berpikirlah dahulu berapa banyak kartu yang akan anda beli"
"Jadi kita harus menyiapkan beberapa slot bebas ya"
"Aku akan mengambil sebanyak-banyaknya" Ucap Gon.
Setelahnya, merekapun berhasil mendapatkan enam puluh kartu sihir, yang terdiri dari :
1 Rob
1 Penetrate
3 Blackout Curtain
1 Trace
1 Guidepost
6 Analysis
4 Lotteru
1 prison
1 Recycle
5 List
2 Accompany
4 Contant
2 Steal
2 Fluroscopy
8 Defensive Wall
3 Reflection
1 Magnetic Force
4 Return
1 Depature
2 Leap
1 Sightvision
1 Drift
1 Collision
4 Castle Gate
Dan ...
Sebuah kartu yang bisa dibilang sangat langka, yaitu Prison, kelas S-10.
"Apa yang akan kita lakukan dengan kartu ini? Ini kartu langka kan?" Biscuit kebingungan dan bertanya-tanya. Dan sama dengannya, Gon juga kebingungan. "Level S, hanya ada sepuluh salinan"
"Apakah harus kita simpan untuk nanti? Atau pakai sekarang? Kau lebih baik kalau dalam masalah video game kan?"
"Ah, itu, aku juga tak tahu!! Aku tak pernah main video game sebelumnya!!!!"
"Sttt, jangan berbicara terlalu kencang, kita bisa ketahuan!!"
"Lebih baik kita mencari informasi kartu sihir di Exchange store"
"Sial, coba kalau Killua ada disini" Pikir Gon.
Sementara itu dari nalik tembok, seseorang tampak mengawasi mereka.
Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 148
Comments
Post a Comment