Sebelumnya : Hunter x Hunter Chapter 171
Dengan tampang yang lesu, seorang pemain keluar dari kartu toko sihir, Masadora. "Aah, sial, mendapatkan kartu Leave memang benar-benar sulit." gumamnya. Lelaki itu terus berjalan. Sampai kemudian, tiga orang pemain yang ternyata tak lain adalah kelompok Gensuru mencegatnya.
Kelompok Gensuru mengajaknya ke tengah hutan. Dan tanpa tahu apa-apa, pemain tersebut dihajar. Entah untuk alasan apa, kelompok Gensuru menyiksanya. "Ukhh, lepaskan aku, ampuni aku ..." ucap lelaki itu. Dirinya tergeletak di tanah, wajahnya memarh, dan yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah memohon.
"Biarkan kami melihat isi buku penyimpananmu!" ucap Gensuru. Dengan terpaksa pemain tadi menyerahkannya, dan salah seorang anggota kelompok Gensurupun mengeceknya. "Oh, orang ini punya kartu Accompany!" ucap Sabu. "Bagus, ambil semua kartu di atas level C!" perintah Gensuru.
"Ya, aku mengerti." ucap Sabu. "Lalu setelahnya, kita akan memasukkan kartu Steal di slot terakhirnya." orang itu mengaktifkan kartu steal. Bukan untuk mencuri kartu pemain lain, melainkan sekedar untuk melihat daftar nama-nama pemain yang pernah ia temui.
"Aah, tak ada namanya di daftar."
"Berarti kita bisa menggunakan orang ini."
"Hei, apa kau tahu sesuatu mengenai bomber?" Gensuru menyentuh kepala orang itu. "Y-ya, aku pernah mendengarnya." ucap orang itu, dengan wajah yang masih tampak memar. "Baguslah kalau kau tahu, kamilah para bomber itu." ucap Gensuru.
"Aku sudah menaruh bom di kepalamu. Kami bisa membunuhmu kapan saja. Kalau kau tak mau mati, bawakan kami kartu yang kami inginkan, satu Magnetic Force, atau dua Accompany, berikan kami salah satu dari mereka maka kami akan menghilangkan bomnya. Kalau kau sudah mendapatkannya, kau bisa menghubungi kami dengan contact, mengerti?"
"A-aku mengerti." ucap orang itu dan kemudian iapun dipersilakan untuk pergi. "Baik, selanjutnya ..." Gensuru dkk kembali mengulangi hal yang sama pada pemain lain yang keluar dari toko kartu sihir itu. Sama seperti tadi, Gensuru menghajar orang yang baru saja keluar dari toko, dan memintanya untuk menunjukkan buku penyimpanannya. "Perlihatkan buku penyimpananmu pada kami!"
"Ba-baik ..." ucap orang itu dengan terpaksa.
"Ah, kita mendapat kartu Accompany lagi." ucap Sabu, "Selanjutnya ayo gunakan Steal." ucap Sabu. Merekapun menggunakannya, dan melihat nama-nama di daftar orang yang pernah lelaki itu temui. Dan, terlihat nama Tsezugera di sana ...
"Aah, sayang sekali ..." ucap Gensuru. "Kau didiskualifikasi!!!" ucap mereka bertiga serempak. "Eeh? A-apa maksudnya??" Lelaki itu tak mengerti sama sekali, dan tanpa bisa melawan ia langsung diledakkan. "Ledakkan semua orang yang kelihatannya mencurigakan." ucap Gensuru. Dan selanjutnya, mereka kembali melanjutkan hal seperti tadi.
Dari jauh, ternyata Goreinu mengamati. Goreinu memata-matai tindakkan mereka. "Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?" pikirnya. Kemudian, lelaki itu melapor pada Tsezugera menggunakan Contact. "Mereka terus menunggu di luar Toko kartu, dan kemudian menangkap pemain yang keluar dari toko itu. Ini hanya perkiraanku, tapi kurasa mereka telah mengetahui tentangku. Mereka tahu kalau ada anggota baru di kelompokmu. Untuk bisa menemukanku, mereka menginterogasi semua orang yang keluar dari sana, dan membunuh siapa saja yang pernah bertemu denganmu." jelas Goreinu.
"Selain itu, mereka juga mengambil kartu milik orang-orang yang mereka tangkap. Kurasa yang mereka cari adalah kartu Accompany dan Magnetic Force. Mereka juga memaksa pemain yang tidak tahu apa-apa mengumpulkan kartu untuk mereka. Menurunkan tersangka, mendapatkan kartu, dan menghabiskan sumber pasokan kita, ini seperti membunuh tiga burung dengan satu batu. Kalau saja tak ada yang memperingatkanku, mungkin aku sudah mati sekarang."
"Hmm, gerakkan mereka berdasarkan tindakkan kita. Bagaimana kalau kau meninggalkan tempatmu sekarang dan menunggu pergerakkan selanjutnya?" ucap Tsezugera. Kemudian setelah Contact terputus, ia memberi perintah pada salah seorang anggotanya. "Dobu, gunakan itu."
"Baik!" Anggota Tsezugera bernama Dobu itu mengeluarkan suatu alat semacam radar. Serangga mata-mata, itulah kemampuan nennya. Pip pip, tampak posisi kelompok Gensuru tetap berada di sana. "Tampaknya mereka tak akan meninggalkan kota itu." ucap Dobu.
"Hmm, coba cek kartu mereka." perintah Tsezugera lagi. Kemudian, salah seorang anggotanya yang lain menggunakan kartu The All Seeing Snake., kartu nomor 96, dengan ranking A-12. Dengan ular dari kartu itu, mereka dapat menggunakan kartu Sightvision. Syaratnya mudah, yaitu cukup memberinya makan kartu ranking C ke atas.
Dengan Sightvision itu, mereka dapat melihat kartu yang kelompok Gensuru milikki. "Mereka bertiga mempunyai enam belas Accompany, dan dua Magnetic Force, mengejutkan. Sementara kita, kita memilikki dua puluh tujuh Accompany, dan dua Magnetic Force. Kalau keadaannya terus begini, mereka akan menangkap kita dalam waktu empat atau lima hari."
"Tapi, kita juga punya tiga puluh enam kartu Return, kan?"
"Tetap saja, mereka pasti sudah mewaspadai hal tersebut."
"Tapi tenang, tindakkan mereka masih bisa dilihat." ucap Tsezugera, "Sampai mereka mengumpulkan cukup kartu, mereka tak akan bergerak dari lokasi itu. Semua berjalan dengan mulus, tinggal dua belas hari lagi."
Di tempat Gon, ia masih berlatih emisi. Gon memasang posisi dengan kedua kaki di atas, dan yang menopang tubuhnya hanyalah tangan kanan. Gon mengumpulkan aura, kemudian melepasnya untuk mengangkat diri, seperti yang Biscuit lakukan. Namun sama seperti sebelumnya, Gon masih belum bisa melakukan hal tersebut. "Aah, tidak bisa ..."
"Ini benar-benar susah." pikir Gon. Ia membaringkan dirinya di tanah, dan teringat akan penjelasan Biscuit. "Kau mengerti? Teorinya seperti pistol air. Simpan nen di dalam tubuhmu, lalu alirkan lewat telapak tanganmu. Makin banyak energi yang kau simpan, makin kuat tembakkan nen yang akan kau keluarkan. Kau harus membuka seluruh nenmu saat mengeluarkannya. Kau juga harus mengendalikan berapa banyak yang akan dikeluarkan. Kekuatan emisimu, kecepatannya, dan juga waktu. Kalau kau tak bisa mengendalikan semua itu, kau tak akan bisa memanfaatkan kekuatan serangannya."
"Huh, mengkonsentrasikan semua nen di telapak tangan ternyata benar-benar susah." pikir Gon lagi. Sementara itu dari jauh, Biscuit dan Killua mengawasinya. "Pasti dia sedang depresi sekarang." ucap Killua. "Itu karena dia belum bisa mengendalikan aura di tubuhnya." ucap Biscuit.
"Belum ada perkembangan selama sepuluh hari ini. Mungkin kau harus melatihnya dengan latihan level dua dulu." ucap Killua.
"Hmm, waktu kita masih panjang."
"Tapi ngomong-ngomong, aku masih belum nyaman dengan perjanjian kita dengan Tsezugera." ucap Killua. "Kalau kita memberi mereka kartu nomor 75, mereka hanya akan perlu mencari dua kartu lagi yang tersisa. Sedangkan, kita masih harus mengumpulkan sekitar tiga puluh kartu lagi."
Sambil ngobrol, Killua dan Biscuit berjalan menuju suatu tempat.
"Bagaimana kalau kita curi saja kartu dari kelompok Tsezugera?" saran Biscuit.
"Gon mana mau melakukan hal seperti itu." ucap Killua.
"Yah, kita harus fokus untuk mengalahkan Gensuru terlebih dahulu."
"Hmm, kau benar juga."
Merekapun sampai di sebuah tebing, tebing yang mana di sana terdapat sebuah batu raksasa, batu yang benar-benar besar. "Apa ini cukup?"
"Hmm, lumayan, tapi bolehlah" ucap Killua.
Di luar game, di luar Greed Island, kastil Batera, untuk suatu alasan, lelaki tua itu menangis. Entah kenapa, terlihat kalau ia benar-benar sedih.
Di sisi Gensuru, tampaknya kelompok mereka sudah siap. "Sekarang kita sudah punya empat puluh delapan Accompany. Accompany, Magnetic Force, dan Return yang mereka milikki kalau dijumlahkan hanya empat puluh lima. Mereka tak akan bisa lari dari kita." ucap Gensuru.
"Mari kita mulai, permainan petak umpet ini ..." Gensuru mengaktifkan kartu sihir, "Accompany, menuju Tsezugera!!"
"!!!" Dobu kaget saat melihat radarnya. "Mereka bergerak!!" ucapnya, "Mereka telah menuju ke tempat kita!!"
"Jadi sudah dimulai ya ..."
Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 173
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD
Dengan tampang yang lesu, seorang pemain keluar dari kartu toko sihir, Masadora. "Aah, sial, mendapatkan kartu Leave memang benar-benar sulit." gumamnya. Lelaki itu terus berjalan. Sampai kemudian, tiga orang pemain yang ternyata tak lain adalah kelompok Gensuru mencegatnya.
Kelompok Gensuru mengajaknya ke tengah hutan. Dan tanpa tahu apa-apa, pemain tersebut dihajar. Entah untuk alasan apa, kelompok Gensuru menyiksanya. "Ukhh, lepaskan aku, ampuni aku ..." ucap lelaki itu. Dirinya tergeletak di tanah, wajahnya memarh, dan yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah memohon.
"Biarkan kami melihat isi buku penyimpananmu!" ucap Gensuru. Dengan terpaksa pemain tadi menyerahkannya, dan salah seorang anggota kelompok Gensurupun mengeceknya. "Oh, orang ini punya kartu Accompany!" ucap Sabu. "Bagus, ambil semua kartu di atas level C!" perintah Gensuru.
"Ya, aku mengerti." ucap Sabu. "Lalu setelahnya, kita akan memasukkan kartu Steal di slot terakhirnya." orang itu mengaktifkan kartu steal. Bukan untuk mencuri kartu pemain lain, melainkan sekedar untuk melihat daftar nama-nama pemain yang pernah ia temui.
"Aah, tak ada namanya di daftar."
"Berarti kita bisa menggunakan orang ini."
"Hei, apa kau tahu sesuatu mengenai bomber?" Gensuru menyentuh kepala orang itu. "Y-ya, aku pernah mendengarnya." ucap orang itu, dengan wajah yang masih tampak memar. "Baguslah kalau kau tahu, kamilah para bomber itu." ucap Gensuru.
"Aku sudah menaruh bom di kepalamu. Kami bisa membunuhmu kapan saja. Kalau kau tak mau mati, bawakan kami kartu yang kami inginkan, satu Magnetic Force, atau dua Accompany, berikan kami salah satu dari mereka maka kami akan menghilangkan bomnya. Kalau kau sudah mendapatkannya, kau bisa menghubungi kami dengan contact, mengerti?"
"A-aku mengerti." ucap orang itu dan kemudian iapun dipersilakan untuk pergi. "Baik, selanjutnya ..." Gensuru dkk kembali mengulangi hal yang sama pada pemain lain yang keluar dari toko kartu sihir itu. Sama seperti tadi, Gensuru menghajar orang yang baru saja keluar dari toko, dan memintanya untuk menunjukkan buku penyimpanannya. "Perlihatkan buku penyimpananmu pada kami!"
"Ba-baik ..." ucap orang itu dengan terpaksa.
"Ah, kita mendapat kartu Accompany lagi." ucap Sabu, "Selanjutnya ayo gunakan Steal." ucap Sabu. Merekapun menggunakannya, dan melihat nama-nama di daftar orang yang pernah lelaki itu temui. Dan, terlihat nama Tsezugera di sana ...
"Aah, sayang sekali ..." ucap Gensuru. "Kau didiskualifikasi!!!" ucap mereka bertiga serempak. "Eeh? A-apa maksudnya??" Lelaki itu tak mengerti sama sekali, dan tanpa bisa melawan ia langsung diledakkan. "Ledakkan semua orang yang kelihatannya mencurigakan." ucap Gensuru. Dan selanjutnya, mereka kembali melanjutkan hal seperti tadi.
Dari jauh, ternyata Goreinu mengamati. Goreinu memata-matai tindakkan mereka. "Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?" pikirnya. Kemudian, lelaki itu melapor pada Tsezugera menggunakan Contact. "Mereka terus menunggu di luar Toko kartu, dan kemudian menangkap pemain yang keluar dari toko itu. Ini hanya perkiraanku, tapi kurasa mereka telah mengetahui tentangku. Mereka tahu kalau ada anggota baru di kelompokmu. Untuk bisa menemukanku, mereka menginterogasi semua orang yang keluar dari sana, dan membunuh siapa saja yang pernah bertemu denganmu." jelas Goreinu.
"Selain itu, mereka juga mengambil kartu milik orang-orang yang mereka tangkap. Kurasa yang mereka cari adalah kartu Accompany dan Magnetic Force. Mereka juga memaksa pemain yang tidak tahu apa-apa mengumpulkan kartu untuk mereka. Menurunkan tersangka, mendapatkan kartu, dan menghabiskan sumber pasokan kita, ini seperti membunuh tiga burung dengan satu batu. Kalau saja tak ada yang memperingatkanku, mungkin aku sudah mati sekarang."
"Hmm, gerakkan mereka berdasarkan tindakkan kita. Bagaimana kalau kau meninggalkan tempatmu sekarang dan menunggu pergerakkan selanjutnya?" ucap Tsezugera. Kemudian setelah Contact terputus, ia memberi perintah pada salah seorang anggotanya. "Dobu, gunakan itu."
"Baik!" Anggota Tsezugera bernama Dobu itu mengeluarkan suatu alat semacam radar. Serangga mata-mata, itulah kemampuan nennya. Pip pip, tampak posisi kelompok Gensuru tetap berada di sana. "Tampaknya mereka tak akan meninggalkan kota itu." ucap Dobu.
"Hmm, coba cek kartu mereka." perintah Tsezugera lagi. Kemudian, salah seorang anggotanya yang lain menggunakan kartu The All Seeing Snake., kartu nomor 96, dengan ranking A-12. Dengan ular dari kartu itu, mereka dapat menggunakan kartu Sightvision. Syaratnya mudah, yaitu cukup memberinya makan kartu ranking C ke atas.
Dengan Sightvision itu, mereka dapat melihat kartu yang kelompok Gensuru milikki. "Mereka bertiga mempunyai enam belas Accompany, dan dua Magnetic Force, mengejutkan. Sementara kita, kita memilikki dua puluh tujuh Accompany, dan dua Magnetic Force. Kalau keadaannya terus begini, mereka akan menangkap kita dalam waktu empat atau lima hari."
"Tapi, kita juga punya tiga puluh enam kartu Return, kan?"
"Tetap saja, mereka pasti sudah mewaspadai hal tersebut."
"Tapi tenang, tindakkan mereka masih bisa dilihat." ucap Tsezugera, "Sampai mereka mengumpulkan cukup kartu, mereka tak akan bergerak dari lokasi itu. Semua berjalan dengan mulus, tinggal dua belas hari lagi."
Di tempat Gon, ia masih berlatih emisi. Gon memasang posisi dengan kedua kaki di atas, dan yang menopang tubuhnya hanyalah tangan kanan. Gon mengumpulkan aura, kemudian melepasnya untuk mengangkat diri, seperti yang Biscuit lakukan. Namun sama seperti sebelumnya, Gon masih belum bisa melakukan hal tersebut. "Aah, tidak bisa ..."
"Ini benar-benar susah." pikir Gon. Ia membaringkan dirinya di tanah, dan teringat akan penjelasan Biscuit. "Kau mengerti? Teorinya seperti pistol air. Simpan nen di dalam tubuhmu, lalu alirkan lewat telapak tanganmu. Makin banyak energi yang kau simpan, makin kuat tembakkan nen yang akan kau keluarkan. Kau harus membuka seluruh nenmu saat mengeluarkannya. Kau juga harus mengendalikan berapa banyak yang akan dikeluarkan. Kekuatan emisimu, kecepatannya, dan juga waktu. Kalau kau tak bisa mengendalikan semua itu, kau tak akan bisa memanfaatkan kekuatan serangannya."
"Huh, mengkonsentrasikan semua nen di telapak tangan ternyata benar-benar susah." pikir Gon lagi. Sementara itu dari jauh, Biscuit dan Killua mengawasinya. "Pasti dia sedang depresi sekarang." ucap Killua. "Itu karena dia belum bisa mengendalikan aura di tubuhnya." ucap Biscuit.
"Belum ada perkembangan selama sepuluh hari ini. Mungkin kau harus melatihnya dengan latihan level dua dulu." ucap Killua.
"Hmm, waktu kita masih panjang."
"Tapi ngomong-ngomong, aku masih belum nyaman dengan perjanjian kita dengan Tsezugera." ucap Killua. "Kalau kita memberi mereka kartu nomor 75, mereka hanya akan perlu mencari dua kartu lagi yang tersisa. Sedangkan, kita masih harus mengumpulkan sekitar tiga puluh kartu lagi."
Sambil ngobrol, Killua dan Biscuit berjalan menuju suatu tempat.
"Bagaimana kalau kita curi saja kartu dari kelompok Tsezugera?" saran Biscuit.
"Gon mana mau melakukan hal seperti itu." ucap Killua.
"Yah, kita harus fokus untuk mengalahkan Gensuru terlebih dahulu."
"Hmm, kau benar juga."
Merekapun sampai di sebuah tebing, tebing yang mana di sana terdapat sebuah batu raksasa, batu yang benar-benar besar. "Apa ini cukup?"
"Hmm, lumayan, tapi bolehlah" ucap Killua.
Di luar game, di luar Greed Island, kastil Batera, untuk suatu alasan, lelaki tua itu menangis. Entah kenapa, terlihat kalau ia benar-benar sedih.
Di sisi Gensuru, tampaknya kelompok mereka sudah siap. "Sekarang kita sudah punya empat puluh delapan Accompany. Accompany, Magnetic Force, dan Return yang mereka milikki kalau dijumlahkan hanya empat puluh lima. Mereka tak akan bisa lari dari kita." ucap Gensuru.
"Mari kita mulai, permainan petak umpet ini ..." Gensuru mengaktifkan kartu sihir, "Accompany, menuju Tsezugera!!"
"!!!" Dobu kaget saat melihat radarnya. "Mereka bergerak!!" ucapnya, "Mereka telah menuju ke tempat kita!!"
"Jadi sudah dimulai ya ..."
Bersambung ke Hunter x Hunter Chapter 173
Comments
Post a Comment