Sebelumnya : Hunter x Hunter Chapter 160
Setelah membunuh Bepobo, Razer maju dan mengatakan kalau sekarang adalah gilirannya. "A-apa-apaan, dia dibunuh oleh rekannya sendiri!?" Pemain-pemain yang dikumpulkan oleh Gon dan yang lainnya ketakutan. "Ini buruk, lelaki itu benar-benar berita buruk ..."
"TIdakkah permainan ini berbahaya!? Kami tak bisa melawan kelompok itu" Mereka mulai ragu. Kemudian Goreinupun kembali mencoba untuk meyakinkannya, "Tidak, yang akan bertarung hanyalah kami."
"Aku sudah menjelaskannya, bukan?" ucap Tsezugera. "Kalau sembilan dari kita tak bisa meraih delapan kemenangan, kalian boleh mengundurkan diri tanpa bertarung."
"Benarkah?"
"Lagipula mana mungkin aku melakukannya."
"Yah, tidak apa-apa." ucap Tsezugera. Meski dalam hati, ia begitu kesal dan memaki, "Huh, orang-orang bodoh seperti ini datang ke Greed Island? Mereka pasti cuma bisa omong besar."
"Yah, kalau begitu kami bisa tenang."
"Untuk sampah-sampah ini, masalahnya sudah beres. Sekarang yang jadi masalah adalah lelaki itu." Pikir Tsezugera sambil melihat ke Razor. "Dia adalah satu-satunya yang benar-benar memiliki aura kuat di antara mereka. Dan tidak diragukan lagi, dia adalah ... seorang Game Master."
Sementara itu, Killua mendekat dan menanyakan masalah tadi. "Apa tidak apa-apa? Dia mati, lalu bagaimana dengan sumonya?" Kemudian Razor menjawab, "Hm?? Anggap saja kalian menang."
"Tapi kau tahu, kami belum memutuskan siapa yang tadi bertanding lho." ucap Killua.
"Fufufu, seperti yang aku duga." Pikir licik Biscuit dari belakangnya.
"Aku tidak peduli siapa yang kau tunjuk untuk mendapat kemenangan itu. kau bahkan boleh menunjuk salah satu dari kumpulan orang-orang yang kelihatannya hanya sebagai penggenap saja itu." ucap Razor.
"Kalau begitu, kau menang untuk sumo." Killua menunjuk salah satu dari mereka secara acak. "Eh? Aku?"
"Dengan ini kita sudah memiliki empat kemenangan."
"Kita melakukannya dengan baik." ucap Biscuit.
"Yah, lalu tema olah raga yang akan aku mainkan adalah ...
Olah raga yang menggunakan delapan pemain ... Dodge Ball!!" Razor mengatakannya. Dan kemudian secara perlahan, mahluk-mahluk bayangan bertopi dengan nomor di dalamnya muncul. Razor memiliki kemampuan untuk memunculkan tentara bayangan.
"Pesertanya delapan orang, kalian pilihlah anggota kalian." ucap Razor, sementara ia sudah siap dengan tujuh mahluk bayangan nennya. "Kalau aku bisa kalian lihat sendiri kan, delapan peserta sudah terkumpul."
"Tunggu dulu, lalu bagaimana cara memutuskan kemenangan ini?"
"Satu orang satu kemenangan kan?"
"Yah, satu orang memang satu kemenangan. Dengan kata lain kalau kalian menang, kalian langsung mendapat delapan kemenangan, tidakkah itu sederhana?"
"Jadi begitu ya ..." Tsezugera mengerti sesuatu.
"Kalaupun kami menang melawan anak buah-anak buahnya tadi itu, pada akhirnya akan ada sistem dimana Razor dapat langsung meraih delapan kemenangan. Razor dan empat belas iblisnya, kelihatannya empat belas iblis yang sebenarnya adalah pasukan bayangan ini."
Keadaan buruk mengingat anggota kuat yang tersisa hanya enam, dan sisanya hanyalah penggenap lemah yang tak mau ikut berlomba. "Tak mungkin, aku tak mau melakukannya meskipun aku tak akan pernah kembali ke dunia nyata."
"Aku juga, aku tak mau berhadapan dengan lelaki juga."
"Aku juga, aku akan kembali."
"Hei hei, kami tidak bilang kalau kalian harus melakukan sesuatu kan? Kalian tinggal ikut, dan bebas mau terkena bolanya atau tidak."
"Apa kau bercanda hah!!? Kau sudah melihatnya juga kan? Bisa-bisa kami mati kalau kena!!"
"Ah, kalian semua yang di sana, bola yang aku gunakan kali ini hanyalah bola biasa." Jelas Razor. "Yah, tapi kalau nanti aku mengisinya dengan nen, tembakannya memang tak akan jauh berbeda dari yang tadi sih."
"..." mendengarnya, mereka semakin ketakutan.
"Aku akan pulang!!"
"Maaf, tapi hidup kami lebih penting!!"
"Tu-Tunggu sebentar, Tenma, kami sedang memikirkan suatu cara, jadi ..."
"Sial." ucap Tsezugera. "Sekarang hanya tinggal kami berenam yang bisa diandalkan ..."
"Ayo kita lakukan berenam saja." ucap Gon. "Kita memang akan meresikokan hidup kita. Tapi, ini satu-satunya jalan. Kau tak keberatan kalau kami hanya berenam kan?"
"Itu mustahil." Razor menolaknya. "Dalam pertarungan delapan lawan delapan, kalian harus memiliki jumlah pemain yang pas. Kalau tidak, tak ada artinya kalian mengumpulkan orang kan?"
"Kau sendiri sebenarnya hanya sendiri kan, berhenti bercanda!!" ucap Gon. "Kalau karakter mengatakan sesuatu, kita memang tak bisa menentangnya, tapi ... Kalian teman kan? Hal seburuk apa yang Bopobo lakukan sampai kau membunuhnya!?"
"Pencurian, pembunuhan, pemerkosaan yang menyebabkan kematian, setidaknya sebelas tuduhan sudah bisa dipastikan." jelas Razor.
"Eh?"
"Ini adalah dunia nyata." Jelas Hisoka.
"Eh??" Gon semakin tak mengerti.
"Greed Island adalah pulau yang benar-benar ada di suatu tempat di dunia nyata. Game ini berlangsung di dunia nyata." Jelas Tsezugera.
"!!?" Gon dan yang lainnya kaget, mereka baru menyadari hal ini. "Membiarkan seseorang yang percaya kalau mereka bermain di dalam game mendengar hal tadi, Bopobo melanggarnya, jadi kau marah, begitu kan?" Tsezugera tahu. "Lelaki bernama Razor itu adalah Game Master, dia manusia seperti kita."
"Game Master?"
"Dia adalah salah satu yang menciptakan game ini." jelas Tsezugera lagi.
"Eeh? Jadi ..."
"Bopobo dan yang lainnya kemungkinan adalah narapidana yang akan dihukum mati. Dengan suatu kondisi, mereka disewa oleh Hunter Profesional. Bopobo melanggar perjanjian, dan sudah bertindak terlalu jauh."
"I-Ini ... Dunia nyata ..." Gon benar-benar baru sadar.
"Benar sekali." ucap Hisoka.
"Aku sama sekali tak menyangka."
"Aku bahkan tak pernah curiga sedikitpun."
"Yah, tapi apapun itu, kenyataan kalau tempat ini terisolasi dari dunia luar tak akan berubah." ucap Razor.
"Tu-tunggu sebentar!" Gon hendak memastikan sesuatu. "Kalau ini dunia nyata, berarti ... Apa Ging ada di sini!? Greed Island!?"
"Ging?" Goreinu bertanya-tanya.
"Ah, jadi kau Gon ya." ucap Razor.
"Ya!!"
"Kalau dia datang, keluarkanlah seluruh kemampuanmu, itu adalah pesan yang ditujunkan oleh ayahmu padaku." ucap Razor. Awalnya, Gon sempat kaget, namun kemudian dirinya bersemangat.
Berbeda dengan Gon, mendengar hal itu para pemain penggenap malah semakin ketakutan. "Kami mau pergi dari sini!!"
"He-hei ..."
"Sudahlah, biarkan saja." ucap Goreinu.
"Tapi pertandingan kita ..."
"Tak apa, akulah yang akan mengambil alih tempat yang kosong."
Ternyata sama halnya dengan Razor, Goreinu memiliki kemampuan untuk memunculkan nen bayangan. Ia memunculkan dua sosok kera bertubuh besar. Yang satu berwarna hitam, sementara yang satunya berwarna putih.
"Ini sama seperti yang kau lakukan, jadi tak ada masalah kan?"
"yah, tidak apa-apa." ucap Razor. "Karena sudah genap delapan-delapan, sekarang aku akan menjelaskan peraturannya."
Razorpun mulai memberi penjelasan. "Permainan akan dimulai dengan satu di luar lapangan, dan tujuh di dalam. Kelompok dianggap kalah saat sudah tak ada pemain lagi di lapangan. Saat pemain di dalam terkena bola yang dilempar oleh lawan, maka pemain itu harus keluar. Namun, termasuk dengan seseorang yang ada di luar saat pertama kita memulainya, hanya satu pemain yang diperbolehkan untuk masuk kembali. Ini disebut dengan Back, dapat digunakan kapan saja. Sebagai contoh yang paling ekstrim, kalau kau menyebutkan Back di saat permainan baru saja dimulai, kalian akan memiliki delapan pemain di dalam. Tapi, kalau bolanya jatuh di luar ketika tak ada satupun pemain di sana, bolanya akan menjadi milik lawan. Jadi, berhati-hatilah. Kemudian, berlaku juga sistem Cushion. Misalnya, jika aku melempar bola pada lawan dan memantul mengenai pemain satunya, anggap saja aku mengenai pemain A dan B, lalu bolanya jatuh ke lantai, makan pemain A dan B akan keluar."
"Kalau B berhasil menangkap bolanya, apa A akan dianggap selamat?"
"Tepat sekali. Tapi jika bola yang aku lempar ke lawan memantul dan malah mengenai anggota kelompokku anggap saja C dan jatuh ke lantai, yang keluar adalah C."
"Kalau C menangkap bolanya, yang keluar adalah A?"
"Tepat sekali."
"Uh ..." Gon tak terlalu mengerti.
"Pada dasarnya hanya hindari atau tangkap bolanya." Jelas Killua.
"Ada pertanyaan lain?"
"Kalau pemain di luar mengenai seseorang, apa itu juga dihitung?"
"Tentu saja. Tapi, pemain yang bisa kembali hanyalah orang yang menyebut back."
"Yah, kalau sudah, mari kita mulai saja pertandingannya. Aya bayangan nomor nol akan menjadi wasitnya. Anggota Razor yang diluar adalah nomor satu sedangkan Tim Gon yang di luar adalah binatang putih milik Goreinu. Lemparan pertama akan menjadi tanda dimulainya pertandingan. Bersiap ..."
"Mulai!!!"
Bola dilempar, Killua dan seorang anggota Razorpun meloncat. Namun seolah sengaja mengalah, tim Razor membiarkan Killua mendapatkan kesempatan pertama. Killua mengumpankannya ke Goreinu.
"Aku sengaja memberimu serve bola pertama." ucap Razor.
"Sepertinya bantuanmu itu tidak terlalu kami butuhkan." Goreinu bersiap.
Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 162
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
Setelah membunuh Bepobo, Razer maju dan mengatakan kalau sekarang adalah gilirannya. "A-apa-apaan, dia dibunuh oleh rekannya sendiri!?" Pemain-pemain yang dikumpulkan oleh Gon dan yang lainnya ketakutan. "Ini buruk, lelaki itu benar-benar berita buruk ..."
"TIdakkah permainan ini berbahaya!? Kami tak bisa melawan kelompok itu" Mereka mulai ragu. Kemudian Goreinupun kembali mencoba untuk meyakinkannya, "Tidak, yang akan bertarung hanyalah kami."
"Aku sudah menjelaskannya, bukan?" ucap Tsezugera. "Kalau sembilan dari kita tak bisa meraih delapan kemenangan, kalian boleh mengundurkan diri tanpa bertarung."
"Benarkah?"
"Lagipula mana mungkin aku melakukannya."
"Yah, tidak apa-apa." ucap Tsezugera. Meski dalam hati, ia begitu kesal dan memaki, "Huh, orang-orang bodoh seperti ini datang ke Greed Island? Mereka pasti cuma bisa omong besar."
"Yah, kalau begitu kami bisa tenang."
"Untuk sampah-sampah ini, masalahnya sudah beres. Sekarang yang jadi masalah adalah lelaki itu." Pikir Tsezugera sambil melihat ke Razor. "Dia adalah satu-satunya yang benar-benar memiliki aura kuat di antara mereka. Dan tidak diragukan lagi, dia adalah ... seorang Game Master."
Sementara itu, Killua mendekat dan menanyakan masalah tadi. "Apa tidak apa-apa? Dia mati, lalu bagaimana dengan sumonya?" Kemudian Razor menjawab, "Hm?? Anggap saja kalian menang."
"Tapi kau tahu, kami belum memutuskan siapa yang tadi bertanding lho." ucap Killua.
"Fufufu, seperti yang aku duga." Pikir licik Biscuit dari belakangnya.
"Aku tidak peduli siapa yang kau tunjuk untuk mendapat kemenangan itu. kau bahkan boleh menunjuk salah satu dari kumpulan orang-orang yang kelihatannya hanya sebagai penggenap saja itu." ucap Razor.
"Kalau begitu, kau menang untuk sumo." Killua menunjuk salah satu dari mereka secara acak. "Eh? Aku?"
"Dengan ini kita sudah memiliki empat kemenangan."
"Kita melakukannya dengan baik." ucap Biscuit.
"Yah, lalu tema olah raga yang akan aku mainkan adalah ...
Olah raga yang menggunakan delapan pemain ... Dodge Ball!!" Razor mengatakannya. Dan kemudian secara perlahan, mahluk-mahluk bayangan bertopi dengan nomor di dalamnya muncul. Razor memiliki kemampuan untuk memunculkan tentara bayangan.
"Pesertanya delapan orang, kalian pilihlah anggota kalian." ucap Razor, sementara ia sudah siap dengan tujuh mahluk bayangan nennya. "Kalau aku bisa kalian lihat sendiri kan, delapan peserta sudah terkumpul."
"Tunggu dulu, lalu bagaimana cara memutuskan kemenangan ini?"
"Satu orang satu kemenangan kan?"
"Yah, satu orang memang satu kemenangan. Dengan kata lain kalau kalian menang, kalian langsung mendapat delapan kemenangan, tidakkah itu sederhana?"
"Jadi begitu ya ..." Tsezugera mengerti sesuatu.
"Kalaupun kami menang melawan anak buah-anak buahnya tadi itu, pada akhirnya akan ada sistem dimana Razor dapat langsung meraih delapan kemenangan. Razor dan empat belas iblisnya, kelihatannya empat belas iblis yang sebenarnya adalah pasukan bayangan ini."
Keadaan buruk mengingat anggota kuat yang tersisa hanya enam, dan sisanya hanyalah penggenap lemah yang tak mau ikut berlomba. "Tak mungkin, aku tak mau melakukannya meskipun aku tak akan pernah kembali ke dunia nyata."
"Aku juga, aku tak mau berhadapan dengan lelaki juga."
"Aku juga, aku akan kembali."
"Hei hei, kami tidak bilang kalau kalian harus melakukan sesuatu kan? Kalian tinggal ikut, dan bebas mau terkena bolanya atau tidak."
"Apa kau bercanda hah!!? Kau sudah melihatnya juga kan? Bisa-bisa kami mati kalau kena!!"
"Ah, kalian semua yang di sana, bola yang aku gunakan kali ini hanyalah bola biasa." Jelas Razor. "Yah, tapi kalau nanti aku mengisinya dengan nen, tembakannya memang tak akan jauh berbeda dari yang tadi sih."
"..." mendengarnya, mereka semakin ketakutan.
"Aku akan pulang!!"
"Maaf, tapi hidup kami lebih penting!!"
"Tu-Tunggu sebentar, Tenma, kami sedang memikirkan suatu cara, jadi ..."
"Sial." ucap Tsezugera. "Sekarang hanya tinggal kami berenam yang bisa diandalkan ..."
"Ayo kita lakukan berenam saja." ucap Gon. "Kita memang akan meresikokan hidup kita. Tapi, ini satu-satunya jalan. Kau tak keberatan kalau kami hanya berenam kan?"
"Itu mustahil." Razor menolaknya. "Dalam pertarungan delapan lawan delapan, kalian harus memiliki jumlah pemain yang pas. Kalau tidak, tak ada artinya kalian mengumpulkan orang kan?"
"Kau sendiri sebenarnya hanya sendiri kan, berhenti bercanda!!" ucap Gon. "Kalau karakter mengatakan sesuatu, kita memang tak bisa menentangnya, tapi ... Kalian teman kan? Hal seburuk apa yang Bopobo lakukan sampai kau membunuhnya!?"
"Pencurian, pembunuhan, pemerkosaan yang menyebabkan kematian, setidaknya sebelas tuduhan sudah bisa dipastikan." jelas Razor.
"Eh?"
"Ini adalah dunia nyata." Jelas Hisoka.
"Eh??" Gon semakin tak mengerti.
"Greed Island adalah pulau yang benar-benar ada di suatu tempat di dunia nyata. Game ini berlangsung di dunia nyata." Jelas Tsezugera.
"!!?" Gon dan yang lainnya kaget, mereka baru menyadari hal ini. "Membiarkan seseorang yang percaya kalau mereka bermain di dalam game mendengar hal tadi, Bopobo melanggarnya, jadi kau marah, begitu kan?" Tsezugera tahu. "Lelaki bernama Razor itu adalah Game Master, dia manusia seperti kita."
"Game Master?"
"Dia adalah salah satu yang menciptakan game ini." jelas Tsezugera lagi.
"Eeh? Jadi ..."
"Bopobo dan yang lainnya kemungkinan adalah narapidana yang akan dihukum mati. Dengan suatu kondisi, mereka disewa oleh Hunter Profesional. Bopobo melanggar perjanjian, dan sudah bertindak terlalu jauh."
"I-Ini ... Dunia nyata ..." Gon benar-benar baru sadar.
"Benar sekali." ucap Hisoka.
"Aku sama sekali tak menyangka."
"Aku bahkan tak pernah curiga sedikitpun."
"Yah, tapi apapun itu, kenyataan kalau tempat ini terisolasi dari dunia luar tak akan berubah." ucap Razor.
"Tu-tunggu sebentar!" Gon hendak memastikan sesuatu. "Kalau ini dunia nyata, berarti ... Apa Ging ada di sini!? Greed Island!?"
"Ging?" Goreinu bertanya-tanya.
"Ah, jadi kau Gon ya." ucap Razor.
"Ya!!"
"Kalau dia datang, keluarkanlah seluruh kemampuanmu, itu adalah pesan yang ditujunkan oleh ayahmu padaku." ucap Razor. Awalnya, Gon sempat kaget, namun kemudian dirinya bersemangat.
Berbeda dengan Gon, mendengar hal itu para pemain penggenap malah semakin ketakutan. "Kami mau pergi dari sini!!"
"He-hei ..."
"Sudahlah, biarkan saja." ucap Goreinu.
"Tapi pertandingan kita ..."
"Tak apa, akulah yang akan mengambil alih tempat yang kosong."
Ternyata sama halnya dengan Razor, Goreinu memiliki kemampuan untuk memunculkan nen bayangan. Ia memunculkan dua sosok kera bertubuh besar. Yang satu berwarna hitam, sementara yang satunya berwarna putih.
"Ini sama seperti yang kau lakukan, jadi tak ada masalah kan?"
"yah, tidak apa-apa." ucap Razor. "Karena sudah genap delapan-delapan, sekarang aku akan menjelaskan peraturannya."
Razorpun mulai memberi penjelasan. "Permainan akan dimulai dengan satu di luar lapangan, dan tujuh di dalam. Kelompok dianggap kalah saat sudah tak ada pemain lagi di lapangan. Saat pemain di dalam terkena bola yang dilempar oleh lawan, maka pemain itu harus keluar. Namun, termasuk dengan seseorang yang ada di luar saat pertama kita memulainya, hanya satu pemain yang diperbolehkan untuk masuk kembali. Ini disebut dengan Back, dapat digunakan kapan saja. Sebagai contoh yang paling ekstrim, kalau kau menyebutkan Back di saat permainan baru saja dimulai, kalian akan memiliki delapan pemain di dalam. Tapi, kalau bolanya jatuh di luar ketika tak ada satupun pemain di sana, bolanya akan menjadi milik lawan. Jadi, berhati-hatilah. Kemudian, berlaku juga sistem Cushion. Misalnya, jika aku melempar bola pada lawan dan memantul mengenai pemain satunya, anggap saja aku mengenai pemain A dan B, lalu bolanya jatuh ke lantai, makan pemain A dan B akan keluar."
"Kalau B berhasil menangkap bolanya, apa A akan dianggap selamat?"
"Tepat sekali. Tapi jika bola yang aku lempar ke lawan memantul dan malah mengenai anggota kelompokku anggap saja C dan jatuh ke lantai, yang keluar adalah C."
"Kalau C menangkap bolanya, yang keluar adalah A?"
"Tepat sekali."
"Uh ..." Gon tak terlalu mengerti.
"Pada dasarnya hanya hindari atau tangkap bolanya." Jelas Killua.
"Ada pertanyaan lain?"
"Kalau pemain di luar mengenai seseorang, apa itu juga dihitung?"
"Tentu saja. Tapi, pemain yang bisa kembali hanyalah orang yang menyebut back."
"Yah, kalau sudah, mari kita mulai saja pertandingannya. Aya bayangan nomor nol akan menjadi wasitnya. Anggota Razor yang diluar adalah nomor satu sedangkan Tim Gon yang di luar adalah binatang putih milik Goreinu. Lemparan pertama akan menjadi tanda dimulainya pertandingan. Bersiap ..."
"Mulai!!!"
Bola dilempar, Killua dan seorang anggota Razorpun meloncat. Namun seolah sengaja mengalah, tim Razor membiarkan Killua mendapatkan kesempatan pertama. Killua mengumpankannya ke Goreinu.
"Aku sengaja memberimu serve bola pertama." ucap Razor.
"Sepertinya bantuanmu itu tidak terlalu kami butuhkan." Goreinu bersiap.
Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 162
Comments
Post a Comment