Sebelumnya : Change Guy Chapter 1 Bagian 2
"Cih, bocah sialan ini ..."
"Apa dia tak kenal dengan rasa takut, hah?" pikir para berandal. Sementara pemuda berkacamata itu, ia tetap tenang dan bahkan sempat-sempatnya membuka buku untuk belajar.
"Hah, kau ..." berandal di sebelah kanan dan kiri Choi Woo-Soo bangun dari tempat duduknya, dan bersiap untuk menghajar anak itu. "Kukirim kau ke neraka!!!"
Buakkkk!!! Terdengar suara pukulan dari sebelah mereka. Sebelum dua preman itu menghajar anak tadi, salah seorang teman mereka terlebih dahulu dihajar oleh seorang pemuda misterius. "Si-siapa kau!?"
"Kalau mau duduk duduklah yang benar, jangan mengambil banyak tempat seperti itu, padahal sudah kuminta secara baik-baik." ucapnya, yang ternyata tak lain Kang Too-Jee. Sementara itu, Choi Woo-Soo masih tetap belajar.
"Huh, ini pertama kalinya sesuatu seperti ini terjadi." ucap salah seorang dari berandal itu, kelihatannya pemimpin mereka. "Tak hanya satu bocah, tapi dua. Apa kau tahu? Kami adalah dua belas petarung paling kuat dari SMA Gweh-San-Gohng, kau sudah melakukan kesalahan yang besar karena sudah berani berurusan dengan kami. Bagian mana yang kau mau aku patahkan duluan? Tangan, kaki, atau?"
Lelaki itu memegang pundak Kang Too-Jee. Tapi kemudian, pemuda itu menepis pegangannya.
"Kau, berani-beraninya!! Kalau kau mau, ayo kita selesaikan ini di luar." tantang kumpulan berandal itu. "Terlalu banyak orang di sini yang bisa melihat kalau kami membunuhmu, bocah sialan." mereka mengajak Kang Too-Jee berkelahi di tempat lain. Tapi sebelum itu ...
"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan hah? Kau juga, ikut!!!" salah seorang dari berandal itu mencengkram baju Choi Woo-Soo sedang belajar. "Ng?" pemuda itu menatap dengan wajah tak mengerti. "Apa!? Kau pikir aku akan takut kalau kau menatapku seperti itu!! Apa kau tak kenal siapa kami!?"
"Kenal? kita belum pernah bertemu sebelumnya, kan?" ucap Choi Woo-Soo.
"Kau ... cepat turun kau sialan!!"
Sementara itu, lelaki ilmuan melanjutkan pencarian. Dan kemudian, sampailah ia pada seorang pengemis yang kerjaannya hanya duduk sambil menunggu uang dari orang-orang yang lewat. Tanpa ragu, lelaki ilmuan memintanya agar mau menjadi percobaan.
"Hmm? Kau butuh aku untuk menjadi bahan eksperimen??"
"Ya, kumohon, kau mau, kan?"
"Fufufu, anda memang punya mata yang bagus, tuan."
"Kalau begitu ayo cepat ikut denganku!"
"Tapi, kau lihat sendiri, kan?? Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku." ucap pengemis itu. Lelaki ilmuan kemudian melirik wanita ilmuan yang ada di dalam mobil, dan kemudian diberitanda agar ia melakukannya. Cara terakhir agar pengemis itu mau ikut.
"Kalau kau ikut denganku, aku akan memberikanmu ini." lelaki ilmuan itu mengeluarkan amplop berisi setumpuk uang. Lalu tanpa banyak pikir lagi, pengemis itupun langsung mengambil dan menggulung lapaknya. "Kalau begitu, sepertinya aku harus tutup lebih cepat hari ini." ucapnya.
"Dasar ..."
"Hehe ..."
"Kalau begitu, silakan masuk." lelaki ilmuan mengajaknya ke mobil.
"Ah, aku tak tahu saat aku duduk tadi. Tapi ternyata, kakimu memang panjang-panjang ya." ucap pengemis itu. "Dengan kaki sepanjang itu, kau pasti bisa berlari dengan cepat, kan?"
"Aaah, ti-tidak juga." lelaki ilmuan itu tersanjung, "Meskipun kakiku panjang, lariku cukup lambat. aku butuh 17 detik untuk menempuh seratus meter."
"Kalau begitu baguslah." ucap si pengemis.
"Eh? Memangnya kenapa?"
"Itu artinya percuma kau menangkapku!!" Pengemis itu kabur sambil membawa uangnya, "Aku menempuh seratus meter dalam 11 detik." ucap sambil lari. Yah, meski sebenarnya itu bohong.
"Ah, sial, aku ditipu!" ucap lelaki ilmuan. "Hei kau, kembalilah!! Kumohon kembali!!!"
"Memangnya kau pikir aku sudah gila hah?" pikir pengemis itu, "Siapa juga yang mau menjadi kelinci percobaan. Jangan bercanda, kau sudah meminta orang yang salah!"
Akhirnya pengemis itu pergi tanpa meninggalkan jejak. Selain tak jadi mendapat orang untuk percobaan mereka, uang merekapun berhasil dibawa lari olehnya. "Dasar bodoh, cepat kejar dia!!" bentak ilmuan wanita. Tapi bagaimapun, ilmuan lelaki tak mungkin bisa menangkapnya. "Cih!" akhirnya perempuan itu memutuskan untuk mengejarnya sendiri dengan mobil yang ia bawa, "Tunggu saja kau sialan, berani-beraninya mengambil uangku!!!"
"Dua belas terkuat apanya? Kalian itu komedian, ya? Dasar bocah-bocah lemah." Keduabelas berandal tadi telah berhasil dikalahkan oleh Kang Too-Jee sendirian. Choi Soo-Woo yang juga ada di tempat itu hanya bisa terdiam melihat kehebatan Kang Too-Jee.
Kemudian saat pemuda itu hendak pergi, Choi Woo-Soo mengejarnya. "Hei, tunggu sebentar!!!"
Ia mengejar. Tapi secara tak sengaja, kakinya menginjak kaleng dan tergelincir. Keseimbangannya buyar, dan spontan berpegangan pada celana Kang Too-Jee hingga membuatnya melorot.
"Ka-Kau!!!" Kang Too-Jee marah. "Berani-beraninya, kubunuh kau!!!"
"Ma-maafkan aku!! Aku tidak sengaja!!!"
Kembali ke sisi pengemis, ia terus berlari sementara mobil ilmuan mengejar di belakangnya. Pengemis itu sampai pada suatu tikungan, dan ia berbelok. "Kemana dia pergi!?"
"Tikungan ke kiri!!"
Tanpa ragupun wanita itu membanting stir dan berbelok. Tapi tanpa mereka duga, ternyata Kang Too-Jee dan Choi Woo-Soo berada di tikungan itu. "R-remnya!!!"
"Su-sudah terlambat!!!"
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
"Cih, bocah sialan ini ..."
"Apa dia tak kenal dengan rasa takut, hah?" pikir para berandal. Sementara pemuda berkacamata itu, ia tetap tenang dan bahkan sempat-sempatnya membuka buku untuk belajar.
"Hah, kau ..." berandal di sebelah kanan dan kiri Choi Woo-Soo bangun dari tempat duduknya, dan bersiap untuk menghajar anak itu. "Kukirim kau ke neraka!!!"
Buakkkk!!! Terdengar suara pukulan dari sebelah mereka. Sebelum dua preman itu menghajar anak tadi, salah seorang teman mereka terlebih dahulu dihajar oleh seorang pemuda misterius. "Si-siapa kau!?"
"Kalau mau duduk duduklah yang benar, jangan mengambil banyak tempat seperti itu, padahal sudah kuminta secara baik-baik." ucapnya, yang ternyata tak lain Kang Too-Jee. Sementara itu, Choi Woo-Soo masih tetap belajar.
"Huh, ini pertama kalinya sesuatu seperti ini terjadi." ucap salah seorang dari berandal itu, kelihatannya pemimpin mereka. "Tak hanya satu bocah, tapi dua. Apa kau tahu? Kami adalah dua belas petarung paling kuat dari SMA Gweh-San-Gohng, kau sudah melakukan kesalahan yang besar karena sudah berani berurusan dengan kami. Bagian mana yang kau mau aku patahkan duluan? Tangan, kaki, atau?"
Lelaki itu memegang pundak Kang Too-Jee. Tapi kemudian, pemuda itu menepis pegangannya.
"Kau, berani-beraninya!! Kalau kau mau, ayo kita selesaikan ini di luar." tantang kumpulan berandal itu. "Terlalu banyak orang di sini yang bisa melihat kalau kami membunuhmu, bocah sialan." mereka mengajak Kang Too-Jee berkelahi di tempat lain. Tapi sebelum itu ...
"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan hah? Kau juga, ikut!!!" salah seorang dari berandal itu mencengkram baju Choi Woo-Soo sedang belajar. "Ng?" pemuda itu menatap dengan wajah tak mengerti. "Apa!? Kau pikir aku akan takut kalau kau menatapku seperti itu!! Apa kau tak kenal siapa kami!?"
"Kenal? kita belum pernah bertemu sebelumnya, kan?" ucap Choi Woo-Soo.
"Kau ... cepat turun kau sialan!!"
Sementara itu, lelaki ilmuan melanjutkan pencarian. Dan kemudian, sampailah ia pada seorang pengemis yang kerjaannya hanya duduk sambil menunggu uang dari orang-orang yang lewat. Tanpa ragu, lelaki ilmuan memintanya agar mau menjadi percobaan.
"Hmm? Kau butuh aku untuk menjadi bahan eksperimen??"
"Ya, kumohon, kau mau, kan?"
"Fufufu, anda memang punya mata yang bagus, tuan."
"Kalau begitu ayo cepat ikut denganku!"
"Tapi, kau lihat sendiri, kan?? Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku." ucap pengemis itu. Lelaki ilmuan kemudian melirik wanita ilmuan yang ada di dalam mobil, dan kemudian diberitanda agar ia melakukannya. Cara terakhir agar pengemis itu mau ikut.
"Kalau kau ikut denganku, aku akan memberikanmu ini." lelaki ilmuan itu mengeluarkan amplop berisi setumpuk uang. Lalu tanpa banyak pikir lagi, pengemis itupun langsung mengambil dan menggulung lapaknya. "Kalau begitu, sepertinya aku harus tutup lebih cepat hari ini." ucapnya.
"Dasar ..."
"Hehe ..."
"Kalau begitu, silakan masuk." lelaki ilmuan mengajaknya ke mobil.
"Ah, aku tak tahu saat aku duduk tadi. Tapi ternyata, kakimu memang panjang-panjang ya." ucap pengemis itu. "Dengan kaki sepanjang itu, kau pasti bisa berlari dengan cepat, kan?"
"Aaah, ti-tidak juga." lelaki ilmuan itu tersanjung, "Meskipun kakiku panjang, lariku cukup lambat. aku butuh 17 detik untuk menempuh seratus meter."
"Kalau begitu baguslah." ucap si pengemis.
"Eh? Memangnya kenapa?"
"Itu artinya percuma kau menangkapku!!" Pengemis itu kabur sambil membawa uangnya, "Aku menempuh seratus meter dalam 11 detik." ucap sambil lari. Yah, meski sebenarnya itu bohong.
"Ah, sial, aku ditipu!" ucap lelaki ilmuan. "Hei kau, kembalilah!! Kumohon kembali!!!"
"Memangnya kau pikir aku sudah gila hah?" pikir pengemis itu, "Siapa juga yang mau menjadi kelinci percobaan. Jangan bercanda, kau sudah meminta orang yang salah!"
Akhirnya pengemis itu pergi tanpa meninggalkan jejak. Selain tak jadi mendapat orang untuk percobaan mereka, uang merekapun berhasil dibawa lari olehnya. "Dasar bodoh, cepat kejar dia!!" bentak ilmuan wanita. Tapi bagaimapun, ilmuan lelaki tak mungkin bisa menangkapnya. "Cih!" akhirnya perempuan itu memutuskan untuk mengejarnya sendiri dengan mobil yang ia bawa, "Tunggu saja kau sialan, berani-beraninya mengambil uangku!!!"
"Dua belas terkuat apanya? Kalian itu komedian, ya? Dasar bocah-bocah lemah." Keduabelas berandal tadi telah berhasil dikalahkan oleh Kang Too-Jee sendirian. Choi Soo-Woo yang juga ada di tempat itu hanya bisa terdiam melihat kehebatan Kang Too-Jee.
Kemudian saat pemuda itu hendak pergi, Choi Woo-Soo mengejarnya. "Hei, tunggu sebentar!!!"
Ia mengejar. Tapi secara tak sengaja, kakinya menginjak kaleng dan tergelincir. Keseimbangannya buyar, dan spontan berpegangan pada celana Kang Too-Jee hingga membuatnya melorot.
"Ka-Kau!!!" Kang Too-Jee marah. "Berani-beraninya, kubunuh kau!!!"
"Ma-maafkan aku!! Aku tidak sengaja!!!"
Kembali ke sisi pengemis, ia terus berlari sementara mobil ilmuan mengejar di belakangnya. Pengemis itu sampai pada suatu tikungan, dan ia berbelok. "Kemana dia pergi!?"
"Tikungan ke kiri!!"
Tanpa ragupun wanita itu membanting stir dan berbelok. Tapi tanpa mereka duga, ternyata Kang Too-Jee dan Choi Woo-Soo berada di tikungan itu. "R-remnya!!!"
"Su-sudah terlambat!!!"
Comments
Post a Comment