Skip to main content

Versi Teks Hunter x Hunter Chapter 148

Sebelumnya : Hunter x Hunter Chapter 147

Meskipun sulit, Gon terus berusaha untuk mempelajari nen tipe emisi, atau bisa juga disebut sebagai pemancar aura. Di ujung telunjuk tangan kanannya, ia mengonsentrasikan sejumlah aura, sampai akhirnya berhasil menciptakan suatu bulatan aura yang ukuranya masih relatif kecil, dan kemudian menahannya.

"Baiklah, satu menit telah berlalu, sekarang waktunya latihan berikutnya."

Setelahnya Gon mengarahkan aura di ujung jarinya itu ke arah sebuah batu yang ada di kejauhan, melemparnya dengan tujuan untuk mengenai batu itu. Akan tetapi baru beberapa centi aura kecil itu melayang, auranya menghilang.

"Ah!"


"Sial, aku tak bisa mengirimnya ke arah yang aku mau." Ucap Gon.
"Tidak apa-apa, setidaknya kau sudah jauh lebih baik dari sebelumnya." Biscuit maklum. Dalam hati, ia berkata, "Bagaimanapun dia memang lebih baik di tipe kekuatan daripada emisi."

"Jangan terburu-buru" Ucap Biscuit lagi, "Pertama kau harus bisa menahan bentuk yang kau buat dari aura yang kau pancarkan."

"Baik" Gon kembali menciptakan aura bulat kecil di ujung telunjuknya dan kemudian menahannya.

"Kemampuan untuk menahan ekspresi kekuatan dari si pengguna, yaitu Ten. Dengan Ten, jika kau melakukan latihanmu setiap hari, maka kau akan bisa melempar bola auramu melalui ruang. Lanjutkan terus seperti ini dan aku yakin kau akan bisa mengenai batu itu hari ini"

"Baik" Gon melempar aura yang sejak tadi di tahannya dan, di luar dugaan. Bukan sekedar hari ini, ternyata Gon bisa mengenainya saat itu juga.

"Cepat sekali." Ucap Biscuit dalam hati, kaget. "Ini adalah bukti kalau dia melatih Ten dan Ren setiap hari."

"Bagus, sekarang kembali ke dasar"

Gon berkonsentrasi, melapisi seluruh tubuhnya dengan aura saat memasang kuda-kuda bertahan. Kemudian ketika menyerang, ia megonsentrasikan sejumlah aura yang besar di ujung pukulannya. Dan kelihatannya, Gon sudah mulai cukup terbiasa dengan itu.

"Bagus. Kalau begini, aku yakin kau akan bisa menguasai teknik rahasiamu seperti yang direncanakan." Ucap Biscuit.

"Tapi ngomong-ngomong, Bisk. Di sini kita bisa berlatih dengan tenang. Bahkan jika ada musuh yang masuk, kita bisa langsung mengetahuinya. Tapi, aku punya pirasat kalau kita sedang dimata-matai. Sama seperti saat pertama kali kita masuk ke permainan." Ucap Gon, "Tapi yah, sudahlah, lagipula kita puya banyak kartu sihir pertahanan."

"Ya, aku juga sudah berjaga-jaga dengan menggunakan kartu Blackout Curtain, tapi belum ada yang menyerang dengan Steal ataupun Fluroscopy." Ucap Biscuit. "Yah, lagipula sekarang bukanlah waktunya untuk terobsesi dengan kartu, yang penting adalah kemajuan kemampuanmu!"

"Ya!!" Gon semakin bersemangat.


Di sisi lain, Killua yang diantar oleh keluarga monster telah sampai di tempat tujuan. "Sangat menyenangkan bisa bertemu denganmu, semoga berhasil." Ucap si monster. "Ya, terimakasih." balas Killua.

"Sekarang pergilah ke kamar nomor 503, dan tanya, apa ini Mihaeru-san? Lalu ikuti instruksi yang diberikan."

Killuapun menurutinya, ia pergi ke kamar nomor 503 dan bertanya pada yang tinggal di sana, "Apa ini Mihaeru-san?"

"Mihairu tinggal di kamar nomor 603." Ucap orang yang ada di dalam melalui suatu alat komunikasi yang ada di samping pintu.

Killua pergi ke kamar nomor 603 dan kemudian di sana ia bertemu dengan seorang bapak-bapak yang memberinya suatu kartu.

"Pergi dan belilah sesuatu di Toko Disc Camera yang ada di depan stasiun. Saat membayar, gunakanlah kartu ini, makau kau akan di antara meuju tempat ujian."

Killua mengikutinya. Dan benar saja, sang pelayan mengantar mempersilakannya menuju suatu ruangan, "Kesini"

Killua masuk dan sejenak menunggu di dalam lift. Sampai akhirnya, Lift berhenti dan Killua membuka pintu. Iapun sampai di tujuan yang sebenarnya, sebuah ruangan luas yang disana telah menunggu ribuan peserta lainnya.

Killua berkeliling, terlihat orang-orang yang asing baginya, namun ada juga pemain-pemain lama seperti Tonpa, yang tetap saja menjajakan minuman pencuci perut.

"Lebih banyak dari tahun lalu. Hmm, apa ada yang aku kenal ya?"

"Yo!" Seseorang memanggil Killua, dan ternyata mereka tak lain adalah tiga bersaudara yang tahun lalu gagal. "Jadi kau gagal juga ya?" Salah seorang dari mereka bertanya.

"Kau benar-benar membabat habis kami tahun lalu."
"Tapi, tahun ini akan berbeda."
"Sejak saat itu, kami terus berlatih. Kau pasti akan terkejut."

"Apa ada yang aku kenal ya?" Killua masih menengok kanan kiri, lupa dan mengabaikan tiga orang tadi.

Beberapa saat setelahnya, penguji muncul, seorang lelaki berkacamata dengan pakaian yang cukup nyentrik, "Selamat datang semuanya!! Terdapat 1489 peserta yang bisa sampai ke ruang ujian tahun ini. Tapi pada ujian kedua nanti, hanya akan ada 300 yang tersisa. Kami tidak mengira kalau akan ada sebanyak ini. Jadi, bagaimana ya ... Hmm, bagaimana kalau kalian bertarung satu sama lain?"

"Eh?"

"Lagipula, kita masih punya banyak waktu. Dua jam sebelum makan siang. Selama itu, kalian harus mengalahkan lima orang." Jelas di penguji, "Ambil nomor orang yang kau kalahkan. Dan kalau sudah selesai, kembalilah ke tempatku, aku akan menunggu di sini. Mengerti? Aku akan masuk ke pintu ini, dan saat pintunya kututup, artinya mulai."

Penguji tad membuka pintu, dan para peserta memasang kuda-kuda masing-masing. Kemudian tepat setelah sang penguji menutup pintu, pertarungan dimulai.

"Fiuh ..." Penguji meunggu sambil duduk merokok di tangga. "Dengan ini, aku rasa hanya akan ada 150 sampai 200 orang yang lolos. Yah, hanya yang kuat yang boleh maju." Lama menunggu membuat lelaki itu merasa mengantyk dan akhirnya tertidur.

Di sisi lain, pertarungan sengit berlangsung. Para peserta bertarung namun yang lebih mengagetkan, suatu bayangan terlihat melesat-lesat dengan cepat, menyerang dan membuat para peserta pingsan.

Zepairu yang juga ternyata mengikuti ujian tahun itu haya bisa kaget sambil terus memerhatikan. Sampai akhirnya, bayangan itu sampai di depannya, dan ia sadar, itu tak lain adalah Killua.

"Ah, kau juga kesini ya? Sayang sekali" Tak peduli teman atau apa, Killua juga membuatnya pingsan. "Tahun ini, hanya akan ada satu pemenangnya, yaitu aku"


Killua masuk ke ruangan tempat penguji menunggu sampai-sampai membuat ia terbangun.
"Hoahmmm. Sial, aku ketiduran" Ucapnya. "Yah, baik, ini dia orang pertama yang berhasil mendapat satu tempat di babak kedua."

Penguji itu tampak biasa-biasa saja, sampai akhirnya ketika ia melihat ke arah jam tangannya, "Apa!!? Sudah satu setengah jam? Selama itu baru ada satu peserta yang lolos? Apa yang dilakukan oleh peserta lainnya?"

"Mereka sedang tidur lelap." Ucap Killua, yang ternyata datang dengan membawa seluruh plat nomor peserta.

"A-apa ... Bagaimana ..."

"Butuh waktu untuk mengumpulkan semua nomor ini." Ucap Killua.

Penguji melihat sendiri ke luar dengan mata kepalanya sendiri dan ternyata memang benar, semua peserta telah dibuat pingsan oleh Killua. "Aku rasa mereka tidak akan bangun selama setengah hari. Jadi, bisakah aku segera lanjut ke ujian kedua?"

"Hohoho!!" Tiba-tiba Netero muncul. "Tidak perlu, kau sudah membuktikan kemampuanmu dengan sangat baik." Ucapnya.

"Killua, penghuni kegelapan, kau kembali dengan kemajuan yang baik, selamat." Ucap Netero dalam hati.

"Ah, kandidat nomor 1219, Killua ..." Si penguji memanggil.

"Ya, itu aku!" Killua mengangkat tangan.

"Ujian Hunternya ... Kau lulus!!"

"Terimakasih"

Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 149
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD



Comments