Sebelumnya : Dragon Ball Z Kai Episode 201
Saat itu, hari sudah benar-benar gelap. Tapi di kamarnya, Gohan masih terjaga dengan mengenakan pakaian Great Saiyaman. Ia melihat dirinya sendiri di cermin, sambil berlatih memperkenalkan diri ala pahlawan. "Akulah pahlawan pembela kebenaran, Great Saiyaman!" ucap Gohan sambil bergaya.
Akan tetapi, gaya tadi masih belum membuat Gohan puas, "Sepertinya gaya tadi kurang keren. Pahlawan yang hebat harus punya gaya yang lebih keren lagi." ucapnya. Sementara dari samping, adiknya terus memberi semangat, "Semangat ya, kakak."
"Hmmm, bagaimana kalau begini?" Son Gohan kembali mempersiapkan sebuah gaya. "Langit dan Bumi berteriak, orang-orang dan semuanya bersorak, berseru memberi perintah padaku untuk membasmi kejahatan. Tak bisakah kalian melihat helm yang keren ini? Akulah yang terkuat, tak terkalahkan, pahlawan keadilan, Great Saiyaman!!!" ucap Gohan disertai dengan bayangan seolah-olah terjadi ledakan di belakangnya. "Mantap!"
"Kakak, kau keren sekali!!!" ucap Goten. Dan dengan ini, selesai sudah latihan Gohan. Seseorang membuka pintu kamarnya, dan ternyata itu adalah Chichi. "Apa kau sudah selesai, Gohan? Sekarang sudah malam, kalau tak segera tidur bisa-bisa kau terlambat."
"Ya bu, setelah ini aku akan segera tidur." ucap Gohan. "Lagipula ibu tenang saja, besok aku akan bangun pagi-pagi sekali." lanjutnya. Tapi keesokan harinya, ternyata ia bangun kesiangan, "Aaaah!! Aku terlambat!!!" teriak Gohan.
Ia buru-buru, mengambil tas dan buku, berubah ke mode Great Saiyaman, dan kemudian terbang menuju ke sekolah dengan kecepatan penuh. "Aku harus cepat, bisa-bisa aku terlambat, gawat!!" ucapnya di perjalanan. Sampai kemudian, ia mendarat di atap sekolah tepat saat bel jam pelajaran berbunyi. Gohan mendarat, dan buru-buru kembali ke mode pakaian biasa.
Dari mode Great Saiyaman, ia berubah ke mode biasa tanpa melihat sekitar. Hingga kemudian, ia baru sadar kalau di depannya, terdapat seorang siswi yang sedang melihat ke arahnya.
Sejenak Gohan terdiam, tersenyum seadanya dan buru-buru meninggalkan tempat itu. "Dia melihat aku berubah, dia tahu kalau aku adalah Great Saiyaman, ini benar-benar gawat!!" ucap Gohan. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur dan lagi dirinya terburu-buru. Gohan langsung pergi begitu saja menuju kelas.
Di atap, gadis tadi masih diam berdiri, dengan pipi yang memerah. Entah karena kagum, terpesona, atau mungkin dirinya jatuh cinta saat tahu siapa Gohan yang sebenarnya.
Di kelas, Gohan masih terlihat panik. Kepanikannya ini sampai membuat Sharpener bertanya, "Kenapa kau tampak khawatir begitu? Gurunya belum datang, kan?"
"Itu ..." Gohan tak menjawab apa-apa. Seseorang membuka pintu, dan ternyata yang masuk adalah gadis tadi, gadis yang memergoki Gohan. Tanpa Gohan sadari, ternyata ia adalah teman sekelasnya. Gohan semakin panik, apalagi setelah gadis itu memandang ke arahnya dengan tatapan yang berbinar.
Sepanjang pelajaran, Gohan menjadi tidak fokus. Bahkan saat pak guru menunjuknya untuk membaca materi selanjutnya, pemuda itu masih melamun. "Son Gohan? Ehm?"
Gohan masih saja terdiam panik, "Apa yang harus kulakukan? Dia pasti melihatku." pikirnya. "Bagaimana kalau ia sampai mengatakannya pada orang lain?"
"Son Gohan!!!" pak guru menghampiri Son Gohan.
"Uwaa!!!!" Gohan kaget, lamunannya terpecah. Pak guru kesal, kemudian ia memberi Son Gohan hukuman, "Gohan-kun, keluar dan berdirilah di lorong!" bentaknya.
"Ba-baik!" Dengan terpaksa Gohanpun keluar. Melihat Gohan diusir seperti itu, gadis tadi terlihat kasihan. Sepanjang pelajaran, sementara Gohan berdiri sambil membawa dua ember air di luar, gadis itu mengambar wajah Gohan di buku tulisnya. Kelihatannya, gadis itu benar-benar menyukai Son Gohan. Saat gilirannya, saat pak guru memanggil-manggil namanya, "Angela, Angela!?"
Selanjutnya : Dragon Ball Z Episode 202 Bagian 2
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
Saat itu, hari sudah benar-benar gelap. Tapi di kamarnya, Gohan masih terjaga dengan mengenakan pakaian Great Saiyaman. Ia melihat dirinya sendiri di cermin, sambil berlatih memperkenalkan diri ala pahlawan. "Akulah pahlawan pembela kebenaran, Great Saiyaman!" ucap Gohan sambil bergaya.
Akan tetapi, gaya tadi masih belum membuat Gohan puas, "Sepertinya gaya tadi kurang keren. Pahlawan yang hebat harus punya gaya yang lebih keren lagi." ucapnya. Sementara dari samping, adiknya terus memberi semangat, "Semangat ya, kakak."
"Hmmm, bagaimana kalau begini?" Son Gohan kembali mempersiapkan sebuah gaya. "Langit dan Bumi berteriak, orang-orang dan semuanya bersorak, berseru memberi perintah padaku untuk membasmi kejahatan. Tak bisakah kalian melihat helm yang keren ini? Akulah yang terkuat, tak terkalahkan, pahlawan keadilan, Great Saiyaman!!!" ucap Gohan disertai dengan bayangan seolah-olah terjadi ledakan di belakangnya. "Mantap!"
"Kakak, kau keren sekali!!!" ucap Goten. Dan dengan ini, selesai sudah latihan Gohan. Seseorang membuka pintu kamarnya, dan ternyata itu adalah Chichi. "Apa kau sudah selesai, Gohan? Sekarang sudah malam, kalau tak segera tidur bisa-bisa kau terlambat."
"Ya bu, setelah ini aku akan segera tidur." ucap Gohan. "Lagipula ibu tenang saja, besok aku akan bangun pagi-pagi sekali." lanjutnya. Tapi keesokan harinya, ternyata ia bangun kesiangan, "Aaaah!! Aku terlambat!!!" teriak Gohan.
Ia buru-buru, mengambil tas dan buku, berubah ke mode Great Saiyaman, dan kemudian terbang menuju ke sekolah dengan kecepatan penuh. "Aku harus cepat, bisa-bisa aku terlambat, gawat!!" ucapnya di perjalanan. Sampai kemudian, ia mendarat di atap sekolah tepat saat bel jam pelajaran berbunyi. Gohan mendarat, dan buru-buru kembali ke mode pakaian biasa.
Dari mode Great Saiyaman, ia berubah ke mode biasa tanpa melihat sekitar. Hingga kemudian, ia baru sadar kalau di depannya, terdapat seorang siswi yang sedang melihat ke arahnya.
Sejenak Gohan terdiam, tersenyum seadanya dan buru-buru meninggalkan tempat itu. "Dia melihat aku berubah, dia tahu kalau aku adalah Great Saiyaman, ini benar-benar gawat!!" ucap Gohan. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur dan lagi dirinya terburu-buru. Gohan langsung pergi begitu saja menuju kelas.
Di atap, gadis tadi masih diam berdiri, dengan pipi yang memerah. Entah karena kagum, terpesona, atau mungkin dirinya jatuh cinta saat tahu siapa Gohan yang sebenarnya.
Di kelas, Gohan masih terlihat panik. Kepanikannya ini sampai membuat Sharpener bertanya, "Kenapa kau tampak khawatir begitu? Gurunya belum datang, kan?"
"Itu ..." Gohan tak menjawab apa-apa. Seseorang membuka pintu, dan ternyata yang masuk adalah gadis tadi, gadis yang memergoki Gohan. Tanpa Gohan sadari, ternyata ia adalah teman sekelasnya. Gohan semakin panik, apalagi setelah gadis itu memandang ke arahnya dengan tatapan yang berbinar.
Sepanjang pelajaran, Gohan menjadi tidak fokus. Bahkan saat pak guru menunjuknya untuk membaca materi selanjutnya, pemuda itu masih melamun. "Son Gohan? Ehm?"
Gohan masih saja terdiam panik, "Apa yang harus kulakukan? Dia pasti melihatku." pikirnya. "Bagaimana kalau ia sampai mengatakannya pada orang lain?"
"Son Gohan!!!" pak guru menghampiri Son Gohan.
"Uwaa!!!!" Gohan kaget, lamunannya terpecah. Pak guru kesal, kemudian ia memberi Son Gohan hukuman, "Gohan-kun, keluar dan berdirilah di lorong!" bentaknya.
"Ba-baik!" Dengan terpaksa Gohanpun keluar. Melihat Gohan diusir seperti itu, gadis tadi terlihat kasihan. Sepanjang pelajaran, sementara Gohan berdiri sambil membawa dua ember air di luar, gadis itu mengambar wajah Gohan di buku tulisnya. Kelihatannya, gadis itu benar-benar menyukai Son Gohan. Saat gilirannya, saat pak guru memanggil-manggil namanya, "Angela, Angela!?"
Selanjutnya : Dragon Ball Z Episode 202 Bagian 2
Comments
Post a Comment