Sebelumnya : Assasination Classroom Chapter 3
"Satu, dua, tiga!!" terdengar teriakan anak-anak kelas E yang sedang menjalani kelas olah raga. "Empat, lima, enam, tujuh, delapan!!" teriakan mereka terdengar begitu bersemangat.
Dari sisi lapangan, Koro-sensei melihat mereka sambil tersenyum. "Berteriak penuh semangat di lapangan olah raga pada hari cerah begini, damai sekali ..." ucapnya. "Kalau saja mereka tidak membawa senjata ..."
Jam olah raga dipegang oleh Karasuma, yang mengajari murid-murid cara menggunakan pisau yang benar. "Ayunkan pisau kalian delapan kali tanpa keraguan!! Tak peduli bagaimana cara kalian berdiri, jangan sampai kehilangan keseimbangan!!" perintahnya.
"Sudah ku bilang kan agar kau pergi ke tempat lain saja selama aku mengajar." ucap Karasuma ke Koro-sensei, "Mulai sekarang, akulah yang bertanggung jawab untuk pelajaran olah raga. Hah, tapi meskipun kuberitahu begitu, kau tak akan menurutinya, kan? Pergi saja ke bak pasir itu agar kau tidak bosan."
"Kau kejam sekali ...
Karasuma-sa ... Karasuma-senpai." akhirnya Koro-sensei mau menghabiskan waktu di bak pasir. "Kau tahu, para murid menyukai olah raga saat aku yang mengajarnya lho." ucapnya.
"Jangan berbohong, Koro-sensei." ucap salah seorang murid.
"Kemampuan fisikmu itu sangat berbeda dengan kami. Contohnya, waktu itu ..."
Saat itu, Koro-sensei sedang mengajar pelajaran olah raga. "Ayo coba melompat dari satu sisi ke sisi lainnya. Pertama-tama, aku akan memberi kalian contoh." Koro-sensei bergerak begitu cepat dari satu garis ke garis lainnya dengan cepat hingga dirinya seperti ada tiga, saking cepatnya. Dan sambil melakukan itu, Koro-sensei membuat bentuk dari karet gelang.
"Kita akan mulai dari dasar penggandaan bayangan. Dan kalau kalian semua sudah bisa melakukannya, kita akan menambahkan teknik ayunan kucing agar lebih sulit."
"Kau pikir kami bisa melakukannya, hah!?" bentak para murid.
"Kita memang benar-benar berada di dimensi yang berbeda darinya." ucap siswa.
"Hah, aku ingin diajari guru olah raga manusia saja." ucap siswa lainnya.
Koro-sensei murung, kembali ke pojokkan bak pasir.
"Akhirnya kita berhasil menjauhkan target, ayo lanjutkan pelajarannya." ucap Karasuma.
"Tapi, Karasuma-sensei! Apa latihan semacam ini ada gunanya?" tanya seorang siswa. "Dan lagi, melakukannya tepat di depan target itu sendiri ..."
"Membunuh itu sama dengan pelajaran" jelas Karasuma. "Semakin mahirnya kalian ditentukan oleh dasar yang kalian kuasai. Sebagai contoh ... Isogai-kun, Maehara-kun, coba serang aku dengan pisau itu." pinta Karasuma.
"Eeeh? Apa kau yakin??"
"Kami berdua??"
"Pisau itu tak akan melukai manusia, jadi tenang saja. Kalau kalian bisa mengenaiku, aku akan mengakhiri pelajaran hari ini." ucap Karasuma.
"Umm .."
"Kalau begitu ..."
Merekapun melakukannya. Isogai menebaskan pisau yang dibawanya ke Karasuma. Akan tetapi, dengan mudah lelaki itu menghindarinya. Maehara melanjutkan serangan. Namun sama seperti temannya tadi, serangan anak itu juga bisa dihindari. Mereka berdua lalu menyerang secara bersamaan, dan tetap saja Karasuma mampu menghindari semuanya.
"Dengan dasar kemampuan kalian yang levelnya hanya segini, aku akan mampu menangani serangan kalian dengan mudah."
"Sial!!!" mereka berdua terus berusaha. Tapi kemudian, Karasuma mencengkram kedua tangan mereka dan lalu membantingnya.
"Apa kalian sudah mengerti sekarang? Dengan dasar yang lemah, kalian bahkan tak akan bisa mengenaiku. Jadi, kemungkinan untuk bisa melawan seseorang dengan kecepatan Mach 20 akan jadi mustahil" jelas Karasuma.
"Coba lihat mahluk itu." Karasuma menunjuk Koro-sensei, "Sementara kita melakukan hal barusan, dia sudah membangun kastil Osaka dari pasir dan bahkan sudah mengenakan pakaian untuk upacara teh."
Begitu cepat. Kalau mengenai manusia biasa saja tak bisa, apalagi mahluk secepat itu.
"Kalau semuanya sampai di level yang sudah bisa mengenaiku, maka setidaknya kemungkinan kalian bisa membunuhnya akan meningkat. Ada banyak teknik dasar dalam membunuh seperti menggunakan pisau atau menembak. Selama pelajaran olah raga, aku akan mengajari kalian." ucap Karsuma.
Jam pelajaran berakhir, dan murid-murid bubar. Sambil berjalan, beberapa siswi membicarakan Karasuma. "Karasuma-sensei agak menakutkan ya, tapi keren."
"Ya, kalau saja aku bisa mengenainya, mungkin dia akan menepuk kepalaku." ucap mereka.
"Huhu, Karsuma-sensei, apa kamu datang ke sini sengaja untuk mengambil popularitasku??" Koro-sensei menggigit tisu. "Jangan aneh-aneh." ucap Karsuma.
"Kalau sekolah bisa menambahkan guru ke kelas E untuk pelajaran tertentu, aku percaya pasti ada kondisi khusus dalam kontrak mengajarmu."
Tap!!! Tembakan pisau mengarah ke kepala Koro-sensei, dan ternyata yang melesatkannya adalah Karsuma. Akan tetapi, Koro-sensei cepat menghindar hingga pisau itu malah mengenai kayu yang ada di belakangnya. "Misiku adalah untuk mengawasi anak-anak pembunuh ini." ucap Karsuma. "Yang tujuannya adalah untuk membunuh kau."
"Aku bukan 'mahluk itu' atau 'kau', tolong panggil aku dengan sebutan Koro-sensei, nama yang telah diberikan oleh murid-muridku." ucap Koro-sensei.
Di sisi lain, Sugino dan Nagisa ...
"Ah, jam keenam nanti kita ada kuis ya ..."
"Bukannya tadi kau yang ingin jam olah raga cepat berakhir?" ucap Nagisa.
Mereka berdua sedang berjalan untuk menuju ruang ganti. Akan tetapi, tiba-tiba Nagisa melihat seseorang berdiri di depan ruang kelas E, seorang siswa yang melihat tersenyum ke arah mereka sambil meminum minuman kotak.
"Karma-kun ... Kau sudah kembali?"
"Yah, sudah lama ya, Nagisa." ucap orang itu. Karma, Akabane Karma adalah siswa bermasalah yang selama ini diskorsing karena kasus tertentu. Dan kali ini, ia kembali, dengan senyum yang terlihat ramah.
"Woah, jadi itu Koro-sensei yang selalu dibicarakan, ya? keren, dia benar-benar mirip gurita." Karma berlari menghampiri Koro-sensei.
"Kau pasti Akabane Karma-kun, kan? Aku dengan skorsingmu berakhir hari ini. Tapi, huh, terlambat di hari pertama?" warna kepala Koro-sensei berubah pertanda ia marah. "Aah, aku hanya belum terbiasa untuk kembali ke kehidupan sekolah ini." ucap Karma.
"Dan, akan lebih santai kalau kau memanggilku dengan nama awal saja. Ngomong-ngomong, senang bertemu denganmu, sensei." Karma mengulurkan telapak tangannya. "Sama-sama, mari kita nikmati tahun yang menarik dan mengasyikkan." Koro-sensei menjabat tangan Karma. Tapi tiba-tiba, Karma mencengkram telapak tangan Koro-sensei hingga hancur. Masih dalam keadaan kaget, Karma kembali menyerang dengan pisau yang ia sembunyikan di balik lengan bajunya. Namun untungnya, Koro-sensei berhasil menghindar, meloncat jauh ke belakang.
Para siswa kaget melihat kejadian tadi.
"Huh, ternyata kau memang cepat ya. Dan, pisau ini ternyata memang benar-benar mempan padamu." di telapak tangan Karma, ternyata terdapat potongan-potongan kecil pisau itu. "Aku memotong kecil-kecil pisau ini dan menempelkannya di telapak tanganku. Tapi, sensei, aku tak menyangka kau akan tertipu hanya dengan trik kecil seperti ini ... Dan lagi, menghindari seranganku yang selanjutnya dengan cara meloncat sejauh itu, apa rasa takutmu itu tidak terlalu berlebihan?"
"I-Ini, ini pertama kalinya Koro-sensei terluka akibat serangan siswa." pikir Nagisa.
"Kudengar kamu dipanggil Koro-sensei karena tak bisa dibunuh. Tapi, apa-apaan ini, sensei? Apa jangan-jangan sebenarnya kau hanyalah target yang mudah?" Karma benar-benar merendahkan Koro-sensei.
"Nagisa, aku belum lama masuk ke kelas E, orang seperti apa dia itu?" salah seorang teman bertanya pada Nagisa. kemudian, ia menjelaskan, "Itu, kami sekelas saat kelas satu dan dua. Tapi, kemudian ia diskorsing karena melakukan tindakan yang terlalu kejam. Dan juga, dia ditaruh di kelas E. Tapi, di situasi seperti sekarang, dia mungkin akan dianggap sebagai murid kehormatan."
"Eh?"
"Untuk dasar seperti menyembunyikan senjata, serangan diam-diam, dan permainan yang licik, dialah ahlinya." jelas Nagisa.
Ancaman yang berbahaya telah muncul. Akankah eksistensi guru yang tidak bisa dibunuh bertahan lama? "Jangan lari sekarang, Koro-sensei, tunjukkan padaku arti untuk dibunuh."
Bersambung ke Assasination Classroom Chapter 5
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
"Satu, dua, tiga!!" terdengar teriakan anak-anak kelas E yang sedang menjalani kelas olah raga. "Empat, lima, enam, tujuh, delapan!!" teriakan mereka terdengar begitu bersemangat.
Dari sisi lapangan, Koro-sensei melihat mereka sambil tersenyum. "Berteriak penuh semangat di lapangan olah raga pada hari cerah begini, damai sekali ..." ucapnya. "Kalau saja mereka tidak membawa senjata ..."
Jam olah raga dipegang oleh Karasuma, yang mengajari murid-murid cara menggunakan pisau yang benar. "Ayunkan pisau kalian delapan kali tanpa keraguan!! Tak peduli bagaimana cara kalian berdiri, jangan sampai kehilangan keseimbangan!!" perintahnya.
"Sudah ku bilang kan agar kau pergi ke tempat lain saja selama aku mengajar." ucap Karasuma ke Koro-sensei, "Mulai sekarang, akulah yang bertanggung jawab untuk pelajaran olah raga. Hah, tapi meskipun kuberitahu begitu, kau tak akan menurutinya, kan? Pergi saja ke bak pasir itu agar kau tidak bosan."
"Kau kejam sekali ...
Karasuma-sa ... Karasuma-senpai." akhirnya Koro-sensei mau menghabiskan waktu di bak pasir. "Kau tahu, para murid menyukai olah raga saat aku yang mengajarnya lho." ucapnya.
"Jangan berbohong, Koro-sensei." ucap salah seorang murid.
"Kemampuan fisikmu itu sangat berbeda dengan kami. Contohnya, waktu itu ..."
Saat itu, Koro-sensei sedang mengajar pelajaran olah raga. "Ayo coba melompat dari satu sisi ke sisi lainnya. Pertama-tama, aku akan memberi kalian contoh." Koro-sensei bergerak begitu cepat dari satu garis ke garis lainnya dengan cepat hingga dirinya seperti ada tiga, saking cepatnya. Dan sambil melakukan itu, Koro-sensei membuat bentuk dari karet gelang.
"Kita akan mulai dari dasar penggandaan bayangan. Dan kalau kalian semua sudah bisa melakukannya, kita akan menambahkan teknik ayunan kucing agar lebih sulit."
"Kau pikir kami bisa melakukannya, hah!?" bentak para murid.
"Kita memang benar-benar berada di dimensi yang berbeda darinya." ucap siswa.
"Hah, aku ingin diajari guru olah raga manusia saja." ucap siswa lainnya.
Koro-sensei murung, kembali ke pojokkan bak pasir.
"Akhirnya kita berhasil menjauhkan target, ayo lanjutkan pelajarannya." ucap Karasuma.
"Tapi, Karasuma-sensei! Apa latihan semacam ini ada gunanya?" tanya seorang siswa. "Dan lagi, melakukannya tepat di depan target itu sendiri ..."
"Membunuh itu sama dengan pelajaran" jelas Karasuma. "Semakin mahirnya kalian ditentukan oleh dasar yang kalian kuasai. Sebagai contoh ... Isogai-kun, Maehara-kun, coba serang aku dengan pisau itu." pinta Karasuma.
"Eeeh? Apa kau yakin??"
"Kami berdua??"
"Pisau itu tak akan melukai manusia, jadi tenang saja. Kalau kalian bisa mengenaiku, aku akan mengakhiri pelajaran hari ini." ucap Karasuma.
"Umm .."
"Kalau begitu ..."
Merekapun melakukannya. Isogai menebaskan pisau yang dibawanya ke Karasuma. Akan tetapi, dengan mudah lelaki itu menghindarinya. Maehara melanjutkan serangan. Namun sama seperti temannya tadi, serangan anak itu juga bisa dihindari. Mereka berdua lalu menyerang secara bersamaan, dan tetap saja Karasuma mampu menghindari semuanya.
"Dengan dasar kemampuan kalian yang levelnya hanya segini, aku akan mampu menangani serangan kalian dengan mudah."
"Sial!!!" mereka berdua terus berusaha. Tapi kemudian, Karasuma mencengkram kedua tangan mereka dan lalu membantingnya.
"Apa kalian sudah mengerti sekarang? Dengan dasar yang lemah, kalian bahkan tak akan bisa mengenaiku. Jadi, kemungkinan untuk bisa melawan seseorang dengan kecepatan Mach 20 akan jadi mustahil" jelas Karasuma.
"Coba lihat mahluk itu." Karasuma menunjuk Koro-sensei, "Sementara kita melakukan hal barusan, dia sudah membangun kastil Osaka dari pasir dan bahkan sudah mengenakan pakaian untuk upacara teh."
Begitu cepat. Kalau mengenai manusia biasa saja tak bisa, apalagi mahluk secepat itu.
"Kalau semuanya sampai di level yang sudah bisa mengenaiku, maka setidaknya kemungkinan kalian bisa membunuhnya akan meningkat. Ada banyak teknik dasar dalam membunuh seperti menggunakan pisau atau menembak. Selama pelajaran olah raga, aku akan mengajari kalian." ucap Karsuma.
Jam pelajaran berakhir, dan murid-murid bubar. Sambil berjalan, beberapa siswi membicarakan Karasuma. "Karasuma-sensei agak menakutkan ya, tapi keren."
"Ya, kalau saja aku bisa mengenainya, mungkin dia akan menepuk kepalaku." ucap mereka.
"Huhu, Karsuma-sensei, apa kamu datang ke sini sengaja untuk mengambil popularitasku??" Koro-sensei menggigit tisu. "Jangan aneh-aneh." ucap Karsuma.
"Kalau sekolah bisa menambahkan guru ke kelas E untuk pelajaran tertentu, aku percaya pasti ada kondisi khusus dalam kontrak mengajarmu."
Tap!!! Tembakan pisau mengarah ke kepala Koro-sensei, dan ternyata yang melesatkannya adalah Karsuma. Akan tetapi, Koro-sensei cepat menghindar hingga pisau itu malah mengenai kayu yang ada di belakangnya. "Misiku adalah untuk mengawasi anak-anak pembunuh ini." ucap Karsuma. "Yang tujuannya adalah untuk membunuh kau."
"Aku bukan 'mahluk itu' atau 'kau', tolong panggil aku dengan sebutan Koro-sensei, nama yang telah diberikan oleh murid-muridku." ucap Koro-sensei.
Di sisi lain, Sugino dan Nagisa ...
"Ah, jam keenam nanti kita ada kuis ya ..."
"Bukannya tadi kau yang ingin jam olah raga cepat berakhir?" ucap Nagisa.
Mereka berdua sedang berjalan untuk menuju ruang ganti. Akan tetapi, tiba-tiba Nagisa melihat seseorang berdiri di depan ruang kelas E, seorang siswa yang melihat tersenyum ke arah mereka sambil meminum minuman kotak.
"Karma-kun ... Kau sudah kembali?"
"Yah, sudah lama ya, Nagisa." ucap orang itu. Karma, Akabane Karma adalah siswa bermasalah yang selama ini diskorsing karena kasus tertentu. Dan kali ini, ia kembali, dengan senyum yang terlihat ramah.
"Woah, jadi itu Koro-sensei yang selalu dibicarakan, ya? keren, dia benar-benar mirip gurita." Karma berlari menghampiri Koro-sensei.
"Kau pasti Akabane Karma-kun, kan? Aku dengan skorsingmu berakhir hari ini. Tapi, huh, terlambat di hari pertama?" warna kepala Koro-sensei berubah pertanda ia marah. "Aah, aku hanya belum terbiasa untuk kembali ke kehidupan sekolah ini." ucap Karma.
"Dan, akan lebih santai kalau kau memanggilku dengan nama awal saja. Ngomong-ngomong, senang bertemu denganmu, sensei." Karma mengulurkan telapak tangannya. "Sama-sama, mari kita nikmati tahun yang menarik dan mengasyikkan." Koro-sensei menjabat tangan Karma. Tapi tiba-tiba, Karma mencengkram telapak tangan Koro-sensei hingga hancur. Masih dalam keadaan kaget, Karma kembali menyerang dengan pisau yang ia sembunyikan di balik lengan bajunya. Namun untungnya, Koro-sensei berhasil menghindar, meloncat jauh ke belakang.
Para siswa kaget melihat kejadian tadi.
"Huh, ternyata kau memang cepat ya. Dan, pisau ini ternyata memang benar-benar mempan padamu." di telapak tangan Karma, ternyata terdapat potongan-potongan kecil pisau itu. "Aku memotong kecil-kecil pisau ini dan menempelkannya di telapak tanganku. Tapi, sensei, aku tak menyangka kau akan tertipu hanya dengan trik kecil seperti ini ... Dan lagi, menghindari seranganku yang selanjutnya dengan cara meloncat sejauh itu, apa rasa takutmu itu tidak terlalu berlebihan?"
"I-Ini, ini pertama kalinya Koro-sensei terluka akibat serangan siswa." pikir Nagisa.
"Kudengar kamu dipanggil Koro-sensei karena tak bisa dibunuh. Tapi, apa-apaan ini, sensei? Apa jangan-jangan sebenarnya kau hanyalah target yang mudah?" Karma benar-benar merendahkan Koro-sensei.
"Nagisa, aku belum lama masuk ke kelas E, orang seperti apa dia itu?" salah seorang teman bertanya pada Nagisa. kemudian, ia menjelaskan, "Itu, kami sekelas saat kelas satu dan dua. Tapi, kemudian ia diskorsing karena melakukan tindakan yang terlalu kejam. Dan juga, dia ditaruh di kelas E. Tapi, di situasi seperti sekarang, dia mungkin akan dianggap sebagai murid kehormatan."
"Eh?"
"Untuk dasar seperti menyembunyikan senjata, serangan diam-diam, dan permainan yang licik, dialah ahlinya." jelas Nagisa.
Ancaman yang berbahaya telah muncul. Akankah eksistensi guru yang tidak bisa dibunuh bertahan lama? "Jangan lari sekarang, Koro-sensei, tunjukkan padaku arti untuk dibunuh."
Bersambung ke Assasination Classroom Chapter 5
Comments
Post a Comment