Sebelumnya : Dragon Ball Z Episode 200 Bagian 4
Kali ini, giliran Sharpener yang memukul bolanya. "Pukulan homerun, Sharpener!!" teriak teman-temannya.
"kau tak akan dapat memkulnya semudah itu, Sharpener." yang akan menjadi pelempar adalah Videl. Gadis itu melempar sekuat tenaga, namun ternyata Sharpener memang jago. Ia mampu memukul bola itu, hingga terlempar begitu jauh di udara. "Sial!' ucap Videl.
Sharpener berlari. "Berhasil, dia memukulnya!!"
Hap, Gohan menangkapnya.
"!!!" Orang-orang kaget, Sharpener berhenti berlari, terkejut. Videl, Eliza, semuanya terdiam. Gohan menangkap bola yang ada pada ketinggian beberapa meter di atasnya, tentu saja mereka kaget. Lompatan yang terlalu tinggi, bahkan ini lebih layak disebut sebagai terbang. "Pelari yang ketiga berada di base, jadi jika aku melempar bola padanya, maka ia akan keluar." pikir Gohan. "Mudah sekali, kalau ini akulah ahlinya."
Gohan melempar bola itu dengan sangat amat pelan. Tapi, sepelan-pelannya anak saiya itu melempar, penangkap dari tim lawan sampai terjatuh karenanya.
"Out!"
Gohanpun kembali mendarat. "Berhasil, yang ketiga keluar, saatnya gantian." Gohan berlari. Ia asyik bermain tanpa tahu kalau orang-orang sedang melihatnya dengan tampang tak percaya. Sampai kemudian Gohan sadar. kenapa semuanya diam?
"Astaga, sepertinya aku terlalu berlebihan." Pikir Gohan.
"Kau hebat." ucap pak guru, "Bagaimana caramu bisa melompat sampai delapan meter?"
"Ah, itu hanya kebetulan saja." ucap Gohan.
"Apa?Kau menyebutnya kebetulan?"
Permainan berlanjut, dan sekarang adalah giliran Gohan untuk memukul. Orang-orang penasaran apa yang akan Gohan perbuat sekarang.
Gohan berdiri di posisinya. "Hei, apa kau mau memukul dengan tangan kiri?"
Tampaknya Gohan tak mau berlebihan lagi. Dengan tangan kanan, kekuatannya terlalu besar untuk memukul bola.
"Memangnya itu melanggar aturan?"
"Ah, tidak, itu bagus, tapi posisimu jadi terbalik." ucap pak guru.
"Posisiku terbalik?"
"Tidak, lakukan saja yang kau mau."
"kali ini, aku akan membalas untuk homerunku lagi." Yang akan menjadi pelempar adalah Sharpener. "Akan kuberi dia sedikit kejutan." Iapun bersiap untuk melempar.
"Lebih baik aku tidak mencari perhatian lagi." Pikir Gohan, "kali ini aku tak akan memukul bolanya."
"Baiklah, jika kau menghindar, kau tak akan mati, Hiaaah!!!" Lelaki itu melempar sekuat tenaga ke arah wajah Gohan. Bola melesat, dan Gohan tak menggerakan tangannya ataupun memukul sama sekali.
"Awas!!!" Teriak Videl. Tapi, bola itu sudah terlanjur menghantam wajah Gohan, begitu keras. Topinya bahkan sampai terjatuh.
"Dasar bodoh!! Kenapa dia tidak menghindar!?" Teriak Sharpener kaget. Pak guru dan seorang pemain yang ada di dekat Gohan malah lebih kaget lagi. Gohan bahkan tak tergores sama sekali akibat pukulan itu. Bolanya malah jatuh begitu saja. "Ah, tadi itu bola mati kan?" Dengan santainya Gohan bertanya pada pak guru. Pak guru mengangguk.
"Aah, beruntung sekali." Gohanpun berlari. "Aku tak perlu memukul bolanya untuk sampai di base, jadi aku tak akan dicurigai."
Meski tidak memukul, daya tahan Gohan tadi sebenarnya membuat orang-orang kaget.
"A-apa-apaan tadi dia itu!?" Tubuh Sharpener gemetar.
"Aneh sekali ..." ucap Videl.
Setelahnya, pulang sekolah. "Hei, klub apa yang akan kau ambil?" Sharpener bertanya pada Gohan. "Aku belum tahu, tapi ..."
"Lebih baik bergabung dengan klub tinju saja." Saran Sharpener. "Fisikmu lebih bagus dari yang kukira sebelumnya, kau pasti akan menjadi seorang petarung yang kuat."
"Sebenarnya aku berencana untuk tidak bergabung dengan sebuah klub." ucap Gohan.
"Rumah Gohan-kun sangat jauh kan, jadi dia tak bunya waktu untuk kegiatan klub." ucap Eliza.
"Ya, benar" ucap Gohan.
"Hei, Gohan-kun, apa kamu bisa mengantarku pulang?"
"Ah, maaf, kendaraanku hanya muat untu satu orang." Jawab Gohan.
"Kenapa kamu tidak pindah ke satan city saja?"
"Maaf, tapi aku tak bisa ..."
Gohan keluar dari gedung. Sementara itu dari bailk suatu pohon, Videl mengawasi gerak-geriknya, "Mencurigakan sekali. Jika benar rumahnya jauh, kenapa dia tidak naik mobil atau pesawat jet?"
Gohan menuju tempat yang sepi, sementara Videl terus saja mengikutinya. Tapi lama-lama, Gohan menyadarinya. Ia berjalan menuju sebuah belokan, Videl menyusul dan Gohan sudah tak ada. Ia mengilang. Videl kaget. "Ke-kemana dia!?"
Son Gohan telah berdiri di atas gedung, dan akhirnya bisa pulang tanpa ada yang tahu dengan menggunakan awan kinton. "Haah, ternyata kota itu sangat melelahkan. Ksatria berambut pirang, sepertinya aku butuh sesuatu untuk menyembunyikan identitasku. Ya, aku harus membicarakan ini dengan bibi Bulma."
Bersambung ke Dragon Ball Z Episode 201
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
Kali ini, giliran Sharpener yang memukul bolanya. "Pukulan homerun, Sharpener!!" teriak teman-temannya.
"kau tak akan dapat memkulnya semudah itu, Sharpener." yang akan menjadi pelempar adalah Videl. Gadis itu melempar sekuat tenaga, namun ternyata Sharpener memang jago. Ia mampu memukul bola itu, hingga terlempar begitu jauh di udara. "Sial!' ucap Videl.
Sharpener berlari. "Berhasil, dia memukulnya!!"
Hap, Gohan menangkapnya.
"!!!" Orang-orang kaget, Sharpener berhenti berlari, terkejut. Videl, Eliza, semuanya terdiam. Gohan menangkap bola yang ada pada ketinggian beberapa meter di atasnya, tentu saja mereka kaget. Lompatan yang terlalu tinggi, bahkan ini lebih layak disebut sebagai terbang. "Pelari yang ketiga berada di base, jadi jika aku melempar bola padanya, maka ia akan keluar." pikir Gohan. "Mudah sekali, kalau ini akulah ahlinya."
Gohan melempar bola itu dengan sangat amat pelan. Tapi, sepelan-pelannya anak saiya itu melempar, penangkap dari tim lawan sampai terjatuh karenanya.
"Out!"
Gohanpun kembali mendarat. "Berhasil, yang ketiga keluar, saatnya gantian." Gohan berlari. Ia asyik bermain tanpa tahu kalau orang-orang sedang melihatnya dengan tampang tak percaya. Sampai kemudian Gohan sadar. kenapa semuanya diam?
"Astaga, sepertinya aku terlalu berlebihan." Pikir Gohan.
"Kau hebat." ucap pak guru, "Bagaimana caramu bisa melompat sampai delapan meter?"
"Ah, itu hanya kebetulan saja." ucap Gohan.
"Apa?Kau menyebutnya kebetulan?"
Permainan berlanjut, dan sekarang adalah giliran Gohan untuk memukul. Orang-orang penasaran apa yang akan Gohan perbuat sekarang.
Gohan berdiri di posisinya. "Hei, apa kau mau memukul dengan tangan kiri?"
Tampaknya Gohan tak mau berlebihan lagi. Dengan tangan kanan, kekuatannya terlalu besar untuk memukul bola.
"Memangnya itu melanggar aturan?"
"Ah, tidak, itu bagus, tapi posisimu jadi terbalik." ucap pak guru.
"Posisiku terbalik?"
"Tidak, lakukan saja yang kau mau."
"kali ini, aku akan membalas untuk homerunku lagi." Yang akan menjadi pelempar adalah Sharpener. "Akan kuberi dia sedikit kejutan." Iapun bersiap untuk melempar.
"Lebih baik aku tidak mencari perhatian lagi." Pikir Gohan, "kali ini aku tak akan memukul bolanya."
"Baiklah, jika kau menghindar, kau tak akan mati, Hiaaah!!!" Lelaki itu melempar sekuat tenaga ke arah wajah Gohan. Bola melesat, dan Gohan tak menggerakan tangannya ataupun memukul sama sekali.
"Awas!!!" Teriak Videl. Tapi, bola itu sudah terlanjur menghantam wajah Gohan, begitu keras. Topinya bahkan sampai terjatuh.
"Dasar bodoh!! Kenapa dia tidak menghindar!?" Teriak Sharpener kaget. Pak guru dan seorang pemain yang ada di dekat Gohan malah lebih kaget lagi. Gohan bahkan tak tergores sama sekali akibat pukulan itu. Bolanya malah jatuh begitu saja. "Ah, tadi itu bola mati kan?" Dengan santainya Gohan bertanya pada pak guru. Pak guru mengangguk.
"Aah, beruntung sekali." Gohanpun berlari. "Aku tak perlu memukul bolanya untuk sampai di base, jadi aku tak akan dicurigai."
Meski tidak memukul, daya tahan Gohan tadi sebenarnya membuat orang-orang kaget.
"A-apa-apaan tadi dia itu!?" Tubuh Sharpener gemetar.
"Aneh sekali ..." ucap Videl.
Setelahnya, pulang sekolah. "Hei, klub apa yang akan kau ambil?" Sharpener bertanya pada Gohan. "Aku belum tahu, tapi ..."
"Lebih baik bergabung dengan klub tinju saja." Saran Sharpener. "Fisikmu lebih bagus dari yang kukira sebelumnya, kau pasti akan menjadi seorang petarung yang kuat."
"Sebenarnya aku berencana untuk tidak bergabung dengan sebuah klub." ucap Gohan.
"Rumah Gohan-kun sangat jauh kan, jadi dia tak bunya waktu untuk kegiatan klub." ucap Eliza.
"Ya, benar" ucap Gohan.
"Hei, Gohan-kun, apa kamu bisa mengantarku pulang?"
"Ah, maaf, kendaraanku hanya muat untu satu orang." Jawab Gohan.
"Kenapa kamu tidak pindah ke satan city saja?"
"Maaf, tapi aku tak bisa ..."
Gohan keluar dari gedung. Sementara itu dari bailk suatu pohon, Videl mengawasi gerak-geriknya, "Mencurigakan sekali. Jika benar rumahnya jauh, kenapa dia tidak naik mobil atau pesawat jet?"
Gohan menuju tempat yang sepi, sementara Videl terus saja mengikutinya. Tapi lama-lama, Gohan menyadarinya. Ia berjalan menuju sebuah belokan, Videl menyusul dan Gohan sudah tak ada. Ia mengilang. Videl kaget. "Ke-kemana dia!?"
Son Gohan telah berdiri di atas gedung, dan akhirnya bisa pulang tanpa ada yang tahu dengan menggunakan awan kinton. "Haah, ternyata kota itu sangat melelahkan. Ksatria berambut pirang, sepertinya aku butuh sesuatu untuk menyembunyikan identitasku. Ya, aku harus membicarakan ini dengan bibi Bulma."
Bersambung ke Dragon Ball Z Episode 201
Comments
Post a Comment