Sebelumnya : Bloody Monday Chapter 9
Setelah penyelamatan Haruka dan bu dokter berhasil, Jack Damon menghubungi bu Maya. "Setelah ini, mereka pasti akan melapor ke pembangkit listrik. Dengan begitu, passwordnya akan dirubah."
"Itu bukan masalah, Jack Damon." ucap bu Maya, "Sejak awal tujuan kami memang hanya membiarkannya menghack sistem pusat pembangkit listrik. Rencana berjalan lancar menuju Bloody Monday. Semuanya berkat bantuanmu ... Falcon."
"Kyoko!!" suami bu dokter leda melihat istrinya baik-baik saja. "Dan Haruka-chan juga!"
"Dia pingsan karena obat bius, tapi kelihatannya tidak ada luka luar." Jelas kak Hosho.
"Syukurlah." suami bu dokter menggendong istrinya yang pingsan itu.
Sementara itu di dalam, dua anak buah Jack Damon sudah diikat. "Fujimaru-kun, aku akan tinggal sebentar karena mau membawa mereka ke kantor polisi. Kamu cepat bawa mereka bu dokter dan Haruka ke rumah sakit ya."
"Ya, terimakasih banyak. Kujo dan Asada akan aku antarkan nanti. Jadi, jangan khawatir." ucap kak Hosho. "Ah, baik."
"Hosho-san, aku akan pergi dengan Fujimaru." Pinta Otoya. "Tolong jaga Asada saja."
"Oh? Baiklah. Bagaimana denganmu, Fujimaru?"
"Apa ada masalah kalau aku ikut denganmu?"
"Ah, boleh saja." ucap Fujimaru.
Merekapun masuk mobil, hanya ada Aoi dan kak Hosho di luar. "Jaga Aoi ya."
"Ya, pasti." ucap kak Hosho, "Sampai jumpa ..."
"Sampai jumpa, Aoi ... Jangan mampir-mampir dulu karena lapar ya."
"Mana mungkin!!"
Setelahnya merekapun berpisah. "Terimakasih, Aoi ..."
"Yah, aku senang mereka berdua baik-baik saja." ucap suami bu dokter.
"Aku benar-benar minta maaf telah membuat istri anda terlibat."
"Kalian juga korban kan? Tak perlu khawatir."
Saat itu juga, Otoya memberitahukannya ke Hide dan Mako agar mereka bisa tenang. "Ya, mereka berdua berhasil diselamatkan. Dan sekarang mereka hanya sedang pingsan, jadi tak perlu khawatir. Saat ini kami sedang menuju rumah sakit."
"Benar? Syukurlah ..." ucap Hide.
"Aku senang mendengarnya." ucap Mako, Mako Anzai.
"Padahal kalian harus berurusan dengan penculik yang kejam, tapi kalian berhasil mengalahkan mereka."
"Ini semua berkatmu Anzai, yang sudah mengikuti instruksi Fujimaru dengan benar."
"Aaah, terimakasih!!!" Mako terlihat begitu senang menerima pujian itu.
"Ngomong-ngomong, dimana bu Orihara?"
"Ah? Kemana ya? Sepertinya sedang ke toilet." ucap Hide.
"Apa aku perlu pergi untuk mengeceknya?"
"Tidak." ucap Otoya, "Oh ya, kalian harus berhati-hati dalam perjalanan pulang nanti. Kita sudah terlibat dalam informasi rahasia Third-I. Selama belum tahu tujuan lawan, tak ada jaminan kalau kita aman."
"A-Apa!? Jangan menakut-nakutiku seperti itu." ucap Hide. "Tapi ... Sepertinya ada benarnya juga. Sampai-sampai mereka berani menculik orang, kami akan berhati-hati. Kalau begitu, kami akan langsung pulang. Ya, baik."
"Terimakasih."
Cklekk, pintu tiba-tiba terbuka dan ternyata itu adalah bu Maya, Maya Orihara.
"Oh, bu Orihara, darimana saja??"
"Tadi ibu mengalihkan petugas yang sedang berkeliling." Jelas bu guru itu.
"Oh ita bu, kak Kujo barusan menghubungi dan katanya mereka berdua sudah berhasil diselamatkan." ucap Hide.
"Ah, baguslah kalau begitu, jadi sekarang aku bisa beristirahat." ucap bu Maya sambil tersenyum. Sementara dalam hatinya, "Aku tak tahu bagaimana, tapi dia bisa menemukan lokasi adiknya dengan cepat. Anak itu benar-benar tak bisa diremehkan. Sepertinya aku harus melakukan kontak secara rahasia dengan sumberku di sini."
Sementara itu, Fujimaru dkk telah sampai di rumah sakit. Haruka dan bu dokter telah dibaringkan di ruang rawat, dan Fujimaru duduk menunggu di sebelahnya.
"Fujimaru ..." Otoya masuk ke dalam ruangan dan kemudian memberi kabar, "Barusan pak Tominaga berunding dengan pihak rumah sakit supaya Haruka segera mendapat dialisis."
"Syukurlah. Haruka harus mendapat dialisis sebelum besok. Untuk sementara, aku bisa lega." ucap Fijimaru. "Senang bisa ada kau di sini Otoya, terimakasih sudah mau datang. Dan, maaf membuatmu ikut terlibat dengan ini."
"Kau baru menyesal sekarang ya?"
"Yah, sedikit." Jawab Fujimaru.
"Lagipula sudah kukatakan sebelumnya kan ..." Otoya melihat ke Haruka yang terbaring pingsan, "Ini bukan hanya demi kamu."
"Uwaaa!!!!" Fujimaru menyerobot dan langsung menghalangi Otoya, "Apa maksud jeda barusan, hah? Otoya, jangan-jangan ..."
"Ngomong-ngomong ..."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Menurutmu, apa tujuan mereka yang sebenarnya?"
"Eh? Jadi kau juga memikirkan hal yang sama denganku ya."
"Kalau tujuan mereka yang sebenarnya adalah password pusat pembangkit listrik Higashi Arakawa, mereka tak akan secepat itu membebaskan Haruka."
"Iya juga sih, biasanya musuh akan memanfaatkan sandera untuk menghambat gerakan kita sampai tujuan mereka tercapai. Padahal kalaupun mereka sudah mendapat passwordnya, bisa saja kita melapor ke pusat pembangkit listrik agar mereka mengganti passwordnya kan? Dengan begitu, tindakan mereka akan sia-sia."
"Hmm, jadi yang mereka incar bukan password ya ..."
"Satu pertanyaan lagi, menurutmu kenapa orang asing itu tahu kalau kita ada di dekatnya?"
"Bukankah itu karena dia menyadari ponsel kedua yang ada di dekatnya?"
"Tadinya juga kupikir begitu, tapi ... ponsel itu masih terjahit di ikat pinggang Haruka dengan rapi. Dengan kata lain, dia tahu aktivitas kita lewat cara lain."
"jangan-jangan, dia mendapat informasi dari orang di dekat kita?" Otoya mulai curiga.
"Ja-Jangan-jangan!!"
Tok Tok Tok ...
Seseorang mengetuk pintu.
"Ya, silakan ..."
"Permisi ..." Ternyata yang datang adalah suami bu dokter.
"Istriku juga, masih belum siuman ya ..." Ia melihat keadaan istrinya.
"Anu, pak Tominaga, bagaimana dengan dialisis Haruka?" Fujimaru bertanya.
"Ah, jangan khawatir, mereka sedang mempersiapkannya." Jawab pak Tominaga.
"Begitu ya, terimakasih."
"Lalu, Fujimaru ...
Ada polisi yang mencarimu di ruang resepsionis." ucap pak Tominaga.
"Polisi!?" Fujimaru kaget.
Di sisi lain, Hide dan Mako telah pulang. Dan, Hide sudah sampai di rumah dengan selamat. Baru saja membuka pintu, dirinya sudah disambut oleh perempuan berkulit hitam. "Hide!? Telat sekali, aku jadi cemas."
"A-ah, tadi aku sudah menelpon dan bilang kalau akan telat kan?"
"Memang sih, tapi karena kamu tidak bilang kenapa, aku jadi merasa kalau kamu belum bisa mengakuiku sebagai mama, padahal sudah setahun." Perempuan itu adalah ibu tiri Hide. Namun meski begitu, kelihatannya dia orang yang baik.
"Bukan begitu, aku hanya mengantar adik kelasku pulang karena aktivitas klub korannya telat, itu saja." ucap Hide.
"Begitu ya, aah!!" Perempuan itu memeluk Hide, "Maaf ya, aku cuma agak cemas!"
"Tu-Tunggu ..."
"Muka kakak merah." ucap Adik tiri Hide yang masih balita.
"Haha, kakakmu sedang masa puber, jadi dia malu-malu." ucap ayah Hide.
"Malu-malu?"
"Dasar ayah bodoh! Jangan berkata yang tidak-tidak ke Raul!" Wajah Hide masih memerah.
"Kakak!" Adiknya yang bernama Raul itu menarik baju Hide. "Ya?"
"Apa yang sebenarnya kakak lakukan? Bisakah kakak memberitahukannya padaku?" Bisik adiknya itu. Tapi, Hide malah hanya mengelus kepala adiknya, kemudian bilang, "Itu rahasia."
Kembali ke rumah sakit, Fujimaru dan Takagi pergi ke ruang resepsionis. Dan seperti apa yang pak Tominaga katakan, polisi sedang menunggunya di sana. Dan tak hanya satu, melainkan dua polisi. "Selamat malam, Fujimaru Takagi-kun."
"Aku terkejut saat dihubungi oleh pihak rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"!!" Sejenak Fujimaru terdiam, kemudian membentak, "Jangan main-main!! Haruka diculik, apa saja kerja kalian hah!?"
"Fujimaru, tenanglah ..." ucap Otoya.
"Diculik?"
"Ngomong-ngomong, kamu siapa? Orang yang tak berkepentingan sebaiknya pulang saja. Orangtuamu pasti khawatir."
"Tenang saja, saya sudah meberitahu mereka."
"Bukan itu masalahnya, pulang sana." Polisi itu mengusir Otoya.
"Apa bapak pikir anak-anak akan menurut kalau diancam seperti itu? Atau pak polisi dulu seperti itu?"
"Kau ..." Polisi itu kesal, namun temannya yang satunya mencoba untuk menenangkan. "Anak zaman sekarang memang punya nyali ya ..."
"Lagipula, saya juga terlibat dalam kasus penculikan beberapa jam yang lalu." Jelas Otoya. "Jadi, aku berhak ada di sini."
"Kalau begitu, baiklah. Tapi ngomong-ngomong, kau bilang adikmu diculik kan? Sebenarnya, ada seorang polisi yang selalu mengawasi adikmu karena menduga ayahmu akan menghubunginya. Tapi sekarang, kami sama sekali tidak bisa menghubungi polisi itu lagi. Untuk jaga-jaga, aku ingin bertanya, apa ayahmu tidak menghubungimu?"
"kau salah!! Pelakunya bukan ayahku, mungkin pelakunya adalah penculik adikku!!" ucap Fujimaru.
"Apa kau tahu mengenai Professor Shikimura?"
"Ah, iya, dia adalah teman ayahku, aku bertemu dengannya saat upacara pemakaman ibu." ucap Fujimaru. Kemudian, polisi tadi memberitahukan kalau, "Dia telah dibunuh. Aku dengar ayahmu ada di sana saat itu, tapi keterlibatannya masih dalam penyelidikkan."
Sesaat Fujimaru kaget, terdiam. Kemudian iapun memutuskan untuk memperlihatkannya, "Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada pak polisi sekalian ..."
"Fu-Fujimaru, kamu!?"
"Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi. Aku juga ingin penjagaan Haruka ditingkatkan, kita harus menjelaskan keadaannya." ucap Fujimaru.
"Tapi, bu Orihara sudah melaporkannya kan?"
"Ya, bu Orihara menyampaikannya pada polisi, dan kak Hosho menyampaikannya ke Third-I, itu sudah bukan rahasia lagi. Makanya untuk menceritakan kejadian itu, akan lebih cepat kalau kita memperlihatkan itu."
"yah, kalau begitu baiklah." ucap Otoya.
"Jangan bertele-tele, cepat tunjukan!" Pinta pak polisi.
"Baiklah, apa anda sekalian sudah siap?" Fujimaru memasukkan CD video itu ke laptopnya.
Di dalam ruangan tempat Haruka terbaring, saat ini hanya terdapat tiga orang di sana. Haruka, bu dokter, dan suaminya. Pak Tominaga sedang berjaga, saat tiba-tiba istrinya mulai sadar. "Sudah sadar ya?" ucap pak Tominaga. Namun benar-benar mengejutkan, hal pertama yang diucapkan bu dokter saat melihatnya adalah, "Siapa ... Siapa kau?"
Bu dokter tak mengenal suaminya sendiri. Bukan, kelihatannya suami bu dokter itu palsu. Selama ini ia berpura-pura menjadi suami dokter Tominaga. Lalu kalau begitu, siapa ia sesungguhnya?
Bersambung ke Bloody Monday Chapter 11
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
Setelah penyelamatan Haruka dan bu dokter berhasil, Jack Damon menghubungi bu Maya. "Setelah ini, mereka pasti akan melapor ke pembangkit listrik. Dengan begitu, passwordnya akan dirubah."
"Itu bukan masalah, Jack Damon." ucap bu Maya, "Sejak awal tujuan kami memang hanya membiarkannya menghack sistem pusat pembangkit listrik. Rencana berjalan lancar menuju Bloody Monday. Semuanya berkat bantuanmu ... Falcon."
"Kyoko!!" suami bu dokter leda melihat istrinya baik-baik saja. "Dan Haruka-chan juga!"
"Dia pingsan karena obat bius, tapi kelihatannya tidak ada luka luar." Jelas kak Hosho.
"Syukurlah." suami bu dokter menggendong istrinya yang pingsan itu.
Sementara itu di dalam, dua anak buah Jack Damon sudah diikat. "Fujimaru-kun, aku akan tinggal sebentar karena mau membawa mereka ke kantor polisi. Kamu cepat bawa mereka bu dokter dan Haruka ke rumah sakit ya."
"Ya, terimakasih banyak. Kujo dan Asada akan aku antarkan nanti. Jadi, jangan khawatir." ucap kak Hosho. "Ah, baik."
"Hosho-san, aku akan pergi dengan Fujimaru." Pinta Otoya. "Tolong jaga Asada saja."
"Oh? Baiklah. Bagaimana denganmu, Fujimaru?"
"Apa ada masalah kalau aku ikut denganmu?"
"Ah, boleh saja." ucap Fujimaru.
Merekapun masuk mobil, hanya ada Aoi dan kak Hosho di luar. "Jaga Aoi ya."
"Ya, pasti." ucap kak Hosho, "Sampai jumpa ..."
"Sampai jumpa, Aoi ... Jangan mampir-mampir dulu karena lapar ya."
"Mana mungkin!!"
Setelahnya merekapun berpisah. "Terimakasih, Aoi ..."
"Yah, aku senang mereka berdua baik-baik saja." ucap suami bu dokter.
"Aku benar-benar minta maaf telah membuat istri anda terlibat."
"Kalian juga korban kan? Tak perlu khawatir."
Saat itu juga, Otoya memberitahukannya ke Hide dan Mako agar mereka bisa tenang. "Ya, mereka berdua berhasil diselamatkan. Dan sekarang mereka hanya sedang pingsan, jadi tak perlu khawatir. Saat ini kami sedang menuju rumah sakit."
"Benar? Syukurlah ..." ucap Hide.
"Aku senang mendengarnya." ucap Mako, Mako Anzai.
"Padahal kalian harus berurusan dengan penculik yang kejam, tapi kalian berhasil mengalahkan mereka."
"Ini semua berkatmu Anzai, yang sudah mengikuti instruksi Fujimaru dengan benar."
"Aaah, terimakasih!!!" Mako terlihat begitu senang menerima pujian itu.
"Ngomong-ngomong, dimana bu Orihara?"
"Ah? Kemana ya? Sepertinya sedang ke toilet." ucap Hide.
"Apa aku perlu pergi untuk mengeceknya?"
"Tidak." ucap Otoya, "Oh ya, kalian harus berhati-hati dalam perjalanan pulang nanti. Kita sudah terlibat dalam informasi rahasia Third-I. Selama belum tahu tujuan lawan, tak ada jaminan kalau kita aman."
"A-Apa!? Jangan menakut-nakutiku seperti itu." ucap Hide. "Tapi ... Sepertinya ada benarnya juga. Sampai-sampai mereka berani menculik orang, kami akan berhati-hati. Kalau begitu, kami akan langsung pulang. Ya, baik."
"Terimakasih."
Cklekk, pintu tiba-tiba terbuka dan ternyata itu adalah bu Maya, Maya Orihara.
"Oh, bu Orihara, darimana saja??"
"Tadi ibu mengalihkan petugas yang sedang berkeliling." Jelas bu guru itu.
"Oh ita bu, kak Kujo barusan menghubungi dan katanya mereka berdua sudah berhasil diselamatkan." ucap Hide.
"Ah, baguslah kalau begitu, jadi sekarang aku bisa beristirahat." ucap bu Maya sambil tersenyum. Sementara dalam hatinya, "Aku tak tahu bagaimana, tapi dia bisa menemukan lokasi adiknya dengan cepat. Anak itu benar-benar tak bisa diremehkan. Sepertinya aku harus melakukan kontak secara rahasia dengan sumberku di sini."
Sementara itu, Fujimaru dkk telah sampai di rumah sakit. Haruka dan bu dokter telah dibaringkan di ruang rawat, dan Fujimaru duduk menunggu di sebelahnya.
"Fujimaru ..." Otoya masuk ke dalam ruangan dan kemudian memberi kabar, "Barusan pak Tominaga berunding dengan pihak rumah sakit supaya Haruka segera mendapat dialisis."
"Syukurlah. Haruka harus mendapat dialisis sebelum besok. Untuk sementara, aku bisa lega." ucap Fijimaru. "Senang bisa ada kau di sini Otoya, terimakasih sudah mau datang. Dan, maaf membuatmu ikut terlibat dengan ini."
"Kau baru menyesal sekarang ya?"
"Yah, sedikit." Jawab Fujimaru.
"Lagipula sudah kukatakan sebelumnya kan ..." Otoya melihat ke Haruka yang terbaring pingsan, "Ini bukan hanya demi kamu."
"Uwaaa!!!!" Fujimaru menyerobot dan langsung menghalangi Otoya, "Apa maksud jeda barusan, hah? Otoya, jangan-jangan ..."
"Ngomong-ngomong ..."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Menurutmu, apa tujuan mereka yang sebenarnya?"
"Eh? Jadi kau juga memikirkan hal yang sama denganku ya."
"Kalau tujuan mereka yang sebenarnya adalah password pusat pembangkit listrik Higashi Arakawa, mereka tak akan secepat itu membebaskan Haruka."
"Iya juga sih, biasanya musuh akan memanfaatkan sandera untuk menghambat gerakan kita sampai tujuan mereka tercapai. Padahal kalaupun mereka sudah mendapat passwordnya, bisa saja kita melapor ke pusat pembangkit listrik agar mereka mengganti passwordnya kan? Dengan begitu, tindakan mereka akan sia-sia."
"Hmm, jadi yang mereka incar bukan password ya ..."
"Satu pertanyaan lagi, menurutmu kenapa orang asing itu tahu kalau kita ada di dekatnya?"
"Bukankah itu karena dia menyadari ponsel kedua yang ada di dekatnya?"
"Tadinya juga kupikir begitu, tapi ... ponsel itu masih terjahit di ikat pinggang Haruka dengan rapi. Dengan kata lain, dia tahu aktivitas kita lewat cara lain."
"jangan-jangan, dia mendapat informasi dari orang di dekat kita?" Otoya mulai curiga.
"Ja-Jangan-jangan!!"
Tok Tok Tok ...
Seseorang mengetuk pintu.
"Ya, silakan ..."
"Permisi ..." Ternyata yang datang adalah suami bu dokter.
"Istriku juga, masih belum siuman ya ..." Ia melihat keadaan istrinya.
"Anu, pak Tominaga, bagaimana dengan dialisis Haruka?" Fujimaru bertanya.
"Ah, jangan khawatir, mereka sedang mempersiapkannya." Jawab pak Tominaga.
"Begitu ya, terimakasih."
"Lalu, Fujimaru ...
Ada polisi yang mencarimu di ruang resepsionis." ucap pak Tominaga.
"Polisi!?" Fujimaru kaget.
Di sisi lain, Hide dan Mako telah pulang. Dan, Hide sudah sampai di rumah dengan selamat. Baru saja membuka pintu, dirinya sudah disambut oleh perempuan berkulit hitam. "Hide!? Telat sekali, aku jadi cemas."
"A-ah, tadi aku sudah menelpon dan bilang kalau akan telat kan?"
"Memang sih, tapi karena kamu tidak bilang kenapa, aku jadi merasa kalau kamu belum bisa mengakuiku sebagai mama, padahal sudah setahun." Perempuan itu adalah ibu tiri Hide. Namun meski begitu, kelihatannya dia orang yang baik.
"Bukan begitu, aku hanya mengantar adik kelasku pulang karena aktivitas klub korannya telat, itu saja." ucap Hide.
"Begitu ya, aah!!" Perempuan itu memeluk Hide, "Maaf ya, aku cuma agak cemas!"
"Tu-Tunggu ..."
"Muka kakak merah." ucap Adik tiri Hide yang masih balita.
"Haha, kakakmu sedang masa puber, jadi dia malu-malu." ucap ayah Hide.
"Malu-malu?"
"Dasar ayah bodoh! Jangan berkata yang tidak-tidak ke Raul!" Wajah Hide masih memerah.
"Kakak!" Adiknya yang bernama Raul itu menarik baju Hide. "Ya?"
"Apa yang sebenarnya kakak lakukan? Bisakah kakak memberitahukannya padaku?" Bisik adiknya itu. Tapi, Hide malah hanya mengelus kepala adiknya, kemudian bilang, "Itu rahasia."
Kembali ke rumah sakit, Fujimaru dan Takagi pergi ke ruang resepsionis. Dan seperti apa yang pak Tominaga katakan, polisi sedang menunggunya di sana. Dan tak hanya satu, melainkan dua polisi. "Selamat malam, Fujimaru Takagi-kun."
"Aku terkejut saat dihubungi oleh pihak rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"!!" Sejenak Fujimaru terdiam, kemudian membentak, "Jangan main-main!! Haruka diculik, apa saja kerja kalian hah!?"
"Fujimaru, tenanglah ..." ucap Otoya.
"Diculik?"
"Ngomong-ngomong, kamu siapa? Orang yang tak berkepentingan sebaiknya pulang saja. Orangtuamu pasti khawatir."
"Tenang saja, saya sudah meberitahu mereka."
"Bukan itu masalahnya, pulang sana." Polisi itu mengusir Otoya.
"Apa bapak pikir anak-anak akan menurut kalau diancam seperti itu? Atau pak polisi dulu seperti itu?"
"Kau ..." Polisi itu kesal, namun temannya yang satunya mencoba untuk menenangkan. "Anak zaman sekarang memang punya nyali ya ..."
"Lagipula, saya juga terlibat dalam kasus penculikan beberapa jam yang lalu." Jelas Otoya. "Jadi, aku berhak ada di sini."
"Kalau begitu, baiklah. Tapi ngomong-ngomong, kau bilang adikmu diculik kan? Sebenarnya, ada seorang polisi yang selalu mengawasi adikmu karena menduga ayahmu akan menghubunginya. Tapi sekarang, kami sama sekali tidak bisa menghubungi polisi itu lagi. Untuk jaga-jaga, aku ingin bertanya, apa ayahmu tidak menghubungimu?"
"kau salah!! Pelakunya bukan ayahku, mungkin pelakunya adalah penculik adikku!!" ucap Fujimaru.
"Apa kau tahu mengenai Professor Shikimura?"
"Ah, iya, dia adalah teman ayahku, aku bertemu dengannya saat upacara pemakaman ibu." ucap Fujimaru. Kemudian, polisi tadi memberitahukan kalau, "Dia telah dibunuh. Aku dengar ayahmu ada di sana saat itu, tapi keterlibatannya masih dalam penyelidikkan."
Sesaat Fujimaru kaget, terdiam. Kemudian iapun memutuskan untuk memperlihatkannya, "Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada pak polisi sekalian ..."
"Fu-Fujimaru, kamu!?"
"Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi. Aku juga ingin penjagaan Haruka ditingkatkan, kita harus menjelaskan keadaannya." ucap Fujimaru.
"Tapi, bu Orihara sudah melaporkannya kan?"
"Ya, bu Orihara menyampaikannya pada polisi, dan kak Hosho menyampaikannya ke Third-I, itu sudah bukan rahasia lagi. Makanya untuk menceritakan kejadian itu, akan lebih cepat kalau kita memperlihatkan itu."
"yah, kalau begitu baiklah." ucap Otoya.
"Jangan bertele-tele, cepat tunjukan!" Pinta pak polisi.
"Baiklah, apa anda sekalian sudah siap?" Fujimaru memasukkan CD video itu ke laptopnya.
Di dalam ruangan tempat Haruka terbaring, saat ini hanya terdapat tiga orang di sana. Haruka, bu dokter, dan suaminya. Pak Tominaga sedang berjaga, saat tiba-tiba istrinya mulai sadar. "Sudah sadar ya?" ucap pak Tominaga. Namun benar-benar mengejutkan, hal pertama yang diucapkan bu dokter saat melihatnya adalah, "Siapa ... Siapa kau?"
Bu dokter tak mengenal suaminya sendiri. Bukan, kelihatannya suami bu dokter itu palsu. Selama ini ia berpura-pura menjadi suami dokter Tominaga. Lalu kalau begitu, siapa ia sesungguhnya?
Bersambung ke Bloody Monday Chapter 11
Comments
Post a Comment